logo

Gagasan

Komunitas Suku Sastra Yogyakarta Gelar Lokakarya Penulisan tentang Disabilitas

03 September, 2026 20:47 WIB
Komunitas Suku Sastra Yogyakarta Gelar Lokakarya Penulisan tentang Disabilitas
Komunitas Suku Sastra Yogyakarta menggelar lokakarya penulisan bagi keluarga muda dengan anak penyandang disabilitas. Lokakarya diselenggarakan di kantor DPD DIY, mulai Rabu (2/9/2026) dan dijadwalkan sampai akhir September 2026. Melalui kegiatan ini, diharapkan para orang tua mampu berbagi pengalaman melalui tulisan sebagai penguatan literasi tentang disabilitas bagi masyarakat umum. (EDUWARA/Dok. Komunitas Suku Sastra Yogyakarta)

Eduwara.com, JOGJA - Komunitas Suku Sastra Yogyakarta menggelar lokakarya penulisan bagi keluarga muda dengan anak penyandang disabilitas selama sebulan penuh. Harapannya, para orang tua mampu berbagi pengalaman melalui tulisan sebagai penguatan literasi bagi masyarakat umum terkait disabilitas.

Diselenggarakan di kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), lokakarya dilaksanakan mulai Rabu (2/9/2026) dan dijadwalkan sampai akhir September 2026.

Ketua Suku Sastra, Fairuzul Mumtaz, menjelaskan lokakarya didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dalam Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra. Program ini juga terselenggara atas kerja sama dengan Komunitas Bawayang.

“Selama satu bulan, para orang tua akan didampingi untuk menulis karya sastra dan akan dibukukan. Ini menjadi hal penting, selain untuk penguatan literasi bagi masyarakat umum terkait disabilitas, juga menyumbangkan narasi-narasi baru bagi khazanah karya sastra Indonesia,” kata Fairuz, Kamis (3/9/2026).

Fairuz memberikan penekanan khusus tentang pentingnya mendokumentasikan dan menuliskan pengalaman nyata yang dialami oleh keluarga. Langkah menulis ini dinilai krusial untuk menghilangkan stigma negatif di masyarakat terkait literasi disabilitas yang saat ini masih sangat kurang.

Melalui catatan dan kisah pengalaman tersebut, masyarakat luas diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang benar tentang bagaimana memperlakukan penyandang disabilitas secara manusiawi.

“Dengan membaca tulisan Bapak-Ibu semua, masyarakat akan paham, ‘Oh, caranya begini. Pengalaman Bapak Ibu begini.’ Mungkin ini menjadi salah satu alternatif cara dalam memperlakukan anak disabilitas,” jelasnya.

Melalui penulisan pengalaman nyata oleh para orang tua, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami cara penanganan, perlakuan, dan empati yang tepat, sehingga stigma yang melekat pada penyandang disabilitas dapat dikikis secara bertahap.

“Stigma negatif ini berkaitan dengan masih kurangnya literasi mengenai disabilitas,” tegasnya.

Sinergi

Apresiasi penuh diberikan anggota DPD RI asal Yogyakarta, Hilmy Muhammad. Lokakarya ini, menurut Hilmy, mampu melibatkan sinergi dari banyak pihak yang luar biasa.

“Esensi dari memuliakan manusia adalah menempatkan sesama manusia dalam keadaan setara, menjamin berlakunya hak asasi mereka, serta menghindarkan segala bentuk kesewenangan dan perlakuan aniaya di antara sesame,” jelasnya.

Kepada para orang tua yang hadir, salah satu salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta tersebut berpesan agar senantiasa berjiwa besar dalam menerima takdir, yang dimaknai sebagai pengetahuan mendalam atas ilmu, kehendak, dan penciptaan Allah.

“Kalau kemudian ada di antara kita diberikan putra atau turunan yang dalam keadaan difabel, maka itu semua adalah ujian. Di sisi lain, juga merupakan anugerah. Tugas kita adalah menerima takdir itu," katanya. 

Hilmy juga mengutip ungkapan penyair, ‘Bila Anda rela dengan apa yang menjadi ketentuan Allah, maka Anda akan merasa nyaman menjalani hidup. Sebaliknya, bila Anda tidak rela dengan apa yang sudah dibagi oleh Allah, Anda justru akan merasa hidup Anda senantiasa dalam kesusahan’.

Pelatihan ini diharapkan dapat menekankan pentingnya memberikan pemahaman kepada anak tentang bagaimana menyikapi takdir itu. Terutama dalam menghadapi bullying dari teman-temannya.

Orang tua juga penting untuk memahamkan takdir tersebut kepada anak, bagaimana menyikapi ini, di antaranya dengan cara menyalurkan apa yang dirasakan secara positif tanpa perlu membanding-bandingkan kondisi anak dengan yang lain.

Read Next