Kampus
29 Juli, 2026 20:16 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Memasuki dua bulan masa kepemimpinan sebagai Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Hari Purnomo langsung mengakselerasi berbagai program strategis untuk memperkuat daya saing kampus di tengah perubahan dunia pendidikan tinggi yang berlangsung semakin cepat.
Salah satu fokus utama yang diusung adalah percepatan hilirisasi hasil riset dan inovasi dengan target menghasilkan 100 hak paten setiap tahun sebagai fondasi penguatan sumber daya keuangan dan keberlanjutan universitas.
Komitmen tersebut disampaikan Hari Purnomo dalam pertemuan perdana bersama awak media di Kampus UII, Rabu (29/7/2026). Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi, Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan Riyanto serta Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Keberlanjutan Rifqi Muhammad.
"Efektif memasuki bulan kedua, kami sudah menyusun berbagai program percepatan sebagai arah pengembangan UII selama periode kepemimpinan 2026-2030," kata Hari.
Hari menjelaskan, kepemimpinannya bertumpu pada lima pilar percepatan. Pilar pertama, yakni bidang akademik, rekognisi, dan admisi. Pilar kedua, bidang keuangan, sumber daya, dan keberlanjutan. Pilang ketiga, bidang riset, inovasi, dan kewirausahaan.
Selanjutnya, pilar keempat, bidang kemahasiswaan, keislaman, dan kealumnian. Pilar kelima, bidang kemitraan dan komunikasi strategis. Seluruh pilar tersebut dirancang secara terintegrasi agar mampu memperkuat posisi UII di tengah kompetisi perguruan tinggi yang semakin ketat.
Selain percepatan program, lanjut Hari, UII juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui percepatan jabatan fungsional dosen, rekognisi akademik, akreditasi, hingga penguatan kerja sama dan inovasi.
"Kami mengawal seluruh program percepatan ini agar UII terus tumbuh dan berkembang serta mampu menjawab tantangan pendidikan tinggi ke depan," katanya.
Hari mengakui perguruan tinggi swasta kini menghadapi tantangan semakin ketatnya persaingan dengan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), terutama dalam perekrutan mahasiswa baru. Pada tahun akademik 2026/2027, UII berhasil menerima sekitar 6.000 mahasiswa baru. Untuk menjaga tren tersebut, UII tidak hanya mengandalkan promosi konvensional, tetapi juga mengaktifkan jaringan alumni melalui 13 titik layanan informasi di berbagai daerah di Indonesia.
Selain itu, UII menggandeng guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah-sekolah untuk memperkenalkan program studi dan berbagai keunggulan kampus kepada calon mahasiswa. Penguatan promosi digital juga terus dilakukan.
"Kami memahami persaingan dengan PTN-BH semakin mempersempit ruang perguruan tinggi swasta. Karena itu strategi promosi harus semakin kreatif dan kolaboratif," katanya.
Kemitraan
Pada sisi lain, UII mulai memperluas kemitraan dengan sejumlah pemerintah daerah. Kerja sama beasiswa telah dijalin dengan Pemerintah Kabupaten Sleman, Temanggung, dan Kota Pekalongan, untuk mendukung putra-putri daerah menempuh pendidikan di UII.
Sedangkan, kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bantul dan Ngawi difokuskan pada penguatan jejaring serta penyelarasan potensi akademik kampus dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Bidang riset dan inovasi juga menjadi salah satu perhatian utama kepemimpinan baru UII. Hari menilai selama ini banyak hasil penelitian yang memiliki kualitas tinggi, namun belum sepenuhnya mampu menembus dunia industri.
Menurut Hari, sejumlah inovasi dari Fakultas Teknologi Industri, khususnya Program Studi Teknik Elektro, telah berhasil memasuki tahap hilirisasi, termasuk produksi massal alat kesehatan. Selain itu, berbagai produk hasil penelitian seperti skincare berbahan alami dan minyak atsiri juga tengah dipersiapkan untuk dikomersialkan melalui kerja sama dengan industri.
"Kami ingin karya-karya yang lahir di kampus benar-benar masuk ke dunia industri dan dimanfaatkan masyarakat. Tahun ini, kami menargetkan sekitar 100 paten,” paparnya.
Pelatihan penyusunan paten, lanjut Hari, terus dilakukan agar inovasi dosen dan mahasiswa memiliki perlindungan hukum sekaligus peluang komersialisasi. Keberadaan HKI Corner akan menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung percepatan perlindungan kekayaan intelektual sekaligus hilirisasi hasil riset.
Hari menambahkan, tantangan berikutnya adalah memperkuat unit-unit bisnis kampus agar mampu menjadi wadah komersialisasi berbagai inovasi yang dihasilkan sivitas akademika.
Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Keberlanjutan, Rifqi Muhammad, mengatakan keberlanjutan finansial menjadi salah satu prioritas utama kepemimpinan baru UII. Menurutnya, perguruan tinggi swasta tidak dapat lagi hanya bergantung pada pendapatan dari biaya pendidikan mahasiswa. Karena itu, UII tengah menyusun berbagai strategi diversifikasi pendanaan.
"Kami ingin memastikan UII memiliki sumber keuangan yang lebih beragam. Kami mendorong pengembangan unit usaha, memperkuat kontribusi yayasan, serta membuka peluang pendanaan dari berbagai mitra strategis," ujarnya.
UII juga mulai menggagas pembentukan dana abadi (endowment fund) sebagai sumber pembiayaan jangka panjang yang akan dimanfaatkan untuk memperluas program beasiswa mahasiswa.
"Inovasi ini akan melibatkan alumni maupun berbagai mitra yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pendidikan. Dalam empat tahun ke depan, kami berharap dana abadi dapat terkumpul hingga Rp 100 miliar," katanya.
Selain mendukung pembiayaan pendidikan, kontribusi alumni juga diharapkan semakin besar dalam pembangunan kampus. Rifqi menegaskan, di bawah kepemimpinan baru, UII berkomitmen menjadi universitas yang unggul secara akademik, kuat dalam nilai-nilai keislaman, terbuka terhadap kolaborasi, serta semakin memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian.
Bagikan