
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) dan Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Yogyakarta) terus memperluas dan memperkuat budaya literasi maupun memahami mitos yang berkembang di masyarakat. Budaya literasi dan memahami mitor ini dipercaya akan mendekatkan individu pada persoalan kehidupan masyarakat, seperti tanah, kebudayaan, dan sejarah, sehingga menjadi gagasan baru melalui perspektif yang lebih beragam.
Hal ini di antaranya dilakukan Pemda DIYA melalui pameran Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026 yang berlangsung sejak Rabu (30/9/2026) sampai Senin (12/10/2026). Didanai Dana Keistimewaan (Danais) Yogyakarta, JABFEST 2026 mengangkat tema “Saksi Mata: Ketika Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja”, sebuah tema yang diambil dari cerpen karya Seno Gumira Ajidarma.
Melalui tema ini, JABFEST 2026 pun ingin mengajak masyarakat membaca persoalan sosial, menjaga ingatan kolektif, serta mempertanyakan berbagai realitas yang berkembang di ruang publik.
Ketua Program JABFEST 2026, Dodo Hartoko, mengatakan festival ini memandang literasi sebagai wadah untuk terus mempertanyakan berbagai hal, menelaah gagasan, sekaligus membangun kepekaan terhadap persoalan di sekitar.
“Literasi bukan ruang kosong, melainkan ruang tanya. Di dalamnya kita membaca dan digelisahkan bersama. Karena tanpa kegelisahan, tidak akan ada perubahan,” kata Dodo, dikutip Minggu (11/10/2026).
Dengan literasi, pengunjung diajak melihat berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat melalui kacamata kebudayaan. Sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti tanah, kebudayaan, dan sejarah, menjadi bagian dari gagasan yang dihadirkan.
“Kami juga mengajak pengunjung berjumpa dan menemukan gagasan baru dalam memahami persoalan di sekitar melalui perspektif yang lebih beragam,” lanjutnya.
Pengetahuan Lokal
Sedangkan melalui talkshow “Membaca Mitos: Antara Tradisi Lisan, Ingatan, dan Pengetahuan Budaya” yang digelar pada hari kelima Ruang Masyarakat Ketemu (RUMAKET) 2026 “Hageganti”, Pemkot Yoyakarta mengajak masyarakat membaca mitos secara lebih kritis, bukan sekadar sebagai cerita atau kepercayaan, melainkan juga sebagai bagian dari pengetahuan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat
Dalam talkshow yang diselenggarakan di Pythagoras Hall, Taman Pintar Yogyakarta, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia (ATL) DIY, Heddy Shri Ahimsa-Putra, mengatakan selama ini mitos kerap dianggap sebagai takhayul. Padahal, di balik cerita yang diwariskan turun-temurun, tersimpan pengetahuan lokal yang belum tentu bisa dipahami melalui cara pandang ilmu pengetahuan modern.
“Mitos adalah ethnoscience yang tidak atau belum dipahami melalui science ala Barat. Orang Jawa mempunyai science-nya sendiri yang perlu dipahamkan kepada dunia,” kata Heddy.
Pandangan tersebut menggarisbawahi pentingnya memahami kebudayaan melalui kerangka pengetahuan masyarakat yang menghidupinya. Tradisi lisan bukan hanya sarana penyampaian cerita, melainkan juga medium pewarisan pengalaman, nilai, dan cara masyarakat memahami lingkungan serta kehidupannya.
Hadirnya hegemoni ilmu pengetahuan barat, disebut Heddy, menjadi tantangan dalam memahami pengetahuan lokal. Terlebih di Indonesia, dan khususnya di Jawa, yang kaya dengan pengetahuan lokal yang tidak mudah diterjemahkan oleh generasi saat ini.
Menurut Heddy, kekayaan pengetahuan lokal perlu dipahami melalui konteks budaya yang melahirkannya. Tanpa pemahaman tersebut, pengetahuan yang diwariskan leluhur berisiko dianggap tidak relevan, bahkan kehilangan maknanya ketika berhadapan dengan cara berpikir generasi sekarang.
“Mitos dapat memuat pengetahuan yang kemudian dianggap sebagai takhayul oleh orang yang tidak mampu memahami maknanya. Sebaliknya, jika seseorang terlalu yakin terhadap mitos, mitos dapat berubah menjadi kepercayaan yang diyakini sebagai kebenaran mutlak,” paparnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa mitos perlu ditempatkan secara proporsional. Masyarakat perlu memahami konteks dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya tanpa harus menerima seluruh kisah sebagai kebenaran mutlak ataupun menolaknya begitu saja.
Heddy juga memaparkan bagaimana mitos dapat dibaca dari berbagai perspektif. Dari sisi tradisi lisan, individu dapat melihat bagaimana cerita diwariskan. Dari sisi ingatan, mereka diajak memahami bagaimana masyarakat menyimpan pengalaman kolektifnya.
“Dan dari sisi pengetahuan budaya, kita dapat menggali nilai serta pemahaman yang terkandung di dalamnya,” pungkasnya.