
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Universitas Nadhatul Ulama (UNU) Yogyakarta melalui tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) mengagas Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang berfokus pada hilirisasi inovasi produk jamu berbasis Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Tim PkM sepenuhnya akan memfokuskan kegiatannya di Kampung Jamu Kiringan, Desa Canden, Kecamatan Jetis, Bantul.
Dosen Program Studi (Prodi) Agribisnis UNU Yogyakarta, Nur Saudah Al Arifa D, pada Rabu (1/7/2026) menjelaskan program ini digagas karena melihat keterbatasan diversifikasi produk, masa simpan yang relatif singkat, dan pemasaran yang masih konvensional.
“Semua ini menjadi tantangan yang membatasi potensi ekonomi produk herbal, terutama untuk menjangkau pasar yang lebih luas bahkan di tingkat global,” katanya.
Padahal jika ditilik lebih dalam, Indonesia memiliki lebih dari 19.000 spesies tanaman obat yang berkhasiat, namun baru sebagian kecil yang diolah sebagai obat herbal dan jamu. Selain penting untuk kesehatan tubuh, tanaman-tanaman tersebut juga punya nilai ekonomi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat, nilai ekonomi produk jamu asal Indonesia per tahun bisa mencapai Rp 1,2 triliun.
“Kampung Kiringan dipilih karena sejak tahun 1950-an hingga kini terdapat ratusan perajin dan penjual jamu gendong yang diolah dari TOGA. Kiringan juga telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Jamu,” ujarnya.
Melalui program ini, lanjut Nur, UNU Yogyakarta berupaya mengembangkan produk jamu tradisional menjadi produk bernilai tambah yang lebih tinggi sekaligus memperkuat identitas Desa Wisata Jamu Kiringan sebagai destinasi wisata kesehatan berbasis kearifan lokal.
Bersama dosen-dosen Fakultas Industri Halal UNU Jogja, yakni Ertha Martha Intani dan Fitri Andriani Fatimah, tim mengawali program tahun ini dengan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 20 anggota Kelompok Jamu Gendong “Marguna” di Kiringan, pekan lalu.
Potensi Besar
Menurut Nur, Kiringan memiliki potensi besar sebagai salah satu sentra produksi jamu tradisional di Yogyakarta. Namun, sebagian besar produk masih dipasarkan dalam bentuk jamu segar dengan masa simpan yang terbatas sehingga sulit menjangkau pasar yang lebih luas.
Oleh karena itu, program ini difokuskan pada hilirisasi inovasi produk melalui pengembangan produk herbal yang lebih praktis, peningkatan kualitas kemasan, penguatan manajemen usaha, serta pengembangan strategi pemasaran dan branding yang terintegrasi.
Melalui kegiatan tersebut, tim bersama mitra menyusun berbagai prioritas program, mulai dari inovasi produk berbasis TOGA, peningkatan kapasitas produksi, penguatan manajemen usaha, pengembangan kemasan produk, hingga strategi pemasaran.
Dalam beberapa bulan ke depan, program akan dilanjutkan melalui serangkaian pelatihan yang mencakup inovasi jamu serbuk instan, pengembangan wedang uwuh celup, budidaya TOGA, manajemen usaha, pengemasan produk, serta branding dan pemasaran.
Lebih dari sekadar menghasilkan inovasi produk, program ini bertujuan membangun model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan pengetahuan lokal, hasil riset terapan, dan pengembangan kewirausahaan.
“Dengan mengombinasikan pendekatan ilmiah dan kearifan lokal dalam pengolahan jamu tradisional, program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha sekaligus mendukung keberlanjutan Desa Wisata Jamu Kiringan sebagai destinasi wisata berbasis herbal,” pungkasnya.