
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Dosen Pendidikan Seni Musik Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (FBSB UNY), Drijastuti Jogjaningrum, membuktikan anak tunarungu tetap bisa bermusik dengan pendekatan pembelajaran berbasis multisensori.
Lewat penelitian di SLB B Yakut Purwokerto, Jawa Tengah, Drijas --panggilan akrab Drijastuti--, menemukan jika pembelajaran musik dirancang inklusif, anak tunarungu tidak hanya belajar musik, tetapi juga mendapatkan ruang untuk berekspresi, membangun kepercayaan diri, dan berinteraksi sosial.
“Musik selama ini identik dengan bunyi dan pendengaran. Namun anggapan tersebut bisa kami patahkan lewat penelitian dengan melibatkan 31 siswa tunarungu,” kata Drijas pada Selasa (20/1/2026).
Dalam pembelajaran, siswa tidak diajak mendengarkan musik seperti pada umumnya, melainkan merasakan dan melihat musik. Getaran alat musik angklung dimanfaatkan sebagai media utama agar siswa dapat merasakan denyut dan tempo.
Melibatkan 31 siswa tunarungu berusia 8 hingga 13 tahun, Drijas berhasil menunjukkan musikalitas tidak hanya bergantung pada telinga, tetapi juga dapat diakses melalui indera lain seperti penglihatan, sentuhan, dan gerak tubuh.
“Musik bukan hanya soal mendengar suara. Musik adalah pengalaman tubuh. Anak tunarungu bisa memahami ritme dan irama melalui getaran, visual, dan gerakan,” katanya.
Sementara itu, gerakan tangan, kode warna, simbol visual, dan bahasa isyarat digunakan untuk membantu siswa memahami struktur musik. Pendekatan ini menggabungkan tiga jalur sensorik sekaligus.
Pertama, taktil, yakni siswa merasakan getaran musik secara langsung. Kedua, visual, melalui gerakan konduktor, simbol, dan warna. Ketiga, kinestetik, melalui aktivitas fisik seperti bertepuk tangan, melangkah mengikuti irama, dan memainkan alat musik.
Sosial dan Emosional
Hasilnya cukup signifikan. Lebih dari 86 persen siswa mampu mengikuti pembelajaran musik selama 30 hingga 45 menit dengan tingkat partisipasi yang tinggi. Para siswa juga mampu meniru pola ritme sederhana serta merespons perubahan irama melalui gerakan tubuh.
Selain meningkatkan kemampuan bermusik, pembelajaran berbasis multisensorik ini juga berdampak positif pada perkembangan sosial dan emosional siswa. Anak-anak menjadi lebih percaya diri, berani mengekspresikan diri, serta mampu bekerja sama dalam aktivitas kelompok.
Menurut Drijas, praktik pendidikan musik yang terlalu berfokus pada aspek auditif justru membuat anak tunarungu terpinggirkan. Padahal, secara biologis, otak anak tunarungu memiliki kemampuan beradaptasi dengan memaksimalkan indera lain.
“Selama ini ada anggapan bahwa anak tunarungu tidak musikal. Itu keliru. Mereka memiliki potensi musikal yang sama, hanya jalur belajarnya berbeda,” ujarnya.
Drijastuti menambahkan, pendekatan multisensori juga sejalan dengan prinsip pendidikan inklusif yang memberikan akses belajar setara bagi semua anak. Oleh karena itu, ia mendorong agar metode ini dapat diterapkan secara lebih luas di sekolah luar biasa maupun pelatihan guru seni.
“Jika pembelajaran musik dirancang inklusif, anak tunarungu tidak hanya belajar musik, tetapi juga mendapatkan ruang untuk berekspresi, membangun kepercayaan diri, dan berinteraksi sosial,” tuturnya.
Ke depan, Drijas berharap hasil riset ini dapat menjadi rujukan bagi dunia pendidikan dan pembuat kebijakan. Musik, menurutnya, seharusnya menjadi hak semua anak tanpa terkecuali. Baginya anak tunarungu bukan tidak bisa bermusik. Mereka hanya membutuhkan cara yang berbeda untuk mengalaminya.