logo

Kampus

Briket Tempurung Kelapa Mahasiswa UMY Rambah Pasar Luar

Briket Tempurung Kelapa Mahasiswa UMY Rambah Pasar Luar
Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan angkatan 2023 UMY, Muhammad Aryo Lambang, bersama tim, sukses mengembangkan inovasi briket arang tempurung kelapa yang kini merambah pasar Eropa hingga Asia. (EDUWARA/Dok. UMY)
Setyono, Kampus20 Januari, 2026 03:10 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Aryo Lambang, membukukan prestasi gemilang di kancah internasional. Aryo, bersama timnya, sukses mengembangkan inovasi briket arang tempurung kelapa yang kini merambah pasar Eropa hingga Asia. 

Inovasi ini lahir dari tangan dingin Aryo yang jeli melihat potensi limbah tempurung kelapa di Indonesia. Dengan kandungan karbon mencapai 60-70 persen, tempurung kelapa mampu menghasilkan panas yang stabil dengan durasi bakar hingga tiga jam, menjadikannya sumber energi alternatif yang unggul. 

"Selama ini batok kelapa sering dianggap tidak bernilai. Padahal di luar negeri, khususnya Eropa, bahan ini justru dicari karena termasuk sumber energi hijau," ujar Aryo dikutip  Senin (19/1/2026). 

Proses pengolahan briket ini tergolong ramah lingkungan. Tempurung kelapa diolah menjadi arang, dihaluskan, lalu dicampur dengan tepung kanji sebagai perekat alami sebelum dicetak. Produk ini tidak hanya memanfaatkan limbah biomassa, tetapi juga menjadi solusi bahan bakar berkelanjutan untuk menggantikan energi konvensional yang kian menipis. 

Kualitas produk inovasi mahasiswa UMY ini telah diakui dunia. Saat ini, briket tersebut telah diekspor ke berbagai negara Eropa seperti Prancis, Portugal, dan Belanda. Tak hanya itu, pasar Asia seperti Jepang, Korea, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara juga mulai menjadi pelanggan tetap.

Energi Hijau

Tingginya permintaan ini dipicu oleh meningkatnya kesadaran global terhadap penggunaan energi bersih.

"Di Eropa, kesadaran akan energi hijau sudah sangat tinggi, sehingga peluang pasarnya jauh lebih besar dibandingkan pasar domestik yang masih terbatas pada sektor kuliner," tambah Aryo. 

Keberhasilan ini sekaligus mendobrak stigma bahwa mahasiswa Ilmu Pemerintahan hanya fokus pada isu politik dan birokrasi. Aryo membuktikan bahwa mahasiswa dari rumpun sosial juga mampu menghadirkan solusi konkret melalui kewirausahaan berbasis lingkungan (greenentrepreneurship). 

"Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Ilmu Pemerintahan bisa berpikir strategis, membaca peluang pasar, dan menciptakan produk yang berdampak secara ekonomi maupun lingkungan," tegasnya. 

Melalui semangat sociopreneurship, inovasi briket tempurung kelapa ini tidak hanya membangun kemandirian ekonomi mahasiswa, tetapi juga berkontribusi nyata pada penguatan ekonomi hijau dan agenda keberlanjutan global.

Read Next