logo

Kampus

ICAPAS 2026, Ruang Memperkuat Riset Artistik dan Kolaborasi Internasional

ICAPAS 2026, Ruang Memperkuat Riset Artistik dan Kolaborasi Internasional
Gelaran 14th International Conference for Asia Pacific Art Studies (ICAPAS 2026) bertajuk “Resonance and Relevance: Artistic Research for Human and Planetary Futures”, di ISI Yogyakarta, menjadi ruang pertemuan seniman, peneliti, akademisi, desainer, praktisi kreatif, serta mahasiswa pascasarjana untuk membicarakan posisi penelitian artistik dalam merespons perubahan sosial, budaya, teknologi, dan lingkungan. (EDUWARA/Dok. ISI Yogyakarta)
Setyono, Kampus03 Oktober, 2026 16:17 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Bakal berlangsung selama 14 hari, gelaran 14th International Conference for Asia Pacific Art Studies (ICAPAS 2026) menjadi ruang pertemuan seniman, peneliti, akademisi, desainer, praktisi kreatif, serta mahasiswa pascasarjana untuk membicarakan posisi penelitian artistik dalam merespons perubahan sosial, budaya, teknologi, dan lingkungan.

Diselenggarakan oleh Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ICAPAS 2026 merupakan kolaborasi yang kedua kali dengan Hochschule für Künste Bremen (HfK Bremen), Jerman, dan sepenuhnya didukung oleh German Academic Exchange Service (DAAD).

Bertema “Resonance and Relevance: Artistic Research for Human and Planetary Futures”, kegiatan ini sepenuhnya berisi konferensi, kolokium doktoral, seminar internasional, enam lokakarya, kunjungan studio, serta pameran hasil praktik artistik.

Ketua Pelaksana ICAPAS 2026, Octavianus Cahyono Priyanto, menerangkan tema ICAPAS tahun ini bertolak dari perkembangan seni, desain, teknologi, dan kebudayaan yang semakin menuntut cara baru dalam menghasilkan pengetahuan.

“Dalam kerangka tersebut, artistic research tidak hanya memosisikan karya seni sebagai hasil akhir penelitian, tetapi juga mengakui praktik kreatif, eksperimentasi, pengalaman tubuh, refleksi kritis, dan situated knowledge sebagai bagian dari proses produksi pengetahuan,” terang Cahyono dalam rilis, Jumat (2/10/2026).

ICAPAS 2026, lanjut Cahyono, menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif lintas negara dan memperkuat kontribusi seni dalam merespons berbagai persoalan kontemporer. 

Sedangkan dalam pengembangan Pascasarjana ISI Yogyakarta, kerja sama internasional ini juga diarahkan untuk memperluas perspektif akademik, memperkuat riset artistik, serta membuka peluang kolaborasi antardosen, mahasiswa, peneliti, dan seniman.

Penelitian Seni

Cahyono, yang juga menjabat sebagai Koordinator Proram Studi Program Doktor ISI Yogyakarta, menambahkan gelaran ICAPAS 2026 bagi Pascasarjana ISI Yogyakarta juga memberi ruang bagi penguatan lingkungan penelitian seni yang semakin terbuka terhadap metodologi lintas disiplin dan lintas budaya.

Selain itu, rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan cara yang berbeda dalam mengetahui teori dengan praktik, penelitian dengan penciptaan, arsip dengan tubuh, teknologi dengan budaya, serta pengalaman manusia dengan persoalan ekologis.

“Di titik itulah tema “Artistic Research for Human and Planetary Futures” memperoleh konteksnya. Seni tidak hanya hadir untuk dibicarakan sebagai objek, tetapi bekerja sebagai metode untuk membaca, mempertanyakan, dan membayangkan kembali kehidupan bersama,” paparnya.

Puncak rangkaian ICAPAS 2026, berupa konferensi internasional berlangsung pada Rabu (30/9/2026)-Kamis (1/10/2026) di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Konferensi ini dibuka secara resmi oleh Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, dan mempertemukan seniman, peneliti, akademisi, desainer, praktisi kreatif, serta mahasiswa pascasarjana dalam forum pertukaran pengetahuan lintas disiplin dan lintas negara.  

Selain menghadirkan para pembicara undangan, konferensi ini juga membuka sejumlah sesi paralel dan presentasi performatif. Tema penelitian bergerak dari memori budaya dalam sinematografi, batik inklusif bersama penyandang disabilitas netra, transformasi simbol Jawa di Suriname, realitas virtual dan transmisi budaya Thailand, fotografi sebagai medium dekolonial, pemetaan visual kota, tubuh performer, hingga tanah sebagai entitas hidup.  

Direktur Pascasarjana ISI Yogyakarta, Fortunata Tyasrinestu, mengatakan pengembangan riset artistik menjadi salah satu titik penting dalam kolaborasi internasional tersebut. “Riset artistik saat ini berkembang menjadi pendekatan yang mampu menjembatani kreativitas, pengetahuan, dan inovasi,” katanya.

ICAPAS 2026 menandai tahun kedua intensifikasi pertukaran akademik ISI Yogyakarta dan HfK Bremen. Pada 2025, kolaborasi kedua kampus telah masuk dalam ICAPAS ke-13 melalui workshop lintas disiplin dan pertukaran mahasiswa serta akademisi.

Pada 2026, hubungan tersebut berlanjut dengan kunjungan delegasi Pascasarjana ISI Yogyakarta ke Bremen pada 30 Mei-15 Juni 2026, yang antara lain diisi dengan workshop, kolokium doktoral, konferensi riset artistik, dan pertukaran budaya.

Read Next