logo

Kampus

UIN Sunan Kalijaga Didorong Jadi Knowledge Hub yang Pertahankan Tradisi

UIN Sunan Kalijaga Didorong Jadi Knowledge Hub yang Pertahankan Tradisi
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, saat menyampaikan pidato akademik pada Peringatan Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga, Senin (28/9/2026). Dalam pidato akademik berjudul ‘’Dari Keunggulan Akademik Menuju Dampak Global: Membayangkan Ulang Arah Pendidikan Tinggi di Era AI dan Revolusi Teknologi’’, Noorhaidi menyoroti arah pendidikan tinggi di tengah perkembangan teknologi. (EDUWARA/Dok. UIN Sunan Kalijaga)
Setyono, Kampus30 September, 2026 13:36 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta diharapkan tidak meninggalkan tradisi akademik yang telah dibangun selama puluhan tahun saat menghadapi perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Sebab, selama ini, UIN Sunan Kalijaga telah mengembangkan pendidikan yang tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan, tetapi juga dialog antara berbagai disiplin ilmu. Tradisi tersebut dinilai menjadi modal penting bagi perguruan tinggi dalam menghadapi perubahan teknologi.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, menyampaikan hal tersebut dalam Peringatan Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga, Senin (28/9/2026). Dalam pidato akademik berjudul ‘’Dari Keunggulan Akademik Menuju Dampak Global: Membayangkan Ulang Arah Pendidikan Tinggi di Era AI dan Revolusi Teknologi’’, Noorhaidi menyoroti arah pendidikan tinggi di tengah perkembangan teknologi.

Pengalaman Noorhaidi saat melakukan perjalanan ke Wuxi University of Technology memberikan perspektif baru mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan tinggi, industri, dan kebijakan pembangunan.

“Perjalanan ke Wuxi University of Technology membawa rumusan baru bagi saya tentang bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan tinggi, industri, dan kebijakan pembangunan dirangkai menjadi sebuah ekosistem yang terintegrasi. Di sana, pengetahuan diterjemahkan menjadi kemampuan produktif. Inilah yang menurut saya perlu menjadi perhatian dunia pendidikan tinggi Indonesia,” katanya.

Noorhaidi mengatakan kehadiran teknologi memang dapat membuat berbagai hal berlangsung lebih cepat. Namun, pendidikan tidak boleh berhenti pada persoalan kecepatan dan efisiensi. Pendidikan tetap harus mempertanyakan apakah sesuatu yang dilakukan dengan teknologi juga menjadi lebih baik dan apakah hasilnya menjadi lebih adil. Begitu pula dengan AI yang membuat pengetahuan semakin mudah diakses.

“Pendidikan harus memastikan bahwa akses tersebut tidak memperbesar kesenjangan,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Noorhaidi, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup hanya diukur dari jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan. Ukuran yang lebih mendasar adalah perubahan yang dihasilkan dari keberadaan universitas dan manfaat pengetahuan bagi masyarakat.

“Apa yang berubah karena keberadaan kita? Siapa yang memperoleh manfaat dari pengetahuan kita? Masalah apa yang berhasil kita bantu pecahkan? Dan masa depan seperti apa yang kita bantu bangun?” katanya.

Integrasi-Interkoneksi Keilmuan

Dalam menghadapi perkembangan AI, Noorhaidi menegaskan pendidikan yang dikembangkan UIN Sunan Kalijaga harus tetap berakar pada tradisi Integrasi-Interkoneksi Keilmuan. Tradisi tersebut telah mempertemukan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu sosial, humaniora, sains, teknologi, serta berbagai bidang pengetahuan lainnya. Pengetahuan tidak boleh berkembang dalam ruang yang terisolasi. 

“Pengetahuan tidak boleh hidup dalam ruang yang terisolasi, harus terus berdialog, harus saling menerangi, dan pada akhirnya harus memberikan manfaat bagi kehidupan,” katanya.

Menurut Noorhaidi, akademisi UIN Sunan Kalijaga harus mampu menjadi manusia yang berpikir logis, kritis, kreatif, dan etis. Kemampuan tersebut diperlukan agar ilmu dapat dihubungkan dengan nilai, pengetahuan diubah menjadi inovasi, inovasi menjadi solusi, dan solusi memberikan kemaslahatan.

“Akademisi UIN Sunan Kalijaga adalah manusia yang mampu berpikir logis, kritis, kreatif, dan etis; manusia yang mampu menghubungkan ilmu dengan nilai; manusia yang mampu mengubah pengetahuan menjadi inovasi; inovasi menjadi solusi; dan solusi menjadi kemaslahatan,” ujarnya.

Memasuki usia 75 tahun, Noorhaidi menegaskan, perjalanan UIN Sunan Kalijaga bukan menjadi alasan untuk berhenti dan berpuas diri. Sebaliknya, momentum tersebut harus menjadi titik awal untuk melakukan lompatan berikutnya.

Noorhaidi mendorong transformasi dari keunggulan akademik menuju dampak, dari pengetahuan menuju inovasi, dari inovasi menuju transformasi, hingga terciptanya masa depan yang lebih adil, berkelanjutan, bermartabat, dan manusiawi.

“From Academic Excellence to Global Impact. Dan, sekali lagi, pada akhirnya: From Knowledge to Human Flourishing. Sehingga, agenda UIN Sunan Kalijaga ke depan bukanlah meninggalkan tradisi akademik kita. Justru sebaliknya, kita harus memperkuat fondasi tersebut dan membawanya ke tahap berikutnya,” katanya.

Dalam lima, 10, bahkan 25 tahun mendatang, Noorhaidi berharap UIN Sunan Kalijaga tidak hanya dikenal karena keunggulan akademiknya. Lebih jauh, UIN Sunan Kalijaga diharapkan berkembang menjadi knowledge hub yang mempertemukan agama, sains, teknologi, masyarakat, industri, kebijakan publik, dan dunia internasional.

Kemaslahatan

Noorhaidi membayangkan UIN Sunan Kalijaga sebagai universitas yang mampu mengembangkan AI sekaligus membangun etika AI. Teknologi dikembangkan bersama dengan perhatian terhadap keadilan sosial, sementara pertumbuhan ekonomi tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

“Universitas yang menghasilkan riset sekaligus memastikan riset tersebut digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Dan universitas yang menghasilkan lulusan bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk menciptakan pengetahuan, membangun inovasi, memimpin perubahan, dan memperluas kemaslahatan,” tuturnya.

Menurut Noorhaidi, relevansi Integrasi-Interkoneksi Keilmuan semakin penting pada abad ke-21. Paradigma tersebut tidak boleh berhenti sebagai konsep akademik, tetapi harus menjadi paradigma transformatif. Ilmu harus terhubung dengan realitas, riset dengan kebutuhan masyarakat, inovasi dengan nilai, serta universitas dengan masa depan umat manusia.

Selama ini, perguruan tinggi banyak berbicara mengenai knowledge production, mulai dari menghasilkan penelitian, jurnal, buku, lulusan hingga profesor. Semua hal tersebut tetap penting, tetapi, menurut Noorhaidi, universitas tidak cukup hanya berhenti pada produksi pengetahuan.

“Pengetahuan harus melahirkan inovasi. Inovasi harus menemukan aplikasinya. Dan aplikasi harus menghasilkan dampak. Inilah perubahan paradigma yang menurut saya harus menjadi agenda pendidikan tinggi Indonesia,” katanya.

Karena itu, Noorhaidi tidak melihat masa depan UIN Sunan Kalijaga sebagai pilihan antara humaniora atau teknologi, agama atau sains, maupun pendidikan liberal atau vokasional. Pendekatan yang dibutuhkan bukan either/or, melainkan both/and. 

Pendidikan membutuhkan teknologi yang dibimbing nilai, kompetensi profesional yang dibangun di atas kemampuan berpikir kritis, serta inovasi yang mempertimbangkan keadilan dan keberlanjutan.

“Kita membutuhkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga siap memikirkan kembali dunia kerja dan masyarakat yang mereka masuki,” katanya.

Dengan demikian, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan manusia agar mampu menggunakan teknologi. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang mampu menentukan untuk apa teknologi digunakan, bagi siapa teknologi bekerja, dan bagaimana teknologi diarahkan agar kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Read Next