logo

Art

ISI Yogyakarta Merekonstruksi Ulang Perangko

ISI Yogyakarta Merekonstruksi Ulang Perangko
Sebanyak 160 karya perangko dipamerkan dalam pameran bertajuk ‘The Little Things; Internasional Art Exhibition Stamp Reimagined’, di Fadjar Sidik Gallery, mulai 28 Agustus-11 September 2025. Digagas oleh Prodi Seni Rupa Murni FSRD ISI Yogyakarta, pameran ini berupaya merekonstruksi ulang perangko sebagai pencatat budaya dan sejarah melalui karya seni. (EDUWARA/K. Setyono)
Setyono, Art29 Agustus, 2025 21:10 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Dalam pameran ‘The Little Things; Internasional Art Exhibition Stamp Reimagined’, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berupaya merekonstruksi ulang perangko sebagai pencatat budaya dan sejarah melalui karya seni.

Sebanyak 160 karya dipamerkan mulai 28 Agustus-11 September 2025 di Fadjar Sidik Gallery. Dalam pameran yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Seni Rupa Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta ini, terselip 10 karya terbaik dari 10 siswa SMA sederajat.

Ketua Jurusan Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta dan kurator pameran, Satrio Heri Wicaksono, menerangkan pameran ini merupakan lanjutan dari pameran kartu pos bertajuk ‘Hello There; Postcard Recontruction’ yang berlangsung November tahun lalu.

“Pameran ini merupakan upaya mengenalkan perangko yang menjadi media berkomunikasi di masa lampau kepada generasi muda yang sekarang mungkin tidak mengenalnya lagi,” kata Satrio, pada Kamis (28/8/2025).

Dengan menjadikan perangko sebagai canvas, lanjut Satrio, pameran ini mengajak generasi muda, baik mahasiswa maupun pelajar, untuk mempelajari kembali perangko yang pernah eksis. Dengan merekonstruksi ulang perangko sebagai karya seni baru, diharapkan pameran ini mampu menyulut kenangan dari generasi tua yang pernah menggunakan dan bersinggungan dengan perangko di masa lalu.

“Kami mengundang 300 perupa, termasuk kolega kami dari sembilan negara. Tak hanya itu, kami juga mengajak pelajar SMA sederajat untuk berkompetisi melukis di perangko dan berhasil mengumpulkan 147 karya,” lanjut Satrio.

Bekerja sama dengan Kantor Pos Indonesia, sejarah perangko dikenalkan sebagai memorabilia kecil yang mampu menyimpan berbagai nilai dan makna sejarah, serta perkembangan kebudayaan.

Penjaga Filateli

Tentang pameran tersebut, pengurus Persatuan Filateli Indonesia (PFI) Yogyakarta, Yetti Martanti, menyebutnya sebagai wadah untuk mempelajari dan menghargai perangko yang pernah digunakan sebagai alat komunikasi sederhana.

“Dengan ukurannya yang sangat terbatas, namun makna pesan dari gambar di dalamnya mempunyai makna besar. Di sinilah narasi sejarah dan budaya tersimpan. Generasi muda seharusnya banyak ingin tahu,” tutur Yetti yang menjabat Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Dunia filateli, lanjut Yetti, tidak akan lepas dari peran seniman. Melalui tampilan visual karya seni, perangko dapat menjadi benda koleksi dan dipelajari di kemudian hari. Peran seniman, bagi Yetti, sangat besar karena mampu menjadikan perangko menjadi ruang ide kreatif dan ruang riset.

“Sehingga dapat dikatakan seniman adalah penjaga filateli,” paparnya.

Direktur EDM Pos Indonesia, Ngadirin Nandar, mengapresiasi pameran tentang benda pos yang kedua kalinya diselenggarakan ISI Yogyakarta. Bagi Ngadiri, pameran ini sepenuhnya bertujuan untuk mengedukasi.

“Saat ini perangko maupun kartu pos di Kantor Pos Yogyakarta masih menjadi daya tarik bagi wisatawan asing. Setiap hari, 30-50 surat dikirimkan wisatawan sebagai penanda mereka pernah berada,” jelasnya.

Selain dipamerkan dalam bentuk visual besar, karya 160 seniman ini disajikan dalam bentuk asli perangko sehingga pengunjung yang ingin melihat wajib menggunakan kaca pembesar.

Read Next