logo

Kampus

Kelola Limbah PET, Tim Kimia UGM Sabet Emas I2ASPO 2025

Kelola Limbah PET, Tim Kimia UGM Sabet Emas I2ASPO 2025
Tim mahasiswa Prodi Kimia FMIPA UGM berhasil meraih Gold Medal dalam ajang 6th I2ASPO yang berlangsung pada 18-21 Desember 2025 di GIK UGM. Tim yang terdiri dari Pandu Sukma Hastyadi, Samuel Khrisna Wira Waskita, Aqila Dziki Muhamad Iqbal, Billy Natanael, dan Muhammad Radithya Akmal Rasheed, mengusung inovasi tentang pemanfaatan limbah botol plastik PET menjadi karbon aktif yang berfungsi sebagai penangkap gas CO2 di atmosfer. (EDUWARA/Dok. UGM)
Setyono, Kampus20 Januari, 2026 02:30 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Tim mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengukir prestasi gemilang di kancah internasional. Mereka sukses meraih Gold Medal dalam ajang 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO) yang berlangsung pada 18-21 Desember 2025 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.

Inovasi yang diusung adalah pemanfaatan limbah botol plastik polyethylene terephthalate (PET) menjadi karbon aktif yang berfungsi sebagai penangkap gas CO2 di atmosfer. Tim yang dibimbing oleh dosen Fajar Inggit Pambudi ini terdiri dari lima mahasiswa, yaitu Pandu Sukma Hastyadi, Samuel Khrisna Wira Waskita, Aqila Dziki Muhamad Iqbal, Billy Natanael, dan Muhammad Radithya Akmal Rasheed.

Ketua tim, Pandu Sukma Hastyadi, menjelaskan bahwa fokus riset mereka adalah mengembangkan Carbon Capture Technology (CCT) yang lebih ekonomis. Selama ini, adopsi teknologi penangkap karbon terkendala oleh biaya operasional yang sangat tinggi.

"Kami melihat potensi besar pada limbah botol plastik PET karena kandungan karbonnya yang tinggi, sehingga ideal dijadikan prekursor karbon aktif. Inovasi ini menawarkan alternatif yang lebih murah dibandingkan teknologi komersial saat ini," ujar Pandu pada Senin (19/1/2026).

Zeolit

Pemilihan limbah PET bukan tanpa alasan. Samuel, salah satu anggota tim, memaparkan bahwa rasio daur ulang PET di Indonesia masih rendah, yakni hanya sekitar 13 persen. Tragisnya, 48 persen sampah plastik di Indonesia masih dikelola dengan cara dibakar, yang justru memperparah emisi CO2.

Untuk meningkatkan performa penyerapan gas, tim ini mengombinasikan karbon aktif dari plastik tersebut dengan zeolit. 

"Pembuatan komposit karbon aktif dan zeolit terbukti mampu mengatasi keterbatasan kapasitas penyerapan CO2 yang selama ini menjadi kendala pada penelitian-penelitian sebelumnya," tambah Billy Natanael, salah satu anggota tim tersebut.

Keberhasilan tim UGM ini sangat membanggakan karena mereka harus bersaing ketat dengan 629 peserta yang berasal dari 13 negara. Fajar Inggit Pambudi, selaku dosen pendamping, menegaskan bahwa keunggulan riset ini terletak pada aspek keberlanjutannya (sustainability).

“Riset ini menyelesaikan dua masalah lingkungan sekaligus dalam satu inovasi, yaitu menanggulangi limbah plastik yang menumpuk dan mengurangi emisi CO2 di udara,” katanya.

Prestasi ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam implementasi teknologi hijau di Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa inovasi mahasiswa mampu menjawab tantangan krisis iklim global.

Read Next