logo

Kampus

Tim KAPSTRA UGM Kenalkan Ekonomi Sirkular Komoditas Jagung

Tim KAPSTRA UGM Kenalkan Ekonomi Sirkular Komoditas Jagung
Tim PPK Ormawa KAPSTRA, yang terdiri dari para mahasiswa UGM, mengenalkan diversifikasi produk berbasis jagung dengan pendekatan ekonomi sirkular dan zero waste ke warga Desa Bumirejo, Kecamatan Lendah, Kulon Progo. Beberapa produk yang dikembangkan adalah keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung (EDUWARA/Dok. UGM)
Setyono, Kampus28 Agustus, 2026 06:42 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang bergabung dalam Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (KAPSTRA) mengenalkan diversifikasi produk berbasis jagung dengan pendekatan ekonomi sirkular dan zero waste ke warga Desa Bumirejo, Kecamatan Lendah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Program ini diberikan dengan tujuan mengentaskan kemiskinan warga Bumirejo di mana 70 persen dari 9.000 warga masih bergantung pada bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut juga dipengaruhi ketidakpastian pendapatan karena sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal.

Padahal pada sisi lain, Bumirejo memiliki potensi pertanian yang cukup besar, yang salah satunya adalah komoditas jagung. Selama ini, jagung masih banyak dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang fluktuatif.

“Terdapat potensi pertanian melimpah, yaitu jagung. Jagung biasanya dijual secara mentah dengan harga yang fluktuatif. Beberapa produk yang dikembangkan ini dalam bentuk keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung,” kata ujar Koordinator T PPK Ormawa Kapstra, Kiara Nadya, Kamis (27/8/2026).

Kiara menuturkan tim Kapstra menginisiasi program Synergy Corn Innovation for Rural Empowerment (Syncorn) dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, hingga perluasan akses pasar. 

Pengembangan usaha tersebut dilakukan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang melibatkan sejumlah kelompok masyarakat di Kalurahan Bumirejo. Kelompok yang terlibat di antaranya Kelompok Tani (KT), Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Disabilitas Kalurahan (KDK), Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Karang Taruna.

Selain itu, tim mengajak mahasiswa dari sejumlah program studi (prodi) di UGM untuk terlibat sebagai relawan. Di antara yang terlibat itu adalah UKM Peduli Difabel yang menjadi mitra pendampingan bagi KDK yang tergabung dalam KUB Syncorn. Kolaborasi tersebut dilakukan seiring meningkatnya kapasitas produksi masyarakat.

“Selain penguatan dari sisi eksternal, tim juga melakukan monitoring dan evaluasi bersama melalui kegiatan coaching bersama Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa). Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk melaporkan perkembangan program sekaligus memperoleh masukan bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan,” paparnya. 

Kendala

Kiara mengungkapkan, salah satu tantangan dan kendala yang dihadapi tim dalam pengembangan Syncorn adalah penyusunan legalitas. Tahapan pengurusan yang cukup kompleks serta server yang kerap mengalami gangguan sempat menghambat proses tersebut. Namun, setelah berkolaborasi dengan Rumah Zakat, LP3H UINSUKA, dan LPPT UGM, pengurusan legalitas dapat berjalan lebih lancar. 

“Setelah konsultasi dan bermitra dengan Rumah Zakat, LP3H UINSUKA, dan LPPT UGM, pengurusan legalitas jadi lebih mudah karena ada pendampingan,” ungkapnya.

Setelah dua bulan pelaksanaan, Syncorn menunjukkan perkembangan pada kapasitas produksi dan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha. Aktivitas produksi berlangsung lebih konsisten dengan kapasitas yang meningkat, sementara penerapan quality control mulai diperkuat.

“Proses administrasi dan legalitas sejumlah produk juga telah memasuki tahap akhir. Perkembangan tersebut menjadi salah satu modal bagi KUB untuk melanjutkan kegiatan usaha setelah program berakhir,” katanya.

Setelah memasuki exit strategy, Tim PPK Ormawa KAPSTRA berharap KUB Syncorn dapat terus berkembang tanpa bergantung pada pendampingan tim. Keberlanjutan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Bumirejo.

Sukarni selaku Kepala Desa Bumirejo sekaligus Ketua KUB Syncorn, berharap produk olahan jagung yang dikembangkan melalui program tersebut dapat menjadi identitas bagi wilayahnya. Menurutnya, produk seperti keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung dapat memperkenalkan potensi jagung lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Read Next