logo

Kampus

Mahasiswa KKN Diajak Bangun Kota Yogyakarta Inklusif

Mahasiswa KKN Diajak Bangun Kota Yogyakarta Inklusif
Pelepasan 337 mahasiswa KKN dari UAD, UPN Veteran Yogyakarta, UGM dan UJB oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, Senin (20/4/2026). Program KKN ini merupakan bagian dari implementasi kolaborasi antara Pemkot Yogyakarta dengan perguruan tinggi dalam skema Kampung Tematik (EDUWARA/Dok. Humas Pemkot Yogyakarta)
Setyono, Kampus21 April, 2026 05:50 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memberi ruang kepada mahasiswa untuk turut serta membangun kota yang inklusif dan berbasis semangat kolaborasi. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), sebanyak 337 mahasiswa dari empat perguruan tinggi di Yogyakarta diajak mewujudkan konsep One Village One University.

Pelepasan ratusan mahasiswa KKN dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ‘Veteran’ Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Janabadra (UJB) dilakukan oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo pada Senin (20/4/2026).

“Program KKN ini merupakan bagian dari implementasi kolaborasi antara Pemkot Yogyakarta dengan perguruan tinggi dalam skema Kampung Tematik,” kata Hasto.

Dalam program tersebut, lanjut Hasto, Pemkot Yogyakarta mengusung 10 tema besar pengabdian, meliputi tematik sungai, kampung Inggris, pengelolaan sampah, pembinaan wirausaha, pendampingan kelompok rentan, kesehatan jiwa, pengembangan ruang terbuka hijau publik (RTHP), Sekolah Lansia, jam belajar masyarakat, hingga program Warga Negara Asing (WNA) mengajar.

Hasto menegaskan mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam membangun kesadaran sosial masyarakat, khususnya terkait isu lingkungan.

“Mahasiswa harus peka terhadap lingkungan. Mereka adalah agen perubahan, anak-anak muda yang mampu mengubah mindset masyarakat, terutama dalam hal kebersihan, pengelolaan sampah, hingga pengurangan food waste,” ujarnya.

Rekonstruksi Sosial

Hasto juga menekankan pentingnya rekonstruksi sosial melalui perubahan perilaku masyarakat, mulai dari kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, hingga mengolah sampah organik dan menggunakan wadah pakai ulang. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa menjadi kunci karena Kota Yogyakarta memiliki kekuatan utama pada sumber daya manusia (SDM).

Pendekatan One Village One University diharapkan mampu menciptakan kesinambungan program di tingkat kampung. Setiap kampung akan didampingi perguruan tinggi secara berkelanjutan dengan tema yang tidak harus berganti, sehingga dampaknya dapat terukur.

“Supaya satu tema itu terus dikerjakan secara berkesinambungan, tidak putus. Dengan begitu, keberhasilan bisa terlihat nyata,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V Yogyakarta, Setyabudi Indartono menekankan bahwa keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari program yang dijalankan, tetapi juga dari respons dan penerimaan masyarakat.

“Kampus harus menjadi solusi bagi masyarakat. Keberhasilan kegiatan ini ditentukan oleh sejauh mana masyarakat merasakan manfaat dan memberikan respons positif,” ungkapnya.

Setyabudi juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga etika, meningkatkan kreativitas, serta membangun komunikasi aktif dengan masyarakat agar program yang dijalankan tepat sasaran dan memberikan dampak nyata.

Read Next