logo

Kampus

NU Inginkan Mahasiswa dan Kampus Tetap Patuhi Prokes

NU Inginkan Mahasiswa dan Kampus Tetap Patuhi Prokes
Ketua LPTNU Ainun Naim, Jumat (8/4/2022), meminta mahasiswa dan pengelola universitas menjalankan serta mematuhi Prokes yang ditetapkan pemerintah saat kuliah tatap muka. (EDUWARA/Humas Sevima)
Setyono, Kampus08 April, 2022 17:40 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) meminta mahasiswa dan pengelola universitas tetap menjalankan serta mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Ini seiring dengan pelonggaran berbagai aturan terkait kegiatan masyarakat, termasuk di dalamnya aktivitas perkuliahan di kampus yang berlangsung secara tatap muka maupun campuran antara tatap muka dengan online (hybrid).

"Mahasiswa akhirnya mulai kembali merantau dan berkumpul di kota lokasi kampusnya. Fenomena ini sebagai berkah yang patut disyukuri," kata Ketua LPTNU Ainun Naim, Jumat (8/4/2022).

Terlebih, aktivitas sederhana seperti buka puasa saat Ramadan sudah menjadi tradisi lama yang sangat dirindukan untuk silaturahim.

Ainun mengatakan saat ini jumlah mahasiswa aktif di Indonesia, menurut BPS ada 8,96 juta orang. Setelah dua tahun dipisahkan pandemi, para mahasiswa akhirnya bisa kembali dipertemukan di kampus dan di bulan Ramadan yang penuh rahmat.

"Tentu ini kabar gembira, sekaligus tantangan tersendiri karena kita masih berada di tengah pandemi," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan periode 2011-2021.

Protokol Kesehatan

Ainun juga berpesan aktivitas di kampus tetap harus mengikuti protokol kesehatan (Prokes) dan berbagai pedoman yang diberikan oleh Satgas dan pemerintah, seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan.

Tidak hanya itu, cara makan dan minum juga perlu diperhatikan, termasuk melindungi diri jika bersin, batuk, dan berbicara. Karena disamping sebagai Prokes, bagi umat muslim hal-hal tersebut merupakan adab yang perlu dijaga.

"Tujuannya agar bagaimana supaya aman dan meningkatkan keberkahan. Kesempatan Ramadan jangan sampai terlewatkan tanpa kegiatan positif seperti kuliah, mengaji, saling berbagi pengetahuan, menyelenggarakan kegiatan berbasis komunitas, hingga membantu masyarakat sekitar," ujarnya.

Berbagai kegiatan positif ini, perlu diatur waktunya secara bijak dalam rangka menjaga produktivitas selama bulan puasa. Jangan sampai mahasiswa justru lemas saat jam kuliah karena larut dalam kegembiraan Bulan Ramadan.

"Saya bukan ahli nutrisi, juga bukan ahli kesehatan, tapi kita bisa jaga energi untuk dapat produktif sepanjang hari dengan menjaga asupan makan yang masuk ke tubuh saat buka puasa dan sahur," tuturnya.

Selain itu, atur pencahayaan di kampus, ruang kamar, maupun gadget teman-teman mahasiswa, tidak terlalu terang namun juga tidak terlalu gelap. Pola makan dan pencahayaan yang seimbang ini bisa mendukung mood sekaligus energi kita dalam berpuasa.

Read Next