
Bagikan:

Bagikan:
JOGJA, Eduwara.com - Dua dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yaitu Puthut Ardianto dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dan Lanoke Intan Paradita dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), terus memperkuat literasi masyarakat desa melalui pendekatan inovatif.
Sejak awal 2026, keduanya mengenalkan metode ‘Membaca Nyaring’ (read aloud) dalam program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat di Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Metode ini diperkenalkan secara luas kepada masyarakat saat puncak kegiatan “Sambirejo Literacy Festival” yang menjadi ajang apresiasi hasil belajar warga.
“Lewat pendampingan sejak Februari 2026, kami berfokus pada penguatan kapasitas fasilitator lokal agar mampu mengembangkan program literasi secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Puthut dalam rilis, Minggu (26/4/2026).
Puthut menjelaskan, secara infrastruktur, Desa Sambirejo sebenarnya telah memiliki fasilitas literasi yang cukup memadai. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada kelompok tertentu, terutama anak-anak yang mengikuti bimbingan belajar. Hal ini mendorong tim pengabdian untuk menghadirkan variasi kegiatan agar lebih inklusif dan menarik bagi masyarakat luas.
Salah satu pendekatan yang diusung adalah metode membaca nyaring. Tidak hanya sebagai aktivitas membaca, metode ini juga dikembangkan menjadi pintu masuk untuk kegiatan lanjutan seperti menulis, diskusi, hingga aktivitas kreatif lainnya.
“Pendekatan ini sekaligus menjadi strategi untuk meningkatkan kapasitas tim bimbingan belajar agar memiliki lebih banyak alternatif metode pembelajaran,” imbuh Intan.
Ruang Perayaan
Sambirejo Literacy Festival berlangsung pada Senin-Sabtu (20-25/4/2026). Kegiatan ini menjadi ruang perayaan proses belajar dengan menampilkan berbagai karya anak, mulai dari hasil kerajinan hingga tulisan.
Tak hanya melibatkan anak, festival ini juga mengajak orang tua untuk turut berperan dalam membangun ekosistem literasi di lingkungan keluarga. Melalui keterlibatan tersebut, orang tua diharapkan dapat lebih memahami dan mendukung proses belajar anak di rumah.
“Festival ini menjadi momen penting karena anak-anak dapat melihat bahwa karya mereka dihargai dan dipamerkan. Di sisi lain, orang tua juga dapat menyaksikan langsung perkembangan anaknya. Dari situ diharapkan muncul kesadaran bersama bahwa literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah atau bimbingan belajar, tetapi juga perlu didukung dari lingkungan keluarga,” jelas Intan.
Selain festival, tim pengabdian juga menyusun sebuah buku panduan (guide book) yang dikembangkan bersama mahasiswa dan tim Omah Literasi. Panduan tersebut berisi berbagai alternatif aktivitas lanjutan setelah membaca yang dirancang untuk meningkatkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta literasi secara menyeluruh.
“Kami ingin program ini berkelanjutan. Dengan adanya panduan kegiatan dan pengalaman selama pendampingan, tim Omah Literasi memiliki bekal untuk terus mengembangkan program. Literasi tidak berhenti sebagai kegiatan, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh di masyarakat,” pungkasnya.