
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia dan potensi ekonomi syariah yang besar, Indonesia dinilai belum mampu mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki. Atas kondisi inilah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) diminta terus memperkuat kualitas pendidikan.
Paradoks ekonomi syariah ini diungkapkan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (AFEBIS), Senin (15/6/2026). Tahun ini, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga bertindak sebagai tuan rumah.
“Di tengah besarnya potensi ekonomi syariah yang dimiliki Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, berbagai paradoks masih membayangi perkembangan sektor tersebut,” katanya.
Sejumlah paradoks pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia yang disoroti Anggito, seperti kehadiran 277 juta penduduk dengan lebih dari 85 persen beragama Islam. Modal sosial yang sangat besar tersebut semestinya menjadi fondasi kuat bagi berkembangnya industri keuangan syariah kelas dunia.
“Namun kenyataannya, pangsa keuangan syariah nasional masih berada pada kisaran 12 persen dari total sistem keuangan nasional. Kondisi serupa juga terjadi pada sektor perbankan syariah yang hingga kini masih menguasai sekitar 7 persen dari total aset perbankan nasional. Dominasi perbankan nasional masih kuat,” jelasnya.
Demikian juga dalam bidang pendidikan, Anggito melihat adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dan pasokan sumber daya manusia yang dihasilkan perguruan tinggi. Kebutuhan tenaga profesional di sektor ekonomi dan keuangan syariah terus meningkat, namun jumlah lulusan yang memiliki kompetensi teknis dan kesiapan kerja yang sesuai masih relatif terbatas.
Karenanya, Anggita mendorong FEBI terus memperkuat kualitas akademik, memperluas program magang di lembaga keuangan syariah, serta membangun kolaborasi yang lebih erat dengan dunia industri. Baginya, perguruan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memahami aspek fiqh muamalah, tetapi juga memiliki keterampilan profesional yang relevan dengan kebutuhan industri modern.
“Berbagai produk dan inovasi baru bermunculan dalam waktu yang relatif cepat, sementara dunia pendidikan dan regulator sering kali membutuhkan waktu lebih panjang untuk melakukan penyesuaian,” paparnya.
Komitmen
Pada konteks ini, pembaruan kurikulum, penguatan riset terapan, peningkatan literasi keuangan syariah, serta pengembangan standar dan tata kelola syariah harus menjadi agenda bersama yang terus diperjuangkan oleh perguruan tinggi dan para pemangku kepentingan.
“AFEBIS harus bersama-sama mengakhiri berbagai paradoks yang masih terjadi dalam pengembangan ekonomi syariah. Indonesia tidak kekurangan jumlah penduduk muslim maupun potensi pasar syariah. Yang dibutuhkan adalah penguatan ekosistem yang lebih serius, konsisten, dan berorientasi pada substansi,” tegasnya.
Rakernas kali ini menjadikan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Misnen Ardiansyah sebagai Ketua Umum AFEBIS periode 2026–2028. Sebagai ketua terpilih, Misnen menegaskan AFEBIS memiliki posisi penting dalam mendukung pengembangan ekonomi dan bisnis Islam di Indonesia.
Menurut Misnen, perkembangan ekonomi dan bisnis Islam saat ini menunjukkan tren yang sangat positif dan makin memperoleh perhatian, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Berbagai program dan kebijakan strategis nasional perlu diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan bisnis Islam sebagai bagian dari upaya mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Misnen juga menyoroti pesatnya perkembangan FEBI di berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Indonesia. Pertumbuhan jumlah program studi, peningkatan kualitas akademik, serta makin luasnya kontribusi FEBI dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat menunjukkan makin kuatnya posisi ekonomi dan bisnis Islam dalam lanskap pendidikan tinggi nasional.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, mengapresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada kepada kampusnya sebagai tuan rumah Rakernas AFEBIS 2026. Menurut Noorhaidi, AFEBIS bukan sekadar agenda seremonial, tetapi merupakan momentum penting untuk meneguhkan kembali komitmen bersama dalam memajukan pendidikan tinggi ekonomi dan bisnis Islam di Indonesia.