
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh, European Higher Education Fair (EHEF) 2026, yang merupakan inisiasi dari Delegasi Uni Eropa (EU), menghadirkan 69 institusi pendidikan tinggi dari seluruh Eropa dan menawarkan lebih dari 1.000 beasiswa. Setelah dari Yogyakarta, pameran pendidikan ini akan berlangsung di Jakarta pada Sabtu-Minggu (7-8/11/2026).
Bertempat di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), EHEF 2026 menjadi media untuk mencari informasi mengenai program studi dan peluang beasiswa, sekaligus memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk berinteraksi secara langsung dengan perwakilan universitas.
Kuasa Usaha Ad Interim Delegasi EU untuk Indonesia, Marco Bonetti, dalam sambutannya menegaskan pendidikan merupakan jantung dari strategi EU Global Gateway, yang bertujuan untuk membangun hubungan yang mantap terpercaya dan kekal secara jangka panjang.
“Melalui investasi pada sumber daya manusia, keterampilan, penelitian dan inovasi, tim Eropa’ menawarkan lebih dari 1.000 beasiswa kepada pelajar Indonesia setiap tahun,” jelasnya.
Menurut Marco, Yogyakarta dipilih karena telah lama dikenal sebagai destinasi pendidikan utama di Indonesia. EHEF memberikan nilai tambah yang signifikan bagi ekosistem pendidikan di Yogyakarta dengan mempertemukan para pelajar lokal serta komunitas akademis dengan berbagai institusi pendidikan tinggi dari Eropa.
Marco juga menegaskan penyiapan generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan menjadi alasan utama kemitraan pendidikan antara Eropa dan Indonesia terus diperkuat.
Menghadapi era perubahan besar dan berkembangnya teknologi yang sangat cepat, dengan ditandai hadirnya kecerdasan buatan serta teknologi-teknologi mutakhir, Marco menyebut dunia akan kesulitan untuk memprediksi secara pasti bagaimana konsep belajar yang nanti akan diterapkan untuk menghadapi perubahan.
“Jadi saya rasa inilah yang menjadi tujuan kita di sini, dan saya kira sangat baik untuk melakukannya bersama-sama. Eropa dan Indonesia, kita pada dasarnya menghadapi tantangan yang sama di sini," ujarnya.
Melihat antusiasme pelajar di Yogyakarta yang kehadirannya terus meningkat selama pelaksanaan EHEF di beberapa tahun terakhir, Marco menyebut Indonesia adalah negara besar dengan potensi luar biasa serta dipenuhi anak-anak muda yang cerdas. Mereka ingin mereka datang ke Eropa untuk berbagi pengetahuan dan belajar bersama.
Berbasis pada tingkat kunjungan tahun sebelumnya yang mencapai 5.000 pengunjung, tahun ini panitia menargetkan 6.000 pengunjung akan hadir selama pameran.
Modal Sosial
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Wening Udasmoro, menyampaikan akses terhadap perguruan tinggi luar negeri merupakan modal penting dalam membangun kapasitas sosial masyarakat.
"Acara ini penting untuk meningkatkan modal sosial (social capital) kita. Kita tahu bahwa pendidikan sebetulnya merupakan hal yang biasa bagi sebagian orang, tetapi bisa menjadi sebuah kemewahan (luxury) bagi yang lain,” katanya.
Wening menekankan pentingnya institusi pendidikan di Indonesia untuk tidak sekadar menjalankan proses pembelajaran secara rutin (business as usual), melainkan aktif membangun kolaborasi internasional guna memaksimalkan pertukaran pengalaman dan pengetahuan.
Wening melihat masa depan pendidikan Indonesia yang berkolaborasi dengan berbagai universitas internasional tidak hanya meningkatkan daya tawar dan kualitas intitusi pendidikan. Pertukaran pengalaman dan pengetahuan juga akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjadi maksimal.
“Dengan ekosistem pendidikan yang kompetitif, sebanyak 200 perguruan tinggi, banyak mahasiswa Yogyakarta yang ingin melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana di Eropa,” ujarnya.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ghofar Ismail, menyebut kehadiran perguruan tinggi Eropa langsung menyapa generasi muda dapat memperluas wawasan generasi sekaligus mempererat hubungan di bidang pendidikan antara Yogyakarta dan komunitas internasional.
Menurutnya, Pemda DIY menilai pentingnya kolaborasi multipihak dalam memperluas kesempatan pendidikan serta memperkuat hubungan akademik antara Indonesia dan Eropa. Melalui EHEF, tujuan ini diwujudkan dengan memfasilitasi interaksi langsung antara para pelajar dan institusi pendidikan tinggi di Eropa, sekaligus menciptakan ruang bagi pengembangan kemitraan pendidikan yang lebih luas.