logo

Kampus

Diangkat Guru Besar, Rektor UII Terpilih Soroti Peran Medsos dalam Demokrasi

Diangkat Guru Besar, Rektor UII Terpilih Soroti Peran Medsos dalam Demokrasi
Rektor UII Yogyakarta terpilih periode 2022-2026 Fathul Wahid ditetapkan sebagai Guru Besar Ilmu Sistem Informasi Fakultas Teknologi Industri, Senin (30/5/2022). (EDUWARA/Humas UII)
Setyono, Kampus30 Mei, 2022 20:15 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta terpilih periode 2022-2026 Fathul Wahid ditetapkan sebagai Guru Besar Ilmu Sistem Informasi Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, Senin (30/5/2022).

Lewat pidato pengukuhan berjudul 'Media Sosial; Penyubur atau Pengubur Demokrasi?' Fathul Wahid, yang akan dilantik pada Kamis (2/6/2022), menyoroti peran dan dampak media sosial (medsos) pada perkembangan demokrasi.

"Medsos, dalam beragam bentuknya telah menyedot perhatian pengguna internet dalam satu dekade terakhir," kata Fathul pada awal pidatonya di Auditorium KH Abdulkahar Mudzakkir.

Dari data yang dihimpunnya, Fathul menyatakan pada awal tahun ini saja pengguna medsos global mencapai 4,62 miliar atau setara dengan 58,4 persen populasi bumi. Jika diperdalam lagi, ada 74,8 persen pengguna yang berumur 13 tahun ke atas.

Sedangkan pada satu tahun terakhir ada sebanyak 424 juta atau 10,1 persen pengguna yang baru bergabung.

"Topiknya media sosial dan demokrasi. Tujuannya memahami fenomena secara lebih baik dan mengedukasi publik supaya menjadi pemikir mandiri, mampu memanen manfaat, dan sekaligus menghindari dampak buruk medsos," paparnya.

Pencabut Ruh Demokrasi

Lewat pidatonya, Fathul menyatakan ada hubungan yang erat antara penetrasi medsos dan pertumbuhan demokrasi. Tetapi pada sisi lain, penggunaan medsos justru memberikan dampak yang sebaliknya, membajak dan menguburkan demokrasi.

"Dalam konteks perhelatan politik, kebebasan dire algoritma tertentu dikembangkan untuk mengolah data penggunaan media sosial. Dengan algoritma ini, opini publik dimanipulasi dan perilakunya dimodifikasi," jelasnya.

Dunia medsos oleh para politisi digunakan untuk melakukan represi atau memanipulasi opini publik, dan bahkan membangun kediktatoran.

Pendekatan algoritma yang dilakukan lewat medsos di antaranya penyetelan (tuning) alir perilaku pada waktu dan lokasi yang tepat, penggiringan (herding) yang melibatkan konteks terdekat pengguna medsos untuk direspons, atau pengondisian (conditioning) pengguna secara massal untuk melakukan tindakan tertentu.

"Aktor dibalik keotoriteran varian baru sebagai autokrat informasi (informational autocrat) atau diktator pemutar balik fakta (spin dictator) adalah pencabut ruh demokrasi yang sejati. Meski label demokrasi tetap dipakai karena mereka berpura-pura bersikap demokratis," jelasnya.

Pada akhir pidatonya Fathul menegaskan jika rezim otoriter terbentuk, maka masa depan demokrasi terancam. Keotoriteran sekarang ini tidak lagi dilakukan dengan menebar ketakutan dengan kekuatan militer, tetapi melalui pemutarbalikan informasi dan fakta.

Selain Fathul, UII juga menetapkan Budi Agus Riswadi sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Fakultas Hukum. Pidatonya berjudul 'Teknologi Blockchain, Hak Cipta, dan Islam'.

Read Next