
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Berlangsung mulai Senin-Jumat (22-26/6/2026), Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memamerkan 150 karya, yang disebut menjadi sebuah refleksi atas kemanusiaan. Perhelatan ini juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan FSMR ISI Yogyakarta dalam memperkuat rekognisi internasional melalui berbagai kolaborasi strategis.
Bertajuk ‘Narrating Humanity: Kesadaran Sosial dan Kreativitas Seni Media Rekam di Era Artificial Intelligence’, pameran ini merupakan respons sekaligus penjabaran dari tema besar Dies Natalis ISI Yogyakarta tahun 2026, ‘Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence’.
Dekan FSMR ISI Yogyakarta, Edial Rusli, menjabarkan rangkaian kegiatan diawali melalui Exhibition “Narrating Humanity” yang berlangsung di Galeri Pandeng FSMR ISI Yogyakarta dan Gedung AUVI ISI Yogyakarta.
“Pameran ini menampilkan karya-karya fotografi, animasi, film, televisi, dan media digital yang mengangkat berbagai perspektif mengenai kehidupan, identitas, budaya, serta isu-isu kemanusiaan melalui pendekatan visual dan audiovisual,” kata Edial Rusli, dikutip Selasa (23/6/2026).
Secara keseluruhan, pameran ini menghadirkan 150 karya dari berbagai program studi (prodi) di lingkungan FSMR ISI Yogyakarta. Prodi Animasi menampilkan 38 karya, yang terdiri atas 12 karya animasi, 12 buku cerita anak, 5 game, 5 ilustrasi digital, 2 desain karakter, 1 poster, dan 1 story bible.
“Karya-karya tersebut menunjukkan perkembangan praktik animasi yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga pendidikan, interaktivitas, dan pengembangan narasi visual,” ucapnya.
Prodi Film dan Televisi (FTV) menghadirkan 18 karya, terdiri atas 9 film fiksi, 2 film dokumenter, 1 video art, 1 film tari, 4 naskah, dan 1 program televisi. Karya-karya tersebut merupakan hasil kolaborasi yang melibatkan dosen dan mahasiswa dalam berbagai eksplorasi bentuk audiovisual yang merefleksikan dinamika sosial, budaya, dan estetika kontemporer.
Prodi Produksi Film dan Televisi (PFT) turut berpartisipasi melalui 7 karya, yang terdiri atas 6 film dan 1 ilustrasi karya, menampilkan berbagai pendekatan produksi audiovisual yang menggabungkan kreativitas artistik dengan kompetensi teknis industri.
Prodi Fotografi menampilkan 87 karya, meliputi 26 karya pajang dalam negeri, 5 karya pajang luar negeri, 6 karya slideshow luar negeri, 6 portofolio foto dokumenter, 16 foto produk, 8 karya fotografi otomotif, 7 foto ekspresi, 3 foto model, serta 10 karya pajang lainnya yang terdiri atas foto produk dan fotografi komersial.
Relevansi Sosial
Edial menambahkan, keberagaman karya dalam pameran ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dan dosen FSMR ISI Yogyakarta dalam menjelajahi berbagai spektrum praktik fotografi, mulai dari dokumentasi sosial hingga kebutuhan industri kreatif.
Melalui rangkaian pameran, simposium internasional, workshop, hingga layar tancap, FSMR ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan praktik seni media rekam yang tidak hanya unggul secara akademik dan artistik, tetapi juga memiliki relevansi sosial serta dampak nyata bagi masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin masif, FSMR ISI Yogyakarta menempatkan seni sebagai ruang refleksi kemanusiaan, medium dialog sosial, sekaligus wahana inovasi kreatif yang adaptif terhadap perubahan zaman.
“Perhelatan ini juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan FSMR ISI Yogyakarta dalam memperkuat rekognisi internasional melalui berbagai kolaborasi strategis,” ucap Edial.
Koordinator pameran FSMR ISI Yogyakarta, Yusup Davit Palma Putra, menegaskan melalui rangkaian pameran, simposium internasional, workshop, hingga layar tancap, FSMR ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan praktik seni media rekam yang tidak hanya unggul secara akademik dan artistik, tetapi juga memiliki relevansi sosial serta dampak nyata bagi masyarakat.
“Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin masif, FSMR ISI Yogyakarta menempatkan seni sebagai ruang refleksi kemanusiaan, medium dialog sosial, sekaligus wahana inovasi kreatif yang adaptif terhadap perubahan zaman,” tegasnya.
Sebagai mitra utama dalam pelaksanaan Asia Pacific Arts Forum (APAF) Symposium, Konfir Kabo selaku pendiri Project Eleven, mengatakan kolaborasi ini memperluas jejaring internasional ISI Yogyakarta sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan lintas budaya dan disiplin yang semakin relevan dalam lanskap seni global kontemporer.
Selain menjadi ruang apresiasi karya, pameran ini juga menjadi arena pertemuan antara sivitas akademika, praktisi kreatif, mahasiswa, alumni, dan masyarakat umum untuk membangun dialog yang lebih luas mengenai peran seni media rekam dalam merespons berbagai persoalan sosial kontemporer.