
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Gelaran pameran ‘Post-Machine Algorithm; Resonansi Rasa dalam Jejaring Biner’, yang diselenggarakan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menjadi penegasan bahwa seni tetap memiliki peran sentral dalam menjaga rasa, empati, imajinasi, dan martabat kemanusiaan.
Sebanyak 167 karya dari 120-an perupa, kolabarasi mahasiswa, alumnus, dosen dan mitra ISI Yogyakarta, memadukan refleksi konseptual, kekuatan visual, dan kedalaman gagasan. Karya-karya yang ditampilkan menempatkan seni sebagai kekuatan humanistik yang tetap berpijak pada rasa, intuisi, pengalaman, materialitas, dan kesadaran kemanusiaan.
Pameran ‘Post-Machine Algorithm’ yang berlangsung Sabtu-Jumat (20-26/6/2026) di Galeri RJ Katamsi ini resmi dibuka oleh Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi pada Sabtu (20/6/2026) malam.
“Gelaran ini merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-42. ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi seni yang aktif merespons perubahan zaman,” tegas Irwandi.
Melalui tema besar Dies Natalis ke-42, yaitu ‘Redefining Arts Impact’, ISI Yogyakarta menempatkan seni bukan hanya sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai instrumen kemanusiaan yang mampu membangun empati lintas budaya, menciptakan narasi alternatif, serta mengkritisi dominasi logika algoritmik di era digital.
Melalui pameran ini pula, ISI Yogyakarta menempatkan seni sebagai kekuatan yang mampu menavigasi perubahan, mengkritisi perkembangan teknologi secara etis, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi kebudayaan, pendidikan, dan kemanusiaan.
“Pameran ini mengajukan pandangan bahwa algoritma sejati tidak hanya hadir sebagai kode pemrograman, tetapi juga sebagai ‘algoritma rasa’ yang terbentuk melalui pengalaman hidup, sentuhan tangan, dan kesadaran kemanusiaan,” katanya.
Kekuatan Humanistik
Dekan FSRD ISI Yogyakarta, Muhamad Sholahuddin, mengatakan seluruh karya yang ditampilkan pada pameran ini, terutama dari para mahasiswa, merupakan hasil karya pendidikan selama setahun terakhir. Pameran juga menghadirkan karya dari alumnus, dosen dan mitra ISI Yogyakarta dari Thailand, Malaysia, Jepang dan Australia.
“Melalui pameran ini, FSRD ISI Yogyakarta memperlihatkan bagaimana praktik seni rupa dan desain dapat berperan strategis dalam membaca perubahan peradaban. Seni tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga perangkat refleksi, kritik, pemulihan, dan penciptaan makna,” katanya
Sholahuddin berharap pameran ini menjadi pondasi penting bagi ISI Yogyakarta dalam memperkuat reputasinya sebagai pusat pendidikan tinggi seni, yang tidak hanya menjaga keberlanjutan tradisi dan kebudayaan, tetapi juga aktif memimpin percakapan tentang masa depan seni di tengah transformasi teknologi global.
Post-Machine Algorithm juga dinilai menjadi bagian penting dalam program misi lintas budaya, refleksi dan jembatan bagi pengalaman pengalaman manusia dalam perkembangan sosial, budaya dan teknologi.
“Pameran ini terbuka sebagai ruang apresiasi bagi sivitas akademika dan publik untuk melihat bagaimana seni bekerja di tengah zaman yang semakin digerakkan oleh data, mesin, dan kecerdasan buatan,” paparnya
Mewakili dua kurator pameran, Nadiyah Tunnikmah, mengatakan pameran ini dihadirkan sebagai ruang pembacaan kritis terhadap perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan perubahan lanskap kreatif kontemporer.
Dipaparkan Nadiyah, gagasan utama pameran ini berangkat dari pertanyaan mendasar tentang posisi manusia ketika teknologi semakin mampu mengambil alih sebagian proses kreatif.
“Di tengah kemajuan teknologi yang semakin mampu memprediksi, mengimitasi, bahkan memproduksi estetika, ISI Yogyakarta menempatkan seni sebagai kekuatan humanistik yang tetap berpijak pada rasa, intuisi, pengalaman, materialitas, dan kesadaran kemanusiaan,” ucapnya.
Karena itu, Nadiyah menegaskan karya seni tidak semata diposisikan sebagai hasil akhir, melainkan sebagai proses yang menyimpan intuisi, pengalaman hidup, memori kolektif, dan jejak kemanusiaan yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi oleh mesin.
Berbagai karya yang ditampilkan dalam pameran ini, menurut Nadiyah, merupakan karya perupa dengan bermacam-macam latar belakang budaya dan lingkungan sehingga menghasilkan perspektif setelah melihat perkembangan teknologi yang sangat beragam.