
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA – Pada situasi kurangnya jumlah guru besar di Indonesia, kehadiran para guru besar yang sekarang ada haruslah berperan sebagai "penjaga nilai". Tidak hanya dituntut melahirkan terobosan riset, para guru besar juga harus mengutamakan kemanusiaan.
Penegasan ini disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto saat menghadiri Seminar dan Rapat Kerja Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (13/2/2026).
"Peran strategis guru besar sebagai penggerak utama kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi nasional. Mereka sebagai guardian of values atau penjaga nilai yang diharapkan mampu melahirkan terobosan riset serta teknologi bagi kemajuan bangsa," katanya.
Meski demikian, harapan besar pemerintah terhadap kontribusi perguruan tinggi tidak lepas dari tantangan pembangunan bangsa yang masih menghadapi keterbatasan sumber daya, termasuk anggaran riset.
Namun, Brian optimistis Indonesia mampu mengejar ketertinggalan sebagaimana negara-negara maju yang pernah berada pada fase serupa.
“Pemerintah menaruh harapan yang sangat besar karena bangsa kita bisa keluar dari berbagai keterbatasan jika ilmu pengetahuan dan teknologi berperan signifikan. Karena itu, terobosan pemikiran baru yang lahir dari para guru besar sangat dinantikan,” katanya.
Brian juga mengkritisi dikotomi yang kerap muncul di kalangan akademisi Indonesia antara riset dan produk. Menurutnya, keduanya tidak dapat dipisahkan karena inovasi lahir dari fondasi penelitian yang kuat.
“Produk teknologi yang kuat lahir dari riset yang kuat. Semakin kuat riset, semakin besar peluang menghasilkan produk yang bermanfaat,” tegasnya.
Panggilan Pengabdian
Pada sisi lain, Brian mengakui bahwa keterbatasan infrastruktur dan pendanaan riset di Indonesia masih menjadi tantangan. Namun, ia menekankan bahwa kolaborasi dan kemitraan global dapat menjadi solusi untuk menutup kekurangan tersebut.
Lebih jauh, Brian mengajak para guru besar meneladani ilmuwan peraih Nobel yang menjadikan kontribusi bagi kemanusiaan sebagai motivasi utama, bukan sekadar angka publikasi atau penghargaan.
Sejalan dengan hal tersebut, Brian berharap para guru besar dapat menempatkan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai panggilan pengabdian, bukan sekadar capaian administratif maupun angka publikasi. Ia menilai, semangat berkontribusi yang lahir dari kesadaran akademik inilah yang akan mendorong lahirnya inovasi yang berdampak bagi bangsa.
Pada bagian lain, Rektor UMY, Achmad Nurmandi menerangkan saat ini Indonesia masih menghadapi kekurangan guru besar. Dari total sekitar 340 ribu dosen, hanya tiga persen yang menyandang jabatan profesor.
Kondisi tersebut dinilai mengkhawatirkan bagi penguatan kapasitas akademik sekaligus peningkatan daya saing bangsa. Jumlah tersebut belum sebanding dengan kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang terus berkembang di berbagai sektor strategis nasional.
“Jumlah tiga persen, menurut saya, sangat sedikit dibandingkan dengan kebutuhan bangsa. Padahal, guru besar sangat penting untuk meningkatkan daya saing bangsa. Kita masih terus berjuang meningkatkan daya saing, terutama melalui pendidikan tinggi. Di situlah peran guru besar menjadi sangat menentukan,” tegas Nurmandi.
Dalam situasi global yang tidak stabil, lanjut Nurmadi, keterlibatan guru besar menjadi elemen fundamental dalam proses perumusan kebijakan publik yang berbasis riset dan bukti ilmiah. Forum guru besar diharapkan mampu menjadi kekuatan intelektual yang mengawal arah pembangunan nasional.
“Rapat kerja ini penting bagi kita untuk mengartikulasikan kepentingan publik dalam kebijakan. Bagaimana kebijakan negara itu berbasis bukti, fakta, dan informasi. Tantangan kita di berbagai cabang ilmu adalah memastikan keputusan publik tidak lahir tanpa landasan akademik yang kuat,” tandasnya.