logo

Kampus

Hadapi Perkembangan AI, 11 Perguruan Tinggi Bahas Kurikulum Adaptif CDIO

Hadapi Perkembangan AI, 11 Perguruan Tinggi Bahas Kurikulum Adaptif CDIO
Penyelenggaraan Workshop ELEVATE Higher Education (HE) Workshop 2: The Modern Curriculum & Graduate Readiness di Gedung Pusat UGM. Kegiatan yang berlangsung pada Senin-Rabu (28-30/9/2026) ini mempertemukan perwakilan dari 11 perguruan tinggi di Indonesia untuk membahas transformasi kurikulum dan kesiapan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja serta masyarakat. (EDUWARA/Dok. UGM)
Setyono, Kampus01 Oktober, 2026 21:59 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Sebanyak 11 perguruan tinggi merancang kurikulum yang mampu mengintegrasikan keterampilan teknis dengan keterampilan manusia untuk menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI). Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah kerangka Conceive-Design-Implement-Operate (CDIO) atau merumuskan, merancang, menerapkan, dan mengoperasikan yang dapat digunakan untuk menyusun pengalaman pembelajaran berbasis kebutuhan dunia kerja.

Bertempat di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, perwakilan 11 perguruan tinggi ini sepakat bahwa pembaharuan diperlukan tidak hanya dari sisi pengetahuan teknis dalam kurikulum, tetapi juga memastikan mahasiswa memiliki keterampilan yang tetap relevan di tengah perubahan dunia kerja.

Hal ini menjadi fokus topik diskusi hari kedua dan ketiga workshop ELEVATE Higher Education (HE) Workshop 2: The Modern Curriculum & Graduate Readiness di Gedung Pusat UGM. Kegiatan yang berlangsung pada Senin-Rabu (28-30/9/2026) ini mempertemukan perwakilan dari 11 perguruan tinggi di Indonesia.

Saat membahas transformasi kurikulum dan kesiapan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja serta masyarakat, Direktur Sekolah Teknik Elektro dan Elektronika Singapore Polytechnic, Lim Joo Ghee, memperkenalkan lima keterampilan manusia yang dinilai penting untuk dikembangkan mahasiswa, yaitu berpikir kritis, kreativitas dan inovasi, pembelajaran mandiri, kerja sama tim, serta komunikasi.

“Kelima keterampilan tersebut perlu berjalan bersama dengan pemahaman mengenai etika, tanggung jawab, dan literasi AI,” terang Lim Joo Ghee dikutip, Kamis (1/10/2026).

Menurut Lim Joo Ghee, literasi AI tidak hanya berarti memahami teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk menggunakan AI, belajar bersama AI, serta mengembangkan kemampuan yang melampaui penggunaan teknologi tersebut.

Dalam pengembangan kemampuan kerja sama tim, Lim Joo Ghee juga membagikan pengalaman dalam mengembangkan asesmen kerja tim melalui Comprehensive Assessment of Team Member Effectiveness (CATME).

Dalam skema tersebut, mahasiswa melakukan penilaian terhadap diri sendiri dan anggota tim berdasarkan sejumlah dimensi kerja sama. Hasil asesmen kemudian digunakan untuk memantau perkembangan keterampilan kerja tim mahasiswa selama masa studi.

Inventaris Keterampilan

Dosen Politeknik Negeri Batam, Muhammad Arifin, yang menggunakan silabus CDIO untuk memetakan tingkat kemahiran kompetensi lulusan, menjelaskan silabus CDIO bukan merupakan silabus mata kuliah atau Rencana Pembelajaran Semester (RPS), melainkan inventaris keterampilan yang dapat dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan program studi.

Untuk mengetahui tingkat kompetensi yang dibutuhkan, Politeknik Negeri Batam mengembangkan Graduate Expected Proficiency Level Survey. “Survei tersebut melibatkan empat kelompok pemangku kepentingan, yaitu alumni senior, alumni junior, dosen, serta industri atau perusahaan,” ujarnya.

Tingkat kemahiran dalam survei dipetakan pada level 0 hingga 5, mulai dari tidak dibutuhkan, sekadar terekspos, mampu berpartisipasi, memahami dan menjelaskan, hingga mampu menerapkan serta melakukan inovasi dan memimpin.

Muhammad Arifin menjelaskan tingkat kedalaman kompetensi juga perlu disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan karakteristik program studi. “Silabus itu adalah skillset. Di CDIO itu sudah menyediakan skillset apa saja,” jelasnya.

Hasil pemetaan tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu referensi dalam pengembangan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan pembaharuan kurikulum. Dari pengalaman Politeknik Negeri Batam, kebutuhan industri tidak hanya berada pada kompetensi teknis, tetapi juga keterampilan seperti etika, teamwork, dan komunikasi.

Direktur Politeknik Gajah Tunggal, Ita Mariza, memaparkan model pembelajaran ketat yang mewajibkan mahasiswa menyelesaikan permasalahan teknis langsung dari pabrik perusahaan sponsor. Berbeda dengan institusi negeri, menurut Ita, politeknik berbasis sponsor industri menerapkan pendanaan penuh dari perusahaan, sehingga seluruh proyek kurikulum dirancang untuk menjawab tantangan industri secara langsung.

“Progresi kurikulum disusun secara bertahap, yakni semester pertama dan kedua berfokus pada identifikasi masalah nonteknis, semester ketiga dan keempat pada rekayasa teknik, serta semester kelima dan keenam pada pemecahan masalah lini produksi. Dalam proses ini, pimpinan pabrik setingkat deputi hingga kepala pabrik diterjunkan langsung sebagai mentor mahasiswa,” paparnya.

Selain penguasaan teknis, aspek perilaku dan kedisiplinan mendapat porsi penilaian sebesar 15 persen dalam struktur evaluasi. Ita juga menegaskan bahwa kerangka kerja CDIO tidak hanya terbatas pada bidang teknik, tetapi juga efektif diterapkan pada disiplin ilmu non-teknik seperti pendidikan, administrasi bisnis, dan ilmu sosial untuk menyelesaikan masalah partisipasi maupun manajemen.

“CDIO bisa juga diimplementasikan di education, business administration, hingga social science. Prosesnya sama, menguraikan masalahnya apa, dirancang, diterapkan, lalu dievaluasi ketercapaiannya,” tutupnya. 

Read Next