logo

Art

Kampung Budaya Polowijen Malang Gelar Wilujengan, Megengan dan Nyadran

Kampung Budaya Polowijen Malang Gelar Wilujengan, Megengan dan Nyadran
Para seniman menghibur tamu dengan pentas tari pada perhelatan Wilujengan Pahargyan, Megengan Mapag Wulan Siam sekaligus Nyadran ke Makam Empu Topeng Malang, Jumat (1/4/2022). (EDUWARA/Istimewa)
Fathul Muin, Art02 April, 2022 22:28 WIB

Eduwara.com, MALANG — Wilujengan, Megengan, dan Nyadran merupakan budaya Jawa. Kampung Budaya Polowijen (KBP) Kota Malang, menghidupkan tradisi dan budaya Jawa itu dalam perhelatan memperingati usia ke-108 Kota Malang, Hari Jadi Ke-5 Kampung Budaya tersebut, dan menyambut Ramadan lewat perhelatan Wilujengan PahargyanMegengan Mapag Wulan Siam sekaligus Nyadran ke Makam Empu Topeng Malang, Jumat (1/4/2022).

Acara dimeriahkan dengan musik angklung binaan KBP sebagai pembuka dan penutup acara, dari siang selepas sholat Jumat hingga sore hari. Acara dibuka dengan Tari Topeng Grebeg Jowo KBP, dilanjutkan dengan Tari Maheswari dari Sanggar Denandar Lawang binaan Endar Zulaifah. 

Memasuki acara inti, Titik Nur Fajriyah selaku Ketua Sentra Batik dan Topeng KBP mewakili tuan rumah KBP menyampaikan ucapan selamat HUT ke-108 Kota Malang dan HUT ke-5 KBP.

"Ini momentum bersejarah di KBP yang sulit terjadi, di mana HUT Kota Malang berbarengan dengan HUT KBP, tapi dikemas jadi satu dalam acara Wilujengan, Megengan Mapag Wulan Siam, dilanjutkan dengan Nyadran ke Makam Empu Topeng Malang" kata Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko.

Wawali Malang yang akrab disapa Bung Edi, mengatakan KBP mewakili Kota Malang sebagai satu-satunya kampung wisata berbasis budaya ini dianggap paling rutin merepresentasikan kegiatan seni tradisi, kegiatan adat, tradisi, ritus sebagai upaya pelestarian budaya.

KBP telah mendapatkan anugerah Insan Pengembangan Kebudayaan Kota Malang dari Dinas Kebudayaan Kota Malang pada tahun 2021 dan mendapatkan prestasi sebagai Kampung Penyelenggara Event Terbaik se Kota Malang Tahun 2021 dari Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang.

Edi juga mengapresiasi KPB karena selama lima tahun berproses, dengan terbentuknya tiga pilar kelompok KBP, yakni Kelompok Sadar Wisata binaan Disporapar, Kelompok Seni Budaya KBP binaan Dikbud dan Kelompok Sentra Batik dan Topeng binaan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang.

"Majunya Kota Malang justru disokong oleh kelompok dan komunitas mandiri seperti KBP dan itu perlu ditiru dan diapresiasi," ucapnya.

Tumpeng Sak Jodo

Usai kegiatan seremonial, Wilujengan Pahargyan HUT ke-108 Kota Malang dan HUT ke-5 KBP dipandu Ki Demang Penggagas KPB dengan menggelar Tumpeng Sak Jodo dilengkapi dengan sajen cok bakal jangkepjenang poncowarno dan jenang palang, kembang setaman serta apem dan pisang sebagai pertanda Wilujengan Pahargyan dan Megengan dimulai. 

Saat uborampe wilujengan di-ujubkan (didoakan) oleh Ki Demang yang bernama asli Isa Wahyudi, ditampilkan Tari Srimpi Limo, sebuah tari ritual khusus sebagai tarian doa ungkapan rasa syukur permohonan dan harapan kepada sang Pencipta.

Selama 20 menit suasana sangat khidmat, diikuti dengan para para tamu dan pengunjung acara pertanda mengamini doa dan sajian tarian. Pesta dilanjutkan dengan dua sajian tarian Sintren sebagai hiburan sambil kepada para pengunjung dibagikan apem megengan wulan siam sebagai pertanda permintaan maaf KBP kepada semua warga dan pengunjung dalam acara Festival Kampung Budaya Polowijen ke-5.

Acara terakhir adalah nyadran ke makam Empu Topeng Malang, Mbah Reni/Ki Tjondro Suwono, yang sebelumnya dibuka dengan Tari Sadran dari Sanggar Denandar Lawang. Usai menari semua warga KBP, penari, pelaku seni budaya yang hadir ikut arak-arakan dari KBP menuju ke makam Mbah Reni dipandu oleh Yulianto, perajin topeng alang KBP dengan membawa topeng, kembang, wayang kulit topeng. 

Acara Nyadran dipandu Yudhit Perdananto (dalang Wayang Topeng Malang), didoakan oleh Ki Soroso Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang yang juga guru tari topeng Malang dari Kedungmonggo. Selanjutnya, ditutup dengan kidungan oleh Ki Bambang Supriyono (dalang Wayang Topeng Malang dan guru Tari Topeng Malang dari Tumpang) dan pesta budaya tradisional itu pun usai.

Read Next