
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Guru Besar Bidang Ilmu Kecerdasan Buatan Terapan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Slamet Riyadi, mengatakan pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) ke depan akan menghadirkan tantangan bukan semata-mata membatasi risikonya.
Tetapi, memastikan teknologi kecerdasan buatan ini benar-benar dimanfaatkan untuk memperkuat nilai kemanusiaan dan meninggikan martabat manusia, ke depan kehadiran standar keamanan dan tata kelola AI harus dirancang secara menyeluruh.
“Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga mencakup peningkatan literasi pengguna serta regulasi yang tegas dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” kata Slamet Riyadi, Senin (2/2/2026).
Pasalnya, jika hanya melihat dari sisi teknologi, persoalan penyalahgunaan AI tidak akan pernah tuntas. Karena itu, dari sudut pandang Slamet, harus ada pendekatan terpadu yang melibatkan teknologi, manusia sebagai pengguna, dan regulasi yang jelas.
Dosen Program Studi Teknologi Informasi Fakultas Teknik UMY ini menambahkan regulasi memegang peran penting sebagai lapisan pengaman terakhir dalam tata kelola kecerdasan buatan. Dalam hal ini, termasuk pengaturan sanksi dan larangan yang tegas terhadap penggunaan AI yang melanggar etika.
“Ini sebagai antisipasi pemanfaatan AI generatif yang merupakan teknologi yang dirancang untuk menghasilkan konten, baik berupa teks, gambar, suara, maupun video, melalui proses pembelajaran mendalam berbasis data dalam jumlah besar,” ucapnya.
Penggunaan teknologi kecerdasan buatan generatif yang tidak sesuai dengan prinsip etika, disebut Slamet, berpotensi berdampak pada martabat manusia.

Motor Penggerak
Sementara itu, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) kembali menegaskan posisinya sebagai motor penggerak transformasi digital nasional melalui penyelenggaraan Konferensi Nasional Sistem Informasi dan Teknologi Informasi (KONSTELASI) 2026.
Mengusung semangat kolaborasi dan inovasi berbasis AI, konferensi ini digelar pada Kamis-Jumat (19-20/1/2026), di Denpasar, Bali dan dihadiri 65 pemakalah dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera Utara hingga Nusa Tenggara Timur.
Para pemakalah pada KONSTELASI 2026 ini membawa beragam perspektif riset dan praktik terbaik dalam menghadapi tantangan transformasi digital. Keberagaman ini memperkaya diskursus nasional terkait pengembangan sistem informasi yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Mengangkat tema besar transformasi berbasis AI, KONSTELASI 2026 menjadi forum strategis bagi akademisi, peneliti, dan profesional untuk mendiskusikan arah pembangunan peradaban digital yang terpercaya, etis, dan berkelanjutan.
“Konferensi ini tidak hanya menjadi ruang berbagi gagasan, tetapi juga inkubator pemikiran kritis dalam merespons percepatan adopsi teknologi AI di berbagai sektor,” kata Ketua Program Studi Sistem Informasi UAJY, FI Sapty Rahayu, Senin (2/2/2026).