logo

Kampus

KKN UNY Gelar Bimbingan Calistung bagi Siswa Berkebutuhan Khusus

KKN UNY Gelar Bimbingan Calistung bagi Siswa Berkebutuhan Khusus
Salah satu siswa berkebutuhan khusus di SD Paulan, Colomadu, Karanganyar (EDUWARA/Dok. UNY)
Setyono, Kampus20 September, 2022 21:14 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Menyadari kekurangan pada siswa berkebutuhan khusus dalam membaca, menulis dan berhitung (Calistung) karena dampak pandemi dan kurangnya tenaga pengajar, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), memberikan bimbingan Calistung bagi siswa di SDN Paulan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar.

Para mahasiswa UNY tersebut adalah Fatimah El Zahra (Pendidikan Bahasa Inggris), Nada Fajar Pertiwi (Pendidikan Matematika), Murwarita Rismi Asih (Pendidikan Administrasi Perkantoran), Muhammad Ilham Setyo Bayutomo (PJKR), dan Muhammad Nawawi (Pendidikan Teknik Otomotif). 

Mahasiswa lainnya adalah Widya Aprilia Mujiarsih (Pendidikan IPA), Hadina Pramesti Diba Susilowati (Psikologi), Lidwina Mariesta Dewi (Pendidikan Luar Biasa), Ardila Salsabela Arifa (Pendidikan Bahasa Jerman) dan Timotius Patma Ardi Pamungkas (Biologi).

Para mahasiswa tersebut diperbantukan di SDN Paulan yang memiliki siswa 77 siswa dan beberapa di antaranya adalah anak berkebutuhan khusus (ABK) seperti disabilitas fisik dan tidak bisa berbicara.

"Karena pandemi dan kurangnya tenaga pengajar, kami menemukan beberapa siswa, terutama yang berkebutuhan khusus mengalami ketertinggalan dari segi akademik, terutama dalam hal Calistung," kata Ilham Setyo, mewakili delapan rekan lainnya, Selasa (20/9/2022).

Untuk mengejar ketertinggalan hal itu, mahasiswa UNY tersebut kemudian menghadirkan bimbingan belajar setiap Senin dan Rabu bagi anak didik kelas 4, 5 dan 6. Ketiga kelas ini dipilih karena faktor kelas besar di mana kemampuan dasar yang seharusnya sudah dapat dikuasai siswa namun pada realitanya belum mampu.

"Sehingga kami melihat mereka membutuhkan pendampingan belajar atau tambahan jam belajar. Tapi sebelumnya, untuk mengetahui tingkat pemahaman mereka kami mengadakan tes Calistung dan penalaran," lanjutnya.

Hasil pre-test menunjukkan tiga tingkatan kemampuan siswa yaitu di bawah rata-rata. Siswa yang berada dalam tingkatan ini yaitu siswa yang mendapat nilai di bawah 6, dilihat dari kemampuan dalam memahami soal serta penulisan jawaban.

Hasil pre-test secara keseluruhan terdapat anak yang memiliki kemampuan akademik baik namun juga ada yang memiliki kemampuan akademik yang kurang dan sangat kurang. Bahkan masih ada yang belum bisa memahami soal, belum bisa menuliskan sesuai tata bahasa yang baik, dan kurang dalam kemampuan berhitung matematika.

Berdasarkan hasil tes pula, pembelajaran difokuskan pada materi matematika seperti perhitungan dasar yaitu penjumlahan campuran, perkalian, hingga pembagian.

Selain masalah ketertinggalan akademik, tim dihadapkan pada salah seorang siswa yang telah berusia 14 tahun namun masih duduk di bangku kelas 6 dan siswa penyandang tunagrahita. Menurut Lidwina Mariesta Dewi, siswa ini mengalami slow learner dengan rentang IQ 70-80. Sedangkan siswa penyandang tunagrahita dengan IQ kurang dari 70.

 "Hal yang dapat dilakukan adalah melakukan tes IQ dan dilakukan asesmen baik akademik maupun asesmen perkembangan siswa. Kami akan memberikan motivasi kepada mereka berdua untuk lebih baik lagi," jelasnya.

Read Next