
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menginisiasi terobosan dalam pengelolaan sampah berbasis digital. Melalui program hilirisasi keilmuan, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN 120 UIN Sunan Kalijaga, Rika Lusri Virga, menghadirkan Sistem Jaringan Informasi dan Komunikasi Digital Pengelolaan Sampah dalam bentuk platform website bernama GenHi (Generasi Hijau).
Program hilirisasi Sistem Informasi dan Komunikasi Digital ini dilaksanakan di lokasi KKN UIN Sunan Kalijaga, di wilayah Kelurahan Purwokinanti, Kemantren Pakualaman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Rika Lusri Virga menjelaskan platform GenHi lahir dari hasil riset panjang terhadap kondisi pengelolaan sampah di Purwokinanti. Kelurahan ini dikenal sebagai salah satu kelurahan peraih penghargaan di bidang pengelolaan sampah dan memiliki bank sampah aktif di setiap RW.
Menurut Rika, yang merupakan dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun ini KKN mengusung konsep baru dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sunan Kalijaga, yakni KKN Berkelanjutan.
"Kita akan membuat program KKN yang berkelanjutan. Kemudian pemetaan permasalahannya kita lakukan di awal, sebelum anak-anak turun," kata Rika, Jumat (14/8/2026).
Kelurahan Purwokinanti sudah ditetapkan sebagai kawasan proyek percontohan pengelolaan sampah mandiri oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta dan terlihat berjalan efektif.
Awalnya, tim sempat ragu karena Purwokinanti sudah berprestasi di bidang sampah. Namun setelah melakukan observasi lapangan, ditemukan celah utama, yaitu belum adanya sistem informasi dan komunikasi digital yang menghubungkan antar bank sampah.
"Purwokinanti ini salah satu kelurahan yang memiliki bank sampah di setiap RW dan aktif. Hanya saja bank sampah-bank sampahnya itu tidak terkoneksi. Mereka hanya melakukan tugas memilah dan menimbang kemudian disetor, tapi tidak saling meng-update informasi," jelasnya.
Padahal, lanjut Rika, setiap bank sampah memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. Ada yang unggul mengolah minyak jelantah, ada yang mampu membuat kerajinan dari limbah sachet minuman. Potensi studi tiru ini tidak tersebar karena minimnya komunikasi.
"Karena kepakaran saya di komunikasi dan media digital, akhirnya saya membantu membuat website yang menghubungkan mereka, antar bank sampah, untuk saling bertukar informasi dan melakukan komunikasi digital melalui satu platform," lanjutnya.
Pilot Project
Melalui GenHi, pengelola Bank Sampah dan Nasabah Bank Sampah dapat saling bertukar informasi dan berkomunikasi terkait jadwal dan jenis sampah yang akan dikelola. Nasabah juga bisa mendaftar secara digital lintas RW, kelurahan, bahkan kabupaten. Tujuannya, untuk meringankan beban pengelola yang punya modal sosial tinggi.
“Dengan membantu mengkomunikasikannya, pemasukan dan sirkular ekonominya mudah-mudahan jadi lebih besar. Platform GenHi itu singkatan dari Generasi Hijau, tujuannya untuk membawa masyarakat lebih mencintai lingkungan," paparnya.
Saat ini, lanjut Rika, GenHi menjadi pilot project untuk 15 bank sampah aktif di Purwokinanti yang sudah memiliki jam operasional rutin. Penelitian dasar telah dilakukan sejak akhir tahun 2025 dan dua bulan terakhir sudah mulai diujicobakan.
Dengan hadirnya GenHi, Purwokinanti diharapkan menjadi model Kelurahan Digital dalam pengelolaan sampah yang tidak hanya mengatasi persoalan lingkungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat luas.
Program ini juga sejalan dengan konsep KKN Berkelanjutan UIN Sunan Kalijaga, di mana lokasi KKN, DPL, dan program kerja akan dipertahankan selama 3 tahun berturut-turut di titik yang sama.
Ketua Forum Bank Sampah Kemantren Pakualaman, Eni Sulistiyawati, menyambut baik inovasi ini. Menurutnya, sosialisasi teknologi bank sampah sangat dibutuhkan dan sangat berguna sekali.
“Tidak setiap bank sampah kami itu bisa IT-nya. Jadi dengan bekerja sama dengan anak-anak KKN sekarang, saya berterima kasih sekali untuk kemajuan Purwokinanti terutama dalam forum bank sampah," katanya.
Eni menegaskan program ini sangat mendukung program Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mengelola sampah secara terstruktur, terukur, dan berkelanjutan melalui gerakan seperti GZSA dan Gerakan Jogja Olah Sampah.
"Ujung tombaknya adalah bank sampah untuk sampah anorganik. Kita ingin sesuai dengan zaman, dengan IT-nya. Sebanyak 10 bank sampah yang ada di Purwokinanti kita harapkan maju bersama sebagai motivasi untuk lebih maju," katanya.
Di Kecamatan Pakualaman, terdapat 19 bank sampah, dengan rincian 9 di Kelurahan Gunung Ketur dan 10 di Kelurahan Purwokinanti.
Ketua Forum Bank Sampah Kelurahan Purwokinanti, Wiwik Nur Yuni, mengakui tantangan literasi digital di kalangan pengelola yang mayoritas ibu-ibu.
"Kebanyakan ibu-ibu kurang melek IT tapi semoga dengan adanya dukungan dari mbak-mbak KKN ini kita semua bisa belajar untuk bisa menaikkan bank sampah masing-masing supaya bisa lebih terkenal, lebih banyak yang tahu potensinya," paparnya.