
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), melalui Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP), resmi meluncurkan Program Pengabdian Masyarakat Skema Khusus Edukasi dan Mitigasi Bencana. Bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY), peluncuran program ini digelar di Bumi Perkemahan Babarsari, Rabu (4/2/2026).
Program Pengabdian Pengabdian Masyarakat ini menerjunkan 16 dosen ahli dari UMY untuk membekali anggota Pramuka se-DIY dengan literasi kebencanaan.
"Dari total 735 skema pengabdian UMY, program di Kwarda DIY ini menjadi prioritas khusus. Kami ingin adik-adik Pramuka menjadi agen yang menularkan pengetahuan mitigasi di wilayahnya masing-masing," ujar Laelia Dwi Anggraini, Ketua Pelaksana Pengabdian DRP UMY.
Selain edukasi teori, UMY juga menyerahkan hibah sistem pengelolaan sampah mandiri kepada Kwarda DIY dan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Sleman (Kwarcab Sleman). Hibah ini dirancang sebagai pilot project pengelolaan limbah berbasis keluarga. Menurut Laelia, manajemen sampah yang buruk dapat menjadi bibit bencana pada masa depan, sehingga kesadaran harus dibangun dari lingkup terkecil.
Bencana Sosial
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY, Zuly Qodir, menambahkan fokus program ini tidak hanya pada bencana alam, tetapi juga mitigasi bencana sosial.
"Bencana sosial pasca-kejadian sering kali bisa diminimalisir melalui literasi yang kuat. Di sinilah peran Pramuka menjadi krusial sebagai garda terdepan di masyarakat," jelasnya.
Ketua Kwarda DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, menyambut hangat kolaborasi strategis ini. Ia menekankan bahwa tantangan alam yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya.
"Edukasi mitigasi, termasuk prinsip reduce, reuse, recycle, harus menjadi gaya hidup anggota Pramuka. Hibah pengelolaan sampah ini bukan sekadar alat, tapi upaya mengubah paradigma pembangunan menuju masyarakat yang mandiri secara lingkungan dan ekonomi," tegas GKR Hayu, saat membuka acara secara resmi.
Sinergi antara akademisi dan gerakan kepanduan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem edukasi bencana yang berkelanjutan di Yogyakarta, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.