Vokasi
17 Juli, 2026 17:50 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menilai ketidakmerataan kemampuan praktik budidaya di kalangan petani sawit menjadi salah satu faktor penyumbang kesenjangan produktivitas perkebunan yang dikelola swadaya. Karena itu, bersama LPP Agro Nusantara, BPDP menggelar berbagai pelatihan peningkatan kompetensi pekebun sebagai critical point menuju sawit berkelanjutan dan berdaya saing.
Salah satu pelatihan tersebut digelar pada Selasa-Jumat (14-17/7/2026) dan menyasar 79 petani kelapa sawit dari tiga kabupaten di Provinsi Riau, yaitu Bengkalis, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir. Pada pelatihan yang dilaksanakan di Pekanbaru ini, para peserta juga diajak Fieldtrip ke Koperasi Produsen Seikijang Sawit Lestari saat praktik pada hari kedua.
“Pelatihan kali ini berfokus pada pembekalan skill pemetaan digital dengan tujuan tersedianya data lahan akurat untuk akses Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pembiayaan, dan sertifikasi,” kata Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi Raharjo, Jumat (17/7/2026).
Dibuka langsung oleh Kepala Dinas Perkebunan Riau, Supriadi, pelatihan ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan BPDP bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian.
Diambilkan dari pungutan ekspor, BPDP menyalurkan dana untuk beragam program strategis pemerintah mulai dari peremajaan sawit rakyat, peningkatan sarana dan prasarana perkebunan, pengembangan SDM, penelitian hingga hulu dan hilirisasi bisnis kelapa sawit.
“Pekebun swadaya difasilitasi program pelatihan yang rutin diagendakan setiap tahun. Melalui rekomendasi teknis (rekomtek), mekanisme ini menjadi langkah untuk memastikan pelatihan diberikan secara tepat sasaran,” lanjut Hadi.
Pada tahun ini, LPP Agro Nusantara dipercaya menyelenggarakan 100 lebih kelas untuk 3.035 peserta. Keseluruhan pelatihan, disebut Hadi, sebagai professional guarantee dalam peningkatan kompetensi pekebun sebagai critical point menuju sawit berkelanjutan dan berdaya saing.
Pekebun Jadi Kunci
Subject Matter Expert (SME) LPP Agro Nusantara, Abdul Aziz, mengatakan dengan kondisi 40 persen lahan sawit dikuasai rakyat, peningkatan SDM pekebun jadi kunci. Nantinya, 30-35 persen kontribusi crude palm oil (CPO) nasional akan bisa naik lagi.
“Produktivitas masih menjadi isu strategis dalam peran pekebun sawit swadaya dalam perpetaan bisnis kelapa sawit nasional. Jumlah kepemilikan lahan pekebun swadaya sekitar 40 persen dari jumlah total dan tersebar di 26 provinsi penghasil sawit di Indonesia,” jelasnya.
Dari besaran lahan tersebut, dalam produksi CPO, pekebun sawit swadaya menyumbang sekitar 30-35 persen hasil nasional. Jika ditilik dari analisis produktivitas lahan, angka ini masih jauh dari angka ideal.
Selain sistem pendukung bisnis dan tata kelola, isu keterampilan pekebun sawit menjadi salah satu faktor penghambat. Menyamaratakan kemampuan dan pemahaman mengenai praktik budidaya yang baik, menjadi tugas bersama pelaku usaha kelapa sawit di Indonesia.
Secara strategis, isu ini diakomodir oleh BPDP yang berada di bawah Kementerian Keuangan, dengan menjalankan berbagai program pengelolaan dan pendanaan dari pemerintah terkait kelapa sawit, termasuk di antaranya, pengembangan SDM, memberikan beasiswa pendidikan dan pelatihan pekebun.
“Peserta pelatihan tidak terbatas hanya bagi pekebun, tapi pengurus kelompok/koperasi (KUD), perangkat pendamping daerah hingga keluarga,” tutup Aziz.
Bagikan