Akademisi UMY Latih Warga Bantul Olah Jelantah Jadi Sabun

04 Maret, 2026 05:45 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

04032026-UMY Olah Jelantah.jpg
Warga Dewi Kajii, Gilangharjo, Pandak, Bantul, berlatih mengolah jelantah menjadi sabun ramah lingkungan. Workshop ini merupakan prakarsa dari Tim Pengabdian Masyarakat UMY dan bertujuan mendorong inovasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa agar lebih adaptif terhadap pengelolaan limbah. (EDUWARA/Dok. UMY)

Eduwara.com, JOGJA – Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengajak warga Desa Wisata Kaji (Dewi Kajii), Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, menerapkan konsep ekonomi sirkular. Limbah minyak jelantah rumah tangga yang selama ini kerap mencemari lingkungan disulap menjadi produk bernilai ekonomi, yaitu sabun.

Kegiatan bertajuk workshop "Agile Wastepreneurship: Dari Sampah Menjadi Berkah" ini dipimpin oleh dosen Ilmu Pemerintahan UMY, Helen Dian Fridayani, pada Sabtu (28/2/2026). Program ini bertujuan mendorong inovasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa agar lebih adaptif terhadap pengelolaan limbah.

“Minyak jelantah yang dibuang sembarangan berisiko mencemari tanah dan air. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, kami mengolah limbah tersebut menjadi sabun ramah lingkungan yang punya nilai tambah ekonomi,” ujar Helen saat dihubungi melalui Humas UMY pada Selasa (3/3/2026).

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali kemampuan teknis mulai dari penyaringan minyak, pencampuran larutan alkali sesuai standar keamanan, hingga proses pencetakan. Tak hanya soal produksi, warga juga mendapatkan materi strategis mengenai pengemasan produk, penentuan harga, hingga pemasaran digital.

Dosen Ilmu Pemerintahan UMY, Helen Dian Fridayani, memimpin Tim Pengabdian Masyarakat UMY dalam pelaksanaan workshop bertajuk "Agile Wastepreneurship: Dari Sampah Menjadi Berkah" yang diselenggarakan di Desa Wisata Kajii, Gilangharjo, Pandak, Bantul. (EDUWARA/Dok. UMY)

Pola Pikir Masyarakat

Helen menekankan bahwa konsep wastepreneurship ini bertujuan mengubah pola pikir masyarakat, dari yang semula hanya memandang jelantah sebagai sampah, kini beralih menjadi pelaku usaha berbasis inovasi lingkungan.

“Model ini berpotensi memperkuat ketahanan ekonomi desa sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs),” tambahnya.

Inisiatif ini pun mendapat sambutan hangat dari pengelola setempat. Ketua Dewi Kajii menilai kolaborasi ini membuka perspektif baru bahwa pengelolaan limbah secara inovatif dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi warga.

Program yang didukung oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UMY ini direncanakan akan terus memberikan pendampingan intensif kepada warga Dewi Kajii hingga akhir tahun 2026. Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan unit usaha berbasis pengelolaan limbah yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di wilayah lain.