Bagi Siswa SD Negeri Bibis, Membatik di Media Kayu Lebih Menyenangkan

08 Maret, 2024 20:13 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

08032024-SD Bibis batik kayu.jpg
Salah satu siswi kelas VI SD Negeri Bibis, Bantul memperlihatkan hasil karya membatik di media kayu usai praktik membatik di Sanggar Punokawan Krebet, Jumat (8/3/2024). (EDUWARA/K. Setyono)

Eduwara.com, JOGJA – Siswa-siswi kelas VI SD Negeri Bibis, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, menyebut kegiatan membatik dengan media kayu lebih menyenangkan dibandingkan dengan membatik dengan media kain.

Hal itu mereka ungkapkan seusai melakukan praktik membatik Sanggar Punokawan, Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (8/3/2024). Praktik membatik yang merupakan penilaian akhir pada mata pelajaran Membatik tersebut diikuti 59 siswa-siswi kelas VI A dan VI B SD Negeri Bibis. 

“Tadi kami membatik pada pot kayu kecil yang sudah disiapkan. Menyenangkan, karena tempat membatiknya lebih kecil dibandingkan dengan kain," kata salah satu siswi, Nenas Arum.

Dengan media yang lebih kecil, Nenas mengaku proses membatik tidak membutuhkan waktu yang lama. Demikian juga dengan motif batiknya, tidak membutuhkan hiasan beragam. Tak hanya itu, Nenas menyebut hal yang lebih mengasyikkan adalah saat proses pelorodan lilin malam.

“Saat pelorodan, terjadi perubahan warna kayu dari yang sebelumnya berwarna coklat menjadi merah kehitam-hitaman,”paparnya.

Satu guru pendamping, Kurniawan Dwi Atmaja menjelaskan kegiatan membatik yang berlangsung selama jam sekolah ini merupakan praktik akhir dan penilaian mata pelajaran membatik.

"Kami memilih batik kayu sebagai praktik akhir karena ingin mengenalkan ke siswa bahwa media membatik tidak hanya kain saja. Kayu ternyata juga bisa menjadi karya batik yang bernilai," paparnya.

Siswa-siswi kelas VI SD Negeri Bibis, Bantul berfoto bersama memamerkan hasil karya dari praktik membatik di Sanggar Punokawan, Krebet, Jumat (8/3/2024).  (EDUWARA/K. Setyono)

Tidak hanya itu, lanjut Kurniawan, kegiatan lapangan ini juga sebagai upaya mengenalkan kawasan Krebet yang telah dikenal sebagai pusat batik kayu ke siswa-siswi SD Negeri Bibis. Terlebih lagi, jarak antara SD Negeri Bibi ke Krebet tidak lebih dari tiga kilometer.

Pemandu dari Sanggar Punokawan, Yulianto menuturkan selama ini tempatnya memang menjadi jujugan bagi mereka yang ingin belajar membatik dengan media kayu.

"Kami sering kedatangan tamu mulai dari murid SD, SMP, SMA, universitas dan umum untuk mengenal serta belajar membatik di kayu," jelasnya.

Dengan tarif mulai Rp 25 ribu sampai Rp75 ribu per orang, pengelola Sanggar Punokawan menyediakan semua sarana prasana serta media membatik. Hasil karya mereka yang belajar membatik di Sanggar Punokawan ini bisa dibawa pulang.

Yulianto juga menjelaskan bahwa perbedaan mendasar membatik dengan media kain dan kayu terletak pada kemudahan menorehkan lilin malam. Jika pada media kain, bagi pembatik pemula mengalami kesulitan munculnya lipatan pada kain. Sedangkan pada media kayu, permukaan yang rata memudahkan para pembatik pemula menggoreskan lilin malam.