Sekolah Kita
05 Mei, 2026 05:59 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, resmi meluncurkan program Pendidikan Khas Kejogjaan sebagai langkah menjawab tantangan pendidikan pada era global. Program ini diperkenalkan pada Senin (4/5/2026) dalam perhelatan Byawara yang digelar di SMA Negeri 6 Yogyakarta.
Peluncuran ini menjadi tonggak baru bagi Yogyakarta dalam merumuskan arah pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan manusia yang utuh. Konsep tersebut berakar pada falsafah luhur Hamemayu Hayuning Bawana, yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dalam sambutannya, Sultan menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kebijakan pendidikan, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang berpijak pada nilai-nilai lokal. Ia menilai tantangan pendidikan saat ini tidak hanya soal mencetak manusia cerdas, tetapi juga membentuk karakter yang matang.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang utuh. Sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa disertai kedewasaan nilai dapat membuat manusia kehilangan arah,” ujarnya.
Menurut Sultan, Pendidikan Khas Kejogjaan mengedepankan pendekatan pembudayaan, di mana pendidikan menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan, karakter, dan kesadaran hidup. Dengan pendekatan ini, peserta didik diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Program ini bertujuan melahirkan “Jalma kang Utama”, yakni manusia yang cerdas, matang secara batiniah, dan luhur dalam perilaku. Selain itu, diharapkan pula terbentuk pribadi yang mampu menghadirkan ketenteraman bagi sesama, dengan jiwa satriya yang menjunjung nilai sawiji, greget, sengguh, lan ora mingkuh.
Tri Sentra Pendidikan
Sultan juga menekankan pentingnya peran Tri Sentra Pendidikan yang meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lebih luas lagi, pendidikan di Yogyakarta didukung oleh sinergi “Kraton, Kampus, dan Kampung” sebagai ekosistem pembentukan karakter berbasis budaya.
Dalam forum Byawara, berbagai ekspresi budaya seperti geguritan, macapat, dan tari turut ditampilkan. Hal ini menjadi wujud konkret bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga penanaman nilai dan penjiwaan budaya.
Peluncuran ini menandai peralihan dari konsep menuju implementasi nyata Pendidikan Khas Kejogjaan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Dewan Pendidikan DIY, Dinas Pendidikan, hingga para pendidik dan siswa, yang diharapkan menjadi bagian aktif dalam gerakan pendidikan berbasis budaya ini.
Bagikan