logo

Sekolah Kita

Metode Hafalan Jadikan Matematika Membosankan

Metode Hafalan Jadikan Matematika Membosankan
Penggunaan metode hafalan yang masif menjadikan matematika masih menjadi mata pelajaran yang membosankan dan momok bagi pelajar Indonesia. Bahkan hasilnya, hanya 18 persen pelajar Indonesia yang mampu mencapai tingkat kompetensi minimun level 2. (Dok. EDUWARA)
Setyono, Sekolah Kita21 April, 2026 05:04 WIB

JOGJA, Eduwara.com - Penggunaan metode hafalan yang masif menjadikan matematika masih menjadi mata pelajaran yang membosankan dan momok bagi pelajar Indonesia. Bahkan hasilnya, hanya 18 persen pelajar Indonesia yang mampu mencapai tingkat kompetensi minimun level 2.

Pandangan ini disampaikan Guru Besar Departemen Matematika Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Indah Emilia Wijayanti. Ia menyebut minat pelajar dari SD sampai SMA menekuni matematika dalam kondisi memperihatinkan.  

“Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor numerasi Indonesia hanya berada di kisaran angka 366, jauh di bawah ukuran rata-rata Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang berada pada angka 472,” kata Indah Emilia Wijayanti, Senin (20/4/2026).

Pelajaran matematika merupakan disiplin ilmu yang memiliki peran krusial dalam memperkuat kapasitas intelektual dan kemampuan analitis pada siswa, dengan membangun penalaran untuk memecahkan suatu masalah.

Minimnya minat mempelajari matematika, menurut Indah, disebabkan oleh faktor pengajar atau guru yang begitu memengaruhi minat siswa. Kualitas pengajar matematika perlu diperhatikan dan ditingkatkan terlebih dahulu agar berdampak pada peningkatan kualitas proses belajar mengajar.

“Jika seorang guru mencintai matematika dan bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan prinsip-prinsip Aristoteles, yakni menjaga kredibilitas (ethos), membangun ikatan emosional (pathos), serta menyampaikan materi secara logis (logos), maka dia akan mempunyai kreativitas dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga siswa bisa belajar dengan baik dan menyenangkan,” paparnya.

Logika

Pembelajaran matematika di Indonesia saat ini memang masih berorientasi pada hafalan, sehingga proses belajar cenderung membosankan. Pendekatan tersebut tentu berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep matematika siswa.

Indah menjelaskan bahwa konsep matematis dapat dipahami dengan baik ketika logika dan berpikir kritis siswa cukup mumpuni. Hal ini menjadi sangat penting ketika para siswa tersebut kelak menempati posisi strategis di masyarakat.

“Jika kemampuan tersebut lemah, bisa dibayangkan dampaknya dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, hingga lingkungan. Pengambilan keputusan atau penerapan kebijakan memerlukan argumentasi atas dasar pemikiran yang logis,” terangnya.

Lebih lanjut, Indah mengungkapkan sejumlah strategi yang dinilai paling efektif dan realistis untuk meningkatkan minat belajar matematika bagi siswa di Indonesia secara berkelanjutan. Pertama, perlu diadakan seleksi dengan baik bagi calon-calon guru atau pengajar matematika, bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan tinggi. 

Kedua, memberikan jaminan kesejahteraan dan pekerjaan yang layak bagi lulusan hasil seleksi tersebut, agar para guru atau pengajar berkualitas dapat bekerja secara optimal. Ketiga, guru diberikan kebebasan dalam mengelola kelas secara kreatif. Terakhir, kurikulum matematika disusun secara realistis sesuai dengan perkembangan siswa oleh pihak yang berkompeten.

“Saya yakin, ketika ekosistem sudah ideal dan satu visi, maka dampak positifnya adalah kenaikan  kemampuan siswa di bidang matematika. Sebaliknya, sebagus apapun metode pembelajaran yang diterapkan namun belum didukung ekosistem yang baik, maka hasilnya tidak akan sesuai” tutupnya.

Read Next