Empat Perguruan Tinggi Kaji Tradisi Islam dalam Perubahan Sosial Kontemporer

13 Mei, 2026 01:53 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

12052026-UIN Suka Tradisi Islam.jpg
Para narasumber dan peserta konferensi bertema ‘Reconfiguring Islamic Tradition: Authority, Circulation, and Contemporary Engagements’, berfoto bersama, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (12/5/2025). Konferensi yang diikuti peserta dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, UB dan Leiden University ini menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik lintas institusi dan lintas negara dalam pengembangan studi Islam kontemporer. (EDUWARA/Dok. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Eduwara.com, JOGJA - Tiga perguruan tinggi nasional, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Universitas Brawijaya (UB) dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bersama Leiden University menggelar konferensi yang mendorong generasi peneliti muda untuk mendiskusikan dinamika tradisi Islam sebagai entitas yang terus berkembang dan bertransformasi di tengah perubahan sosial kontemporer.

Konferensi bertema ‘Reconfiguring Islamic Tradition: Authority, Circulation, and Contemporary Engagements’, berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu (12-13/5/2026), di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Konferensi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik lintas institusi dan lintas negara dalam pengembangan studi Islam kontemporer.

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Moch Nur Ichwan, menekankan kolaborasi empat perguruan tinggi dalam konferensi ini bukan sekadar pertemuan akademik, tetapi menjadi ruang perjumpaan bermakna antara para sarjana dan mahasiswa yang memiliki komitmen bersama untuk mengeksplorasi serta menghidupkan kembali dinamika pemikiran dan masyarakat muslim yang terus berkembang.

Diikuti 100 pendaftar, termasuk peserta dari luar negeri, dan sekitar 55 peserta yang hadir, konferensi ini mencerminkan jaringan pertukaran intelektual yang kaya dan melintasi disiplin ilmu, geografis, serta tradisi pengetahuan.

Dalam paparan awal, disebut tradisi Islam dalam perkembangan kajian mutakhir tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang beku, melainkan sebagai konstruksi historis yang terbentuk melalui proses transmisi, interpretasi, dan perdebatan yang panjang.

“Sejak periode awal Islam hingga era kontemporer, berbagai bentuk tradisi, baik tekstual maupun praktik keagamaan, terus mengalami negosiasi dan reinterpretasi sesuai konteks sosial dan budaya masyarakatnya,” kata Nur Ichwan, Selasa (12/5/2026).

Peminggiran

Nur Ichwan menegaskan pentingnya menghidupkan kembali diskursus mengenai tradisi dalam kajian akademik Islam. Menurutnya, selama ini tradisi kerap mengalami peminggiran akibat dominasi teori sosial Barat yang lahir dari konteks modernisasi dan industrialisasi.

“Diskusi tentang tradisi mengalami peminggiran akibat bias modernitas. Padahal dalam konteks Indonesia, tradisi tidak pernah mati. Tradisi terus mengiringi perjalanan bangsa ini, berdampingan dengan modernitas dan proses menjadi Indonesia,” katanya.

Nur Ichwan menjelaskan bahwa perkembangan perspektif dekolonisasi dan decentering social sciences membuka kembali ruang bagi tradisi untuk dikaji secara lebih kritis dan kontekstual. Tradisi, menurutnya, bukan sesuatu yang statis, melainkan terus dinegosiasikan dan dibentuk ulang oleh masyarakat sesuai perkembangan zaman.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang dialog akademik yang terbuka dan kritis, terutama dalam melihat perkembangan studi Islam yang semakin multidisipliner dan transnasional.

Konferensi ini menghadirkan keynote speaker dari Leiden University, Verena Meyer, dengan keynote speech bertajuk ‘Asia as a Privileged Space of Inquiry in Islamic Studies’. Dalam paparannya, Verena menyoroti Asia sebagai ruang penting dalam pengembangan studi Islam kontemporer yang mampu menghadirkan perspektif baru di luar dominasi kajian Timur Tengah.