logo

Kampus

Industri Energi Butuh Tiga Kompetensi Utama

Industri Energi Butuh Tiga Kompetensi Utama
Direktur Sumber Daya Manusia PT Pertamina (Persero), Andy Arvianto, bersama jajaran pimpinan PEM Akamigas serta para mahasiswa lintas prodi, usai menjadi pembicara pada "One Day with Experts" (1DWE), yang digelar pada Jumat (8/5/2026), di Grha Oktana PEM Akamigas. (EDUWARA/Dok. PEM Akamigas)
Redaksi, Kampus13 Mei, 2026 04:12 WIB

Eduwara.com, BLORA -- Mahasiswa Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas mendapatkan kesempatan emas untuk berdialog langsung dengan praktisi tingkat atas industri energi nasional dalam "One Day with Experts" (1DWE). Acara yang digelar pada Jumat (8/5/2026), di Grha Oktana PEM Akamigas ini menghadirkan Direktur Sumber Daya Manusia PT Pertamina (Persero), Andy Arvianto, sebagai narasumber. 

Dibuka secara resmi oleh Direktur PEM Akamigas Erdila Indriani, kegiatan yang diikuti oleh seluruh mahasiswa program studi (prodi) PEM Akamigas ini berlangsung semarak. Dalam sambutannya, Erdila menekankan pentingnya kehadiran praktisi industri di tengah lingkungan akademik. Ia berpesan agar seluruh mahasiswa memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya untuk menyerap ilmu dan memahami realitas industri secara langsung. 

Menurut Erdila, kesempatan berinteraksi dengan pimpinan strategis Pertamina adalah peluang langka yang harus menjadi pemantik semangat belajar mahasiswa dalam mempersiapkan karier ke depan.

Membuka paparannya, Andy Arvianto membuka paparannya dengan memberikan pernyataan yang menggugah: "Ketahanan energi tidak dimenangkan oleh barrel. Tapi dimenangkan oleh manusia". Pesan ini ditujukan bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan yang akan mengeksekusi agenda Asta Cita menuju Swasembada Energi 2030. 

Dipandu oleh dosen PEM Akamigas, Alfin Sahrin, dalam paparannya, Andy juga mengatakan bahwa saat ini Indonesia menghadapi tantangan defisit energi yang nyata, di antaranya impor crude oil yang mencapai sekitar 40 persen, kemudian impor LPG yang menyentuh angka 78 persen atau sekitar 7 juta ton per tahun dan risiko geopolitik global di Selat Hormuz yang dapat mengganggu stabilitas harga minyak dunia. 

“Dalam menghadapi tantangan tersebut, Pertamina menerapkan strategi ‘Dual Growth’, yaitu memperkuat bisnis legacy (migas) sekaligus membangun bisnis rendah karbon seperti biofuel, geothermal, dan energi hijau lainnya,” katanya. 

Smart Humanity

Sejalan dengan transformasi bisnis tersebut, Andy memperkenalkan filosofi Human Capital 5.0 (Smart Humanity). Fokusnya adalah menempatkan manusia sebagai pusat, di mana teknologi melayani manusia, bukan sebaliknya.

“Di Pertamina, AI juga digunakan sebagai kolaborator (seperti Generative AI yang sedang dikembangkan) untuk memperkuat kapasitas kerja manusia dalam mengambil keputusan strategis, bukan untuk menggantikan posisi mereka,” katanya.

Andy juga mengungkapkan dalam paparannya bahwa adanya gap generasi yang nyata di industri energi global, di mana hanya 19 pekerja yang berusia 25–34 tahun. Hal ini menjadi peluang besar bagi lulusan vokasi seperti mahasiswa PEM Akamigas yang berada di posisi strategis (sweet spot) untuk mengisi kebutuhan industri. 

Terkait hal ini, terdapat tiga kompetensi utama yang ditekankan Andy bagi para mahasiswa, yang pertama adalah memiliki growth mindset dan integritas. Kedua memiliki penguasaan inti migas yang dipadukan dengan literasi AI dan transisi energi dan ketiga adalah cara kerja yang harus kolaborasi adaptif dengan budaya safety-first

Menutup kegiatan, Andy Arvianto menegaskan kembali bahwa masa depan bukan milik organisasi dengan teknologi terbaik, melainkan mereka yang memiliki manusia paling siap untuk menggunakannya. 

"Bangunlah kedalaman teknis dan mentalitas kepemimpinan sejak dini di kampus ini," pungkasnya.

Read Next