Guru Besar FKKMK UGM, Penderita Penyakit Gaya Hidup Meningkat pada 2045

06 April, 2022 21:44 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

06042022-UGM Gubes Kedokteran.jpg
Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Hari Kusnanto saat menjadi narasumber webinar 'Bedah Buku: Pemikiran Guru Besar UGM Menuju Indonesia Maju 2045 Bidang Kesehatan', Rabu (6/4/2022). Webinar tersebut disiarkan melalui kanal YouTube UNY (EDUWARA/Istimewa)

Eduwara.com, JOGJA – Di 2045, penderita penyakit yang disebabkan gaya hidup akan meningkat berpuluh kali jumlahnya dibandingkan sekarang. Karenanya pelayanan kesehatan primer layaknya Puskesmas harus dimutakhirkan dibanding kondisi yang sekarang. 

Hal ini disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Hari Kusnanto, Rabu (6/4/2022). Pandangan ini disampaikan Hari saat webinar 'Bedah Buku: Pemikiran Guru Besar UGM Menuju Indonesia Maju 2045 Bidang Kesehatan' yang disiarkan melalui kanal YouTube UGM.

"Nanti jumlah kasus atau pasien yang menderita penyakit diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, gagal ginjal kronik, kanker, gangguan mental, dan lain sebagainya akan lebih atau bahkan sangat banyak dibandingkan sekarang," katanya.

Pakar kesehatan masyarakat dan epidemiologi penyakit menular ini kemudian menimbang bahwa pusat pelayanan kesehatan sekunder layaknya rumah sakit tidak akan bisa menampung semua pasien tersebut.

"Jalan keluarnya maka pelayanan kesehatan primer layaknya Puskesmas mau tidak mau harus lebih dimutakhirkan dibanding kondisi yang sekarang," jelasnya.

Pemutakhiran pada pelayanan kesehatan primer (Puskesmas, red), menurutnya akan sangat membantu dan meningkatkan pelayanan di pusat layanan sekunder, yakni di rumah. Menurutnya hal ini tidak perlu diragukan lagi.

Hari mengatakan walaupun kemampuan pelayanan Puskesmas beserta resource atau tenaga kesehatannya sudah lebih meningkat dari sebelumnya, namun Puskesmas masih saja diledek hanya bisa menangani penyakit yang disingkat dengan nama 'Puskesmas' pula.

"Pus untuk pusing; Kes untuk keseleo; serta mas untuk masuk angin," jelasnya.

Karenanya, Hari menekankan penguasaan dan tersedianya sarana teknologi diagnostik dan monitoring yang memadai di Puskesmas masa depan. Teknologi-teknologi yang dimaksud adalah teknologi-teknologi yang sudah "ter-miniaturisasi" dan microfluidic, yakni teknologi diagnostik dan monitoring yang portable atau mudah dibawa-bawa serta hanya memerlukan sampel yang sedikit. 

Teknologi-teknologi kesehatan tersebut saat ini telah berkembang. Saat ini dengan hanya satu tetes darah saja, penyakit diabetes, kolesterol, gangguan lemak, dan lain sebagainya sudah bisa dengan mudah dideteksi oleh sebuah mesin kecil.

Dengan begitu, tinggal bagaimana teknologi tersebut dapat dikuasai dan tersedia di setiap Puskesmas di seluruh Indonesia. Tentu, pengembangan terhadap teknologi-teknologi untuk diagnostik dan monitoring juga sangat diharapkan ked epannya, dengan harapan bisa lebih akurat, cepat, aman, serta nyaman lagi dan lagi.

"Sehingga (penguasan dan ketersediaan teknologi mutakhir) ini akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara umum," pungkas Hari yang juga dikenal sebagai pakar kesehatan keluarga dan layanan primer tersebut.