Hasil Hilirisasi Riset, FMIPA UGM Berhasil Terapkan 820 Riset

23 September, 2026 19:12 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

23092026-UGM Hilirisasi Riset FMIPA.jpg
Dekan FMIPA FMIPA UGM, Kuwat Triyana, menyampaikan sambutan dalam Rapat Terbuka Senat FMIPA UGM, Senin (21/9/2026). Dikatakannya, ke depan FMIPA UGM akan semakin serius membangun research to value engine yaitu sebuah ekosistem yang mempertemukan tantangan nyata dari industri dengan kekuatan riset yang dimiliki sehingga inovasi dapat berkembang, yang akhirnya menghasilkan dampak ekonomis sekaligus dampak sosial. (EDUWARA/Dok. UGM)

Eduwara.com, JOGJA - Upaya Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta membangun ekosistem yang mempertemukan tantangan nyata dari industri dengan kekuatan riset menemui keberhasilan. Sebanyak 820 luaran hasil riset dosen FMIPA UGM telah diterapkan masyarakat, industri, dan pemerintah.

Dekan FMIPA FMIPA UGM, Kuwat Triyana, memaparkan selama dua tahun terakhir, FMIPA UGM telah membuktikan skema pemberdayaan pasca purna tugas bahkan mampu memberikan penghasilan.

“Skema ini menunjukkan bahwa pengalaman, keahlian, dan jejaring seorang dosen maupun tenaga kependidikan tidak serta merta kehilangan nilai hanya karena batas usia administratif telah tercapai. Harapannya skema ini dapat terus diperbaiki, diperluas, dan dilanjutkan kepemimpinan selanjutnya,” kata Kuwat Triyana, dikutip Rabu (23/9/2026).

Kuwat menambahkan ke depan, FMIPA UGM perlu semakin serius membangun research to value engine yaitu sebuah ekosistem yang mempertemukan tantangan nyata dari industri dengan kekuatan riset yang dimiliki sehingga inovasi dapat berkembang, yang akhirnya menghasilkan dampak ekonomis sekaligus dampak sosial.

Riset inovasi yang berhasil diterapkan FMIPA UGM di antaranya pengembangan potensi minyak maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bahan baku bioavtur untuk pesawat. Selain itu, kolaborasi multidisiplin ilmu FMIPA UGM dengan FK-KMK UGM dan mitra internasional dalam mengembangkan inovasi alat kesehatan bernama cNose-Hidung elektronik Portable 2026.

Kemudian, inovasi Self-Potential and Electrical Resistivity Tomography (SPERT) merupakan metode geofisika yang dikembangkan oleh peneliti FMIPA UGM untuk memonitor karakteristik serta dinamika aliran fluida di bawah permukaan tanah secara langsung.

“Teknologi ini telah dialihteknologikan kepada PT Elnusa sehingga pengetahuan dari laboratorium di kampus dapat tumbuh menjadi produk teknologi untuk mendukung sektor energi serta pengembangan energi baru dan terbarukan,” ucapnya.

Kuwat meyakini bahwa sains harus kokoh pada ilmu dasarnya, unggul dalam risetnya, tetapi pada akhirnya memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, industri, dan bangsa.

Inovasi Berdampak

Rektor UGM, Ova Emilia, mengapresiasi segala prestasi dan inovasi yang digiatkan FMIPA UGM. Ova meyakini FMIPA UGM masih memiliki banyak rencana yang menjadi bagian dari perwujudan komitmen fakultas untuk mencetak inovasi berdampak dan mewujudkan kemandirian bangsa.

Ova juga menyebutkan sebanyak 820 luaran hasil riset dosen FMIPA UGM telah diterapkan oleh masyarakat, industri, dan pemerintah.

“Segenap capaian kinerja Fakultas MIPA UGM senantiasa akan menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di bidang sains masa depan,” ungkapnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Exporthub.id, Amalia Susilowati Prabowo, dalam pidato ilmiah yang bertajuk “From Knowledge to Value: Unlocking the Economic Potential of University Research” menjelaskan sebagian besar penelitian di kampus belum mencapai aspek social impact tetapi masih dalam level prototype. Banyak penelitian yang didasarkan pada ilmu pengetahuan belum melihat permasalahan secara langsung.

“Oleh karena itu, penelitian belum bisa dikomersilkan sebab tidak terlalu dibutuhkan di masyarakat. Banyak sekali potensi tetapi tidak laku untuk dikomersialisasikan karena risetnya seringkali berbasis dari keilmuan bukan kebutuhan pasar,” paparnya.

Menurut Amalia, pengelola perguruan tinggi perlu memperkuat pemahaman terkait perkembangan bisnis di jajaran akademisi. Menurutnya, ketika Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia dapat bekerja sama dengan FMIPA UGM memiliki peluang yang sangat besar untuk mendapatkan investor.

Amalia merekomendasikan FMIPA UGM untuk mulai mencari setidaknya champion research. Kemudian, mengundang industri untuk mengetahui kebutuhan mereka yang sejalan dengan FMIPA. Selanjutnya dapat didiskusikan dengan alumni sebagai angel investor untuk mendampingi riset hingga mencapai tahap produksi masif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.