Kekerasan di Perguruan Tinggi Capai 35 Persen, UNU Yogyakarta Jadi Kampus Inklusif

06 Desember, 2023 19:27 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

06122023-UNU kampus inklusif.JPG
Center for GESI dan PUSDEKA UNU Yogyakarta, bersama dengan lima fakultas yang ada di UNU Yogyakarta, menggelar peringatan Hari Disabilitas Internasional dan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) 2023, di Kampus UNU Yogyakarta, Senin-Rabu (4-6/12/2023). Pada peringatan yang dihadiri ratusan peserta, yang terdiri dari akademisi, pegiat, dan penyandang disabilitas, UNU Yogyakarta berkomitmen menjadi kampus inklusif, ramah difabel. (EDUWARA/Dok. UNU Yogyakarta)

Eduwara.com, JOGJA - Center for Gender Equality and Social Inclusion (GESI) menyampaikan kekerasan berbasis gender, baik fisik maupun psikologis, di lingkungan perguruan tinggi menempati urutan pertama, yakni 35 persen dari seluruh kasus yang dilaporkan. Karena itu, bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional dan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) 2023, Universitas Nahdlatul Ulum (UNU) Yogyakarta berkomitmen menjadi kampus inklusif, ramah difabel.

Berlangsung sejak Senin-Rabu (4-6/12/2023), di Kampus UNU Yogyakarta, peringatan tersebut diselenggarakan Center for GESI dan Pusat Studi Kependudukan dan Kesejahteraan Keluarga (PUSDEKA) UNU Yogyakarta, bersama dengan lima fakultas yang ada di UNU Yogyakarta. 

Pada peringatan yang dihadiri ratusan peserta, yang terdiri dari akademisi, pegiat, dan penyandang disabilitas, diluncurkan ‘Arunika dalam Gulita’, yang merupakan kumpulan puisi dari 26 penulis difabel netra dari berbagai wilayah di Indonesia.

Pada peringatan HAKTP dan Hari Disabilitas Internasional tersebut, Direktur Center for GESI, Wiwin Rohmawati, mengatakan angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih tinggi, bahkan cenderung meningkat. Komnas Perempuan mencatat, pada 2021 terdapat 4.322 pengaduan langsung kekerasan terhadap perempuan dan jumlah tersebut meningkat menjadi 4.371 kasus pada 2022.

“Kekerasan berbasis gender, baik fisik maupun psikologis, di lingkungan perguruan tinggi menempati urutan pertama, yakni 35 persen dari seluruh kasus yang dilaporkan,’ jelas Wiwin Rohmawati dalam rilis, Rabu (6/12/2023).

Peringatan HAKTP juga tidak dapat dipisahkan dari kelompok rentan dan marginal, seperti difabel, transgender, transseksual, penderita HIV/AIDS, anak dan remaja, lansia, orang dengan gangguan psikososial, dan kelompok minoritas lainnya, yang mendapat diskriminasi serta kekerasan.

"Di tengah kondisi yang tidak berpihak, karena adanya stigma, diskriminasi, dan kekerasan, mereka membutuhkan resiliensi suatu daya tahan atau daya lenting," paparnya.

Kesehatan Mental

Peringatan HAKTP setiap tahun menjadi signifikan dalam rangka pendidikan, penyadaran, dan advokasi kebijakan terkait isu-isu yang masih dihadapi oleh perempuan dan kelompok-kelompok rentan lainnya.

"Oleh karena itu, UNU Yogyakarta berupaya serius menciptakan kampus yang berkesetaraan gender, inklusif, dan bebas dari kekerasan seksual melalui berbagai program, salah satunya rangkaian peringatan HAKTP 2023," katanya.

Wakil Rektor UNU Yogyakarta, Abdul Ghoffar, mengatakan UNU Yogyakarta berkomitmen menjadi kampus inklusif, sehingga menyediakan akses ramah difabel di Kampus Terpadu, seperti adanya lift dan toilet khusus untuk penyandang disabilitas.

“Kampus UNU Yogyakarta welcome kepada siapa saja, termasuk bagi teman disabilitas. Jadi teman-teman difabel tidak perlu khawatir untuk kuliah di UNU Yogyakarta,” katanya.

UNU Yogyakarta juga telah menerima mahasiswa difabel, terutama difabel tuli. Sejak proses penerimaan mahasiswa baru, hingga kini menjalani kuliah, mereka mendapat pendampingan pembelajaran dan pelatihan khusus supaya tak tertinggal mengikuti kuliah.

Dalam setiap penyelenggaraan acara, seperti seminar dan kuliah umum, UNU Yogyakarta juga menyediakan pendamping untuk penyandang disabilitas, seperti juru bahasa isyarat (JBI). 

Melalui upaya ini, lanjut Abdul Ghoffar, UNU Yogyakarta memberikan akses untuk semua, sehingga ke depan lahir pemimpin dan profesional dari berbagai kalangan, tak terkecuali dari difabel.

Kepala PUSDEKA UNU Yogyakarta, Rindang Farihah, menambahkan kasus kekerasan seksual yang cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya disebabkan problem kesehatan mental, khususnya pada anak muda.

“Upaya ini bagian dari menciptakan UNU Yogyakarta sebagai kampus yang inklusif, aman dan nyaman untuk siapa saja," jelasnya.

Rindang menekankan keluarga memiliki peran sangat penting. Namun sebagian besar anak muda di Yogyakarta terutama mahasiswa tinggal jauh dari keluarga. Berangkat dari kondisi ini Klinik Konsultasi Keluarga dan Anak Muda (Klinik K2+) Kampus UNU Yogyakarta melakukan upaya-upaya penguatan ketahanan mental mahasiswa.

Pada peringatan Hari Disabilitas Internasional dan HAKTP tersebut, juga diselenggarakan seminar nasional bertajuk ‘Anjangsana Srikandi: Urun Rembug Implementasi UU TPKS’. Kemudian, digelar pula talkshow, ‘Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus: Berbagai Kasus serta Penanganannya’ dan ‘Resiliensi Kelompok Rentan dan Marginal dalam Menghadapi Diskriminasi dan Kekerasan’.