Laman DaurKita, Tata Kelola Sampah dari Mahasiswa UGM untuk Mahasiswa

09 Juni, 2026 01:20 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

08062026-UGM laman daur kita.jpg
Para mahasiswa UGM penggagas laman DaurKita di GIK UGM. Laman DaurKita yang didukung GIK ini merupakan respon terhadap krisis tata kelola persampahan di DIY. Laman ini menampilkan basis data 18 bank sampah yang sudah bermitra di enam kecamatan di Yogyakarta. (EDUWARA/Dok. UGM)

Eduwara.com, JOGJA - Sebagai respon terhadap krisis tata kelola persampahan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang didukung Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) mengagas laman DaurKita. 

DaurKita adalah sebuah laman yang digagas 12 mahasiswa UGM untuk menampilkan basis data 18 bank sampah yang sudah bermitra di enam kecamatan di Yogyakarta. Program DaurKita ini merupakan program insentif dan pembekalan karakter kepemimpinan yang digagas GIK.

Project Officer DaurKita, Jeffryta Nasya Sanjaya, Senin (8/6/2026), mengatakan laman DaurKita merupakan inisiatif yang dihadirkan untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas penyetoran sampah.

“DaurKita memperkenalkan opsi gaya hidup baru yang relevan dengan krisis pengelolaan sampah saat ini. Menggagas konsep dari mahasiswa untuk mahasiswa,” terangnya.

Jeffryta memaparkan, secara teknis, terdapat empat jenis sampah yang bisa dikelola oleh mitra DaurKita, yakni organik, anorganik, B3, dan residu. Ke depan, diharapkan DaurKita menjadi jembatan bagi mahasiswa UGM dengan tempat pengelolaan sampah terdekat. 

“Dengan ini, kendala akses dan informasi itu bisa diredam," ujarnya.

Sembari dikenalkan dengan laman berisi daftar nama mitra DaurKita, peserta turut dibekali dengan kerangka berpikir dalam pengelolaan sampah oleh Lokalogi, yang telah digagas oleh Pramuka UGM sejak 2024. Lokalogi konsisten membersamai dinamika pengelolaan sampah dalam acara-acara besar mahasiswa, seperti Pionir, Gelex, Porsenigama, Culfest, hingga berbagai konser tahunan.

Dari berbagai cara besar tersebut, Lokalogi menghimpun data sampah yang diproduksi oleh pengunjung setelah memilah dan membagi sesuai kategori.

"Sampah residu bisa ditekan di hari pertama atau kedua karena jumlah pengunjung belum terlalu banyak. Biasanya, jumlah lonjakan sampah residu terjadi ketika penutupan acara. Hal ini terjadi karena pengunjung meningkat, sementara Lokalogi Heroes yang memantau tempat sampah jumlahnya terbatas," ungkap Yudhistira, salah satu perwakilan Lokalogi.

Masa Persiapan

Yudhis menambahkan masa persiapan juga menjadi satu catatan penting dalam mengelola sampah acara, sebab sampah yang dihasilkan selama persiapanlah yang kerap tidak terkontrol maupun tercatat.

Menyambut baik inisiatif Tim DaurKita, Abiyyi, salah seorang perwakilan Lokalogi, menambahkan betapa peran bank sampah dan inisiatif memilah individu menjadi penting. Pertama, bank sampah yang terdesentralisasi adalah intervensi yang diperlukan bagi wilayah dengan sistem pengangkutan yang belum terpilah.

Kedua, masih terdapat kesenjangan rantai dari konsumen ke pabrik daur ulang, terlebih jumlah pabrik daur ulang masih sangat terbatas, sehingga eksistensi bank sampah dapat menjadi jembatan. Ketiga, ketika minat masyarakat untuk memilah masih rendah, maka bank sampah bisa menyediakan insentif.

"Sampah yang terpilah masih ada harganya, sehingga harusnya bisa dijual meski nilainya turun. Tentunya, tujuan yang sirkuler ini tidak dapat berjalan apabila tidak ada proses pemilahan dari konsumen atau sumber utama," ungkapnya.

DaurKita dan Lokalogi mengajak peserta untuk memahami konsep pengelolaan sampah dalam berbagai skala melalui kartu permainan pada akhir acara. Sesi tersebut berlangsung interaktif dengan pendampingan fasilitator untuk masing-masing kelompok.

DaurKita menjadi wajah baru yang dapat mendukung perkembangan ekosistem mahasiswa UGM agar dapat lebih sadar akan pentingnya bertanggung jawab dalam mengelola sampah.