Mahasiswa ITS dan Singapura Ditantang Berwirausaha

06 Desember, 2023 04:39 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

05122023-SEvima mhs it n singapura ditantang.png
Pendiri SEVIMA, Sugianto Halim, mengajak perguruan tinggi ikut meningkatkan jumlah wirausahawan dengan cara memulai usaha. Hal tersebut disampaikan Halim ketika memberikan Kuliah Umum di ITS Surabaya, Selasa (5/12/2023). (EDUWARA/Dok. SEVIMA)

Eduwara.com, JOGJA – Di hadapan mahasiswa Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan mahasiswa asal Singapura, pendiri SEVIMA Sugianto Halim, mengajak perguruan tinggi ikut meningkatkan jumlah wirausahawan dengan cara memulai usaha.

“Terlebih, mahasiswa yang duduk di ruangan ini pada hari ini, punya kemampuan dan potensi untuk jadi founder (wirausahawan, pendiri usaha) pada masa depan!” kata Sugianto Halim saat memberikan Kuliah Umum di ITS Surabaya, Selasa (5/12/2023).

Data menunjukkan negara-negara maju memiliki jumlah wirausaha rata-rata 14 persen dari jumlah penduduk. Namun jumlah wirausahawan Indonesia, menurut data GEI, baru 3,1 persen.

Halim menyebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan mahasiswa ketika ingin memulai berwiraswasta. Pertama adalah menciptakan usaha yang dapat memecahkan masalah di masyarakat. 

Tak sedikit pengusaha yang menggebu-gebu dalam merintis usaha tanpa memperhatikan masalah yang dihadapi masyarakat. Padahal, berbisnis membutuhkan kecocokan antara pembeli dan penjual.

“Pentingnya menciptakan bisnis yang sesuai dengan masalah yang dihadapi masyarakat atau disebut dengan konsep ‘Problem-Solution Fit’,” katanya.

Dengan konsep ini, pengusaha bisa menyediakan solusi sesuai dengan masalah masyarakat, dan masyarakat mau membeli produk yang ditawarkan karena bermanfaat untuk mengatasi masalah.

Kedua, berkolaborasi dengan pembeli dan pengguna produk. Kecocokan antara pembeli dan penjual juga bisa dibangun jauh sebelum produk ditawarkan. Pembeli ataupun calon pembeli, menurut Halim, bisa diajak berdiskusi dan ditanya tentang produk apa yang mereka butuhkan.

“Manfaatkan telepon, formulir survei, grup whatsapp, dan berbagai media online untuk berkolaborasi. Tanya pembeli dan pengguna produk, apa yang mereka butuhkan, lalu lakukan riset dan validasi!” jelasnya.

Terakhir, memanfaatkan kekuatan Word of Mouth (Mulut ke Mulut). Halim percaya investor terbesar suatu bisnis adalah pembelinya.

“Karena pembeli tidak hanya berperan sebagai sumber pendapatan, namun juga menjadi media promosi yang paling ampuh ketika mereka puas atas produk yang didapatkan,” tegasnya.

Kepuasan itu akan menghasilkan strategi pemasaran yang disebut Word of Mouth (mulut ke mulut). Oleh karena itu sebagai tips terakhir, menurut Halim, pengusaha di era digital harus memanfaatkan kekuatan mulut ke mulut ini.