Mahasiswa UNU Yogyakarta Kembangkan Smart Incubator dan Platform Digital

30 Juli, 2026 20:58 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

30072026-UNU Yk Smart Inkubator.jpg
Mahasiswa UNU Yogyakarta memamerkan inovasi smart incubator. (EDUWARA/IST.)

Eduwara.com, JOGJA - Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Elektro Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Nadhatul Ulama (UNU) Yogyakarta berhasil melahirkan inovasi penetas cerdas (Smart Incubator) telur ayam berbasis Internet of Things (Iot). Sedangkan tiga mahasiswa Prodi Informatika FTI, turut mengembangkan dua aplikasi pendukung pencarian akomodasi wisata saat magang di dunia industri.

Tim yang membidani lahirnya mesin cerdas penetas telur ayam terdiri dari tiga mahasiswa yaitu Dwi Ardiyanto, Nabila Zuha Faizah, dan Fadil Maulana. Riset mereka didasarkan pada fakta, besarnya peternakan ayam kampung yang diperkirakan merawat 314 juta ekor dengan nilai ekonomi diperkirakan berkisar antara Rp 40-70 triliun per tahun, namun masih terkendala pada lamanya proses penetasan telur.

“Dalam industri peternakan yang telah mapan, kegagalan penetasan telur berada di kisaran 10-20 persen. Bagi peternakan rakyat skala kecil atau UMKM, menjaga rasio tetas telur tersebut butuh upaya ekstra. Mereka kerap menetaskan ayam secara manual atau membuat tempat penetasan sederhana,” kata Dwi Ardiyanto, mewakili tim, Kamis (30/7/2026).

Karya teknologi di program ini merupakan tugas untuk mahasiswa semester 6, guna merancang dan mengembangkan solusi berbasis teknologi yang mampu menjawab kebutuhan di lapangan, khususnya dalam mendukung aktivitas usaha UMKM.

Smart Incubator dikembangkan dari kendala penetasan telur yang dialami Eni, seorang peternak ayam di Godean, Sleman. Selama 21 hari proses penetasan, telur harus dibalik 3-4 kali sehari agar embrio ayam tidak menempel pada cangkang. Proses membolak-balik telur inilah yang memerlukan perhatian lebih. Peternak kadang lupa atau capai untuk membalik telur.

Piranti tersebut mengatasi masalah itu, dengan melakukan proses membalik telur secara otomatis setiap 4 jam. Kemampuan ini juga belum tersedia pada sejumlah mesin penetas telur yang beredar di pasaran. 

Secara otomatis pula, perangkat ini juga mengontrol suhu dan kelembapan di kisaran 37,5 derajat Celcius. Melalui kinerja sensor, alat ini mengatur suhu tetap ideal untuk proses penetasan telur. Suhu yang terlalu panas atau dingin membuat embrio ayam mati atau cacat.

“Dengan kapasitas 36 butir telur, Smart Incubator juga tetap memberi sirkulasi udara secara merata dan menjaga kestabilan suhu,” imbuhnya.

Yang lebih praktis lagi, seluruh kinerja alat ini dapat dipantau melalui web sistem monitoring. Peternak tak perlu mengecek ke alat langsung. Dalam aspek keberlanjutan, Smart Incubator juga ramah lingkungan Dari segi kebutuhan energi, peranti ini hemat listrik dengan kebutuhan daya rata-rata 50 watt. Sebagian komponennya juga berasal dari bahan daur ulang.

Mahasiswa UNU Yogyakarta saat gelaran Informatics Studio 3.0.  (EDUWARA/IST.)

Dekan FTI UNU Yogyakarta, M Syamsiro, mengatakan beberapa inovasi mahasiswa telah memasuki tahap hilirisasi dengan dukungan PT Bank BTPN Syariah, sehingga siap diproduksi dan dimanfaatkan oleh mitra UMKM.  Adapun inovasi lainnya, terutama karya mahasiswa semester 2 dan 4, masih dalam tahap purwarupa dan akan terus disempurnakan.

Magang Industri

Sedangkan saat menjalankan magang di dunia industri, mahasiswa Prodi Studi Informatika angkatan 2023, yakni Miftahul Irfan AB, Ilham Mustaqim, Huda Muliya, Mahendra Dwi Putra, dan Rahmat Ivaldy terlibat langsung dalam pengembangan platform digital NusaGo dan The Kost, dua produk berbasis teknologi yang bergerak di bidang layanan perjalanan, mobilitas, dan hunian digital.

Dalam program magang tersebut, mereka mengembangkan NusaGo, sebuah aplikasi yang menyediakan layanan pemesanan hotel, sewa kost, rental kendaraan, hingga paket perjalanan dalam satu platform digital. Selain itu, mahasiswa juga berkontribusi mengembangkan The Kost, platform digital yang memudahkan masyarakat mencari dan memesan kost, homestay, rumah sewa, villa, maupun apartemen secara mudah dan aman.

Tidak hanya itu, mahasiswa juga mengembangkan fitur keamanan transaksi melalui sistem verifikasi identitas (KYC), mekanisme pencegahan pemesanan ganda, integrasi pembayaran digital menggunakan Midtrans Virtual Account, serta otomatisasi pembatalan transaksi menggunakan Node-Cron.

“Pengalaman tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun aplikasi yang aman, stabil, dan siap digunakan pengguna,” kata Miftahul Irfan, yang merupakan ketua tim.

Mereka juga membangun website resmi perusahaan sebagai media pemasaran dan informasi bagi calon mitra bisnis. Website tersebut dikembangkan menggunakan Next.js dan Tailwind CSS serta dilengkapi berbagai informasi perusahaan, kebijakan privasi, hingga formulir pendaftaran mitra.

Ketua Prodi Informatika UNU Jogja, Yana Hendriana, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam proyek industri menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran berbasis pengalaman (Project Based Learning dan experiential learning).

“Mahasiswa perlu dibiasakan menyelesaikan persoalan nyata agar mampu memahami standar kerja yang berlaku di dunia industri,” pungkasnya.