Kampus
26 Januari, 2026 01:24 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kini memiliki guru besar di bidang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), yaitu Slamet Riyadi, dosen Program Studi (Prodi) Teknologi Informasi, Fakultas Teknik (FT (UMY).
Saat menyampaikan pidato pengukuhan yang berjudul ‘Ekosistem Tekno-Sosio Kecerdasan Buatan Terapan untuk Kemaslahatan Umat’, Sabtu (24/1/2026), Slamet Riyadi menegaskan bahwa manusia tidak seharusnya menyerahkan sepenuhnya proses pengetahuan kepada mesin.
Dikatakan Slamet, perkembangan AI yang kian masif telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Namun, kemajuan teknologi tersebut tidak dapat dilepaskan dari arah, nilai, serta dampaknya terhadap kehidupan sosial dan kemanusiaan.
“AI bekerja melalui pola pengolahan data dan probabilitas. Namun manusia tidak boleh menyerahkan sepenuhnya proses pengetahuan kepada mesin. Akal, nurani, dan nilai tetap harus menjadi penuntun utama dalam pengambilan keputusan,” jelas Slamet, dilansir Minggu (25/1/2026).
Menurut Slamet, AI tidak pernah berdiri sendiri dan tidak bebas nilai. Di balik setiap algoritma terdapat pandangan filosofis tentang manusia, pengetahuan, dan tujuan hidup. Karenanya, pengembangan AI tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan mendasar tentang untuk siapa dan untuk apa teknologi tersebut diciptakan.
Martabat Manusia
Slamet menegaskan bahwa kemajuan AI seharusnya tidak hanya diukur dari tingkat kecanggihan sistem, melainkan dari sejauh mana teknologi tersebut mampu menjaga martabat manusia dan memberikan kebermaknaan bagi kehidupan.
Pemahaman AI yang semata-mata diletakkan sebagai sistem teknis, menurut Slamet, berisiko mengabaikan dimensi filosofis dan epistemologis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Padahal, kecerdasan buatan tidak hanya berkaitan dengan cara teknologi bekerja, tetapi juga dengan bagaimana pengetahuan diproduksi, digunakan, serta dipertanggungjawabkan secara moral.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY ini menawarkan pendekatan ekosistem tekno-sosio sebagai kerangka pengembangan kecerdasan buatan yang utuh dan bertanggung jawab. Pendekatan ini menempatkan AI sebagai bagian dari jejaring relasi antara teknologi, manusia, nilai, dan struktur sosial.
“Ekosistem tekno-sosio memandang kecerdasan buatan sebagai bagian dari sistem kehidupan sosial. Teknologi tidak boleh dilepaskan dari nilai, etika, dan tanggung jawab kemanusiaan, karena dampaknya selalu bersentuhan langsung dengan kehidupan umat,” tuturnya.
Dalam kerangka tersebut, lanjut Slamet, AI diposisikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. Sehingga akademisi, industri, pembuat kebijakan, dan masyarakat perlu terlibat secara aktif agar AI tidak berkembang secara eksklusif dan elitis.
Melalui konsep ini, Slamet melihat pengembangan AI dapat diarahkan pada tujuan kemaslahatan bersama dan mampu memberikan manfaat sosial, memperkuat nilai kemanusiaan, serta mendukung kehidupan masyarakat yang adil dan berkelanjutan.
Bagikan