Nayantaka Inisiasi Pelatihan Desa Adaptif AI untuk Pamong Kalurahan

17 Juli, 2026 18:30 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

17072026-Paguyuban lurah.jpg
Sebanyak 50 pamong kalurahan yang tergabung dalam Paguyuban Kalurahan DIY “Nayantaka” mengikuti pelatihan inovatif bertajuk ‘’Desa Adaptif Artificial Intelligence’’ (DESAI), Rabu-Kamis (15-16/7/2026). Pelatihan bertema ‘Among Desa: Digital Storytelling dan Artificial Intelligence untuk Mendukung Empat Pilar Keistimewaan DIY’, yang diinisiasi Nayantaka ini, melibatkan dua PTS, yaitu Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Ampta Yogyakarta. (EDUWARA/Dok. Nayantaka)

Eduwara.com, JOGJA - Paguyuban Kalurahan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Nayantaka, menginisiasi program pelatihan inovatif bertajuk ‘’Desa Adaptif Artificial Intelligence’’ (DESAI) dengan melibatkan dua perguruan tinggi swasta (PTS), yaitu Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Ampta Yogyakarta.

Program pelatihan ini merupakan langkah taktis sebagai jawaban atas urgensi digitalisasi kawasan pedesaan di DIY melalui penguatan kapasitas literasi teknologi bagi para pamong kalurahan.

Berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis (15-16/7/2026), pelatihan bertema ‘Among Desa: Digital Storytelling dan Artificial Intelligence untuk Mendukung Empat Pilar Keistimewaan DIY’, diikuti sekitar 50 pengelola dan pimpinan desa.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (PMK2PS) DIY, KPH Yudanegara, mengatakan pelatihan ini mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

“Para peserta yang kali ini mendapatkan pendampingan merupakan garda terdepan sekaligus poros penggerak pembangunan di tingkat akar rumput,” kata Yudanegara, dilansir Jumat (17/7/2026).

Yudanegara memaparkan, pada era keterbukaan informasi, kalurahan tidak boleh lagi sekadar menjadi objek pembangunan, melainkan harus bertransformasi menjadi subjek aktif yang mampu mengelola dan menarasikan potensinya sendiri. 

Penguasaan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dan teknik komunikasi digital diharapkan dapat meruntuhkan sekat birokrasi kaku, serta mempercepat proses digitalisasi administrasi dan promosi wilayah secara mandiri dan berkelanjutan.

Fokus utama dalam Program DESAI ini diarahkan untuk mendukung Empat Pilar Keistimewaan DIY, yang mencakup aspek kebudayaan, pertanahan, tata ruang, dan kelembagaan.

“Penyelarasan ini dinilai krusial agar gelombang digitalisasi dan pemanfaatan AI yang masif di pedesaan tidak mencerabut nilai-nilai luhur budaya setempat,” katanya.

Sebaliknya, lanjut Yudanegara, teknologi harus dimanfaatkan sebagai perisai digital sekaligus instrumen modern untuk mengamplifikasi corak tradisi, menjaga kearifan lokal Keistimewaan DIY, serta mendokumentasikan memori kolektif masyarakat desa agar tetap relevan dan dikenal luas oleh generasi muda global.

Diharapkan, melalui transformasi digital di tingkat kalurahan nantinya mampu mengoptimalkan pelayanan publik dan pemanfaatan potensi lokal. Para pamong kalurahan  maupun desa tidak gagap teknologi, melainkan mampu mengendalikan kecerdasan buatan ini untuk memperkuat tata kelola kelembagaan dan mendokumentasikan kekayaan budaya.

“Dengan literasi digital yang kuat, kemandirian kalurahan yang selaras dengan nilai-nilai Keistimewaan DIY dapat terwujud dengan lebih cepat dan terukur,” tegas KPH Yudanegara.

Kesadaran Baru

Ketua Pelaksana Program DESAI sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UAJY, Desideria Cempaka Wijaya Murti, mengatakan program DESAI bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran baru, bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence bukan untuk menggantikan manusia, melainkan memperkuat kapasitas pamong dalam melestarikan warisan tradisi. 

“Penggabungan antara digital storytelling dan AI adalah jembatan modern yang memfasilitasi kalurahan di DIY agar mampu menyuarakan ruh kebudayaan lokal secara kreatif, taktis, dan berdampak luas bagi publik luas,” jelasnya. 

Desi, sapaan akrab Desideria, memaparkan, selain penguatan aspek kebudayaan, integrasi kemampuan komunikasi digital ini memegang peran yang sangat vital dalam mengakselerasi branding sektor pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism) di DIY.

Dekan FISIP UAJY, Victoria Sundari Handoko, mengatakan pelatihan narasi ini penting dilakukan mengingat teknik penyampaian narasi yang kuat menjadi kunci pembeda di tengah ketatnya persaingan destinasi wisata global saat ini. Baginya, desa tidak lagi sekadar memasarkan fasilitas fisik, melainkan menjual pengalaman emosional yang autentik kepada para calon wisatawan melalui narasi-narasi kreatif di ruang digital. 

Kolaborator dan perwakilan STP Ampta Yogyakarta, Gilang Ahmad Fauzi, menegaskan kemampuan digital storytelling bagi pengelola desa saat ini menjadi pilar utama yang sangat krusial dalam mendukung strategi branding tourism setempat.

“Melalui narasi yang menyentuh dan terstruktur dengan baik, desa mampu menyajikan keunikan tradisi, nilai sejarah, serta eksotisme lokal sebagai sebuah pengalaman berharga yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Keunikan autentik inilah yang dicari oleh pasar pariwisata modern,” ungkapnya.

Salah satu peserta, Rizal Pangestu dari Desa Ngestirejo, Tanjungsari, Gunungkidul, menilai pelatihan ini sangat membantu meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan memberikan kemampuan baru untuk menyelesaikan pekerjaan di desa.