Pasca Bencana Aceh, PSE UGM Bantu PLTS Portable dan Huntara

22 Januari, 2026 02:24 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

22012026-UGM Huntara Aceh.jpg
Pasca bencana banjir, tim PSE UGM membantu pembangunan huntara untuk masyarakat terdampak bencana di wilayah Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Pembangunan 550 huntara ini berbasis pemanfaatan kayu hanyut dan diposisikan sebagai kebutuhan utama setelah fase darurat terlewati. (EDUWARA/Dok. UGM)

Eduwara.com, JOGJA - Belum adanya ketersediaan listrik sebagai kebutuhan mendesak untuk penerangan, komunikasi, dan layanan dasar masyarakat menjadi kepedulian tim Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada masyarakat terdampak bencana banjir di Bener Meriah dan Aceh Tengah. 

Seperti diketahui, pascabencana banjir, masyarakat Bener Meriah dan Aceh Tengah mengalami gangguan pasokan listrik. PSE UGM kemudian memberikan pendampingan dalam pemasangan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) portable berkapasitas 200 watt peak (WP).

Mewakili PSE UGM, Rachmawan Budiarto, mengatakan kehadiran listrik alternatif menopang layanan dasar ketika jaringan listrik utama belum berfungsi normal. Fase tanggap darurat diposisikan untuk menjaga daya tahan komunitas dalam situasi krisis.

“Penyaluran PLTS portable dilakukan di wilayah Pantan Kemuning, Timang Gajah, Simpur di Mesidah, Kabupaten Bener Meriah serta Takengon, Aceh Tengah,” kata Rachmawan Budiarto pada Selasa (20/1/2026).

PLTS portable yang disalurkan memiliki kapasitas 200 watt peak (WP) dan diberikan dalam tiga paket utama. Perangkat dirancang modular agar mudah dipasang dan dapat dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Rachmawan menambahkan tim PSE UGM melakukan pendampingan pemasangan serta pengoperasian di lapangan. Pendampingan bertujuan memastikan pemanfaatan listrik berjalan optimal dan aman.

“Dukungan energi surya membantu menjaga aktivitas masyarakat tetap berlangsung dalam kondisi darurat. Ini juga menjadi pondasi penting sebelum memasuki tahap pemulihan lanjutan. Pendekatan ini memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi kondisi pasca bencana,” katanya.

Huntara

Tak hanya itu, tim PSE UGM juga terus memperluas fase pemulihan hunian ke wilayah Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Usai membangun 100 unit hunian sementara (huntara), skala program dikembangkan hingga 550 huntara berbasis pemanfaatan kayu hanyut.

Peneliti Fakultas Teknik UGM, Ashar Saputra, menjelaskan saat ini, tim PSE UGM tengah membangun 330 huntara di Aceh Utara dan 120 unit lainnya di Aceh Tamiang.

“Pendekatan yang kami buat dirancang untuk menjawab kerusakan rumah warga yang berskala besar dan tersebar. Hunian diposisikan sebagai kebutuhan utama setelah fase darurat terlewati. Program menjadi bagian dari strategi pemulihan jangka menengah berbasis sumber daya lokal,” ujarnya.

Dari sisi desain, setiap hunian dirancang berukuran 6 x 6 meter dengan dua kamar tidur, satu ruang multifungsi, dan teras. Kebutuhan kayu diperkirakan sekitar 4 meter kubik untuk rumah tanpa lantai panggung dan 5 meter kubik untuk rumah dengan lantai panggung.

Material pendukung seperti atap galvalum serta paku, baut, dan mur disuplai dari luar lokasi. Pembangunan satu unit melibatkan enam orang, terdiri dari dua tukang utama dan empat warga pendamping.

“Dengan skema tersebut, satu unit ditargetkan selesai dalam empat hari, meski tahap awal masih memerlukan sekitar enam hari,” paparnya.

Untuk menjaga ritme pembangunan, dibentuk 15 kelompok tukang yang memungkinkan pembangunan rumah secara paralel. Skema kerja disusun agar proses berlangsung lebih cepat dan terorganisasi.

Hingga pertengahan Januari 2026, 18 rumah telah masuk tahap pembangunan, dan satu rumah telah selesai serta ditempati. Penentuan penerima hunian dilakukan melalui musyawarah warga dengan mempertimbangkan kelompok rentan. Pendekatan musyawarah memperkuat rasa keadilan dan kepemilikan komunitas terhadap proses pemulihan.