logo

Kampus

STIKES Bethesda Yakkum Luncurkan ‘Sekolah Stroke’

STIKES Bethesda Yakkum Luncurkan ‘Sekolah Stroke’
STIKES Bethesda Yakkum meluncurkan program “Sekolah Stroke”, sebuah inisiatif edukasi dan rehabilitasi bagi penyintas stroke yang diklaim sebagai program pertama di Indonesia. Mengusung tema Wujudkan Impian Raih Asa (WIRA), program ini dirancang tidak sekadar sebagai sarana edukasi, tetapi juga pendekatan edukatif-rehabilitatif yang komprehensif bagi para penyintas. (EDUWARA/Dok. STIKES Bethesda Yakkum)
Setyono, Kampus07 Maret, 2026 19:42 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bethesda Yakkum resmi meluncurkan program “Sekolah Stroke”. Ini merupakan sebuah inisiatif edukasi dan rehabilitasi bagi penyintas stroke yang diklaim sebagai program pertama di Indonesia. Program ini digagas bersama empat orang penyintas stroke dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien dan pendampingnya.

Ketua STIKES Bethesda Yakkum, Nurlia Ikanintyas, menjelaskan Sekolah Stroke mengusung tema Wujudkan Impian Raih Asa (WIRA). Program ini dirancang tidak sekadar sebagai sarana edukasi, tetapi juga pendekatan edukatif-rehabilitatif yang komprehensif bagi para penyintas.

“Kami mendesain kurikulum berbasis kolaborasi multidisipliner yang melibatkan perawat, fisioterapis, tenaga medis hingga caregiver. Tujuannya bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga kemandirian ekonomi dan penguatan relasi sosial penyintas,” kata Nurlia, Sabtu (7/3/2026).

Program ini secara khusus diperuntukkan bagi para penyintas stroke, keluarga, serta caregiver atau pendamping pasien agar mampu meningkatkan kualitas hidup dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.

Menurut Nurlia, peluncuran program tersebut mendapat sambutan antusias dari berbagai komunitas. Beberapa di antaranya seperti Rabu Ceria Bethesda, Happy Embung Tambakboyo, Stroker Bahagia, Persatuan Penyintas Stroke Indonesia (PPSI), hingga peserta dari kalangan non-komunitas.

Dalam penerapannya, Sekolah Stroke akan menggunakan beberapa metode pembelajaran dan rehabilitasi, seperti edukasi interaktif melalui diskusi dua arah mengenai penanganan stroke, evaluasi klinis dan fungsional untuk memantau kondisi fisik secara berkala, serta penerapan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) yang berfokus pada proses pemulihan melalui kegiatan bersama.

“Kami juga akan aktif memberikan pendampingan caregiver, yakni metode yang membekali para pendamping pasien dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam merawat penyintas stroke,” jelasnya.

Indikator Keberhasilan

Ketua Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) DIY, Akhmad Risaf Iskandar, memberikan apresiasi atas inisiatif STIKES Bethesda Yakkum tersebut. Ia menilai program ini sejalan dengan semangat gerakan melawan stroke yang selama ini digaungkan Yastroki.

“Ini adalah wujud nyata dari slogan Yastroki, yaitu Perang Semesta Melawan Stroke. Pendampingan total terhadap penyintas dan keluarga adalah kunci utama pemulihan,” tegas Akhmad.

Sementara itu, salah satu penggagas program dari kalangan penyintas, Budi Hartono, menekankan bahwa aspek mental memiliki peran penting dalam proses pemulihan pasien stroke.

Menurutnya, penyintas stroke perlu menjalani empat pilar rehabilitasi, yakni mental, fisik, rohani, dan ekonomi.

“Kita harus bisa menerima keadaan new normal ini agar harapan hidup muncul. Dengan menyadari ada kehidupan yang lebih baik di depan, kita akan semangat berlatih. Kuncinya adalah bersyukur tanpa libur,” paparnya.

Ia berharap langkah STIKES Bethesda Yakkum dapat menjadi pemantik bagi institusi pendidikan kesehatan, rumah sakit, serta Dinas Kesehatan di berbagai daerah untuk mengembangkan program serupa bagi para penyintas stroke.

Keberhasilan metode yang diterapkan dalam Sekolah Stroke nantinya akan diukur melalui beberapa indikator, seperti peningkatan pengetahuan penyintas dan caregiver, perbaikan atau stabilisasi status fungsional pasien, meningkatnya partisipasi dalam perawatan mandiri, serta membaiknya persepsi kualitas hidup para penyintas.

Antusiasme terhadap program ini bahkan datang dari luar daerah. Salah satu peserta, Ibu Albertina Talubun, rela datang dari Timika, Papua, untuk mengikuti kegiatan Sekolah Stroke yang diselenggarakan oleh STIKES Bethesda Yakkum tersebut.

Read Next