Vokasi
06 Agustus, 2026 20:40 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Di hadapan 1.945 mahasiswa baru Sekolah Vokasi (SV) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek), Stella Christie, mengatakan pemerintah berkomitmen memperkuat pendidikan vokasi melalui tiga pilar utama.
Langkah ini ditempuh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) karena melihat pendidikan vokasi telah memberikan bukti nyata tentang perannya di bidang industri sehingga menghasilkan dampak perekonomian besar kepada negara.
“Kami menyadari perekonomian negara tidak dapat maju tanpa vokasi yang kuat. Hari ini, industri dan pasar membutuhkan tenaga kerja terampil yang siap kerja dari pendidikan vokasi,” kata Stella saat hadir di sesi Talkshow Pionir Permadani di Grha Sabha Pramana UGM, Kamis (6/8/2026).
Karena pendidikan vokasi memiliki peran krusial dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia, Kemdiktisaintek akan memperkuat tiga pilar pendidikan vokasi yaitu industry match curriculum, industry match instructors, dan industry match infrastructure.
“Hal ini kita lakukan karena tingkat penyerapan tenaga kerja lulusan dari vokasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan akademik S1,” tegasnya.
Dipaparkan Stella, hasil tracer study yang dilakukan sejak 2021 hingga 2024 menyebutkan sekitar 77 persen tingkat penyerapan tenaga kerja lulusan vokasi, sementara lulusan pendidikan akademik hanya sebesar 72 persen.
Menurut Stella, pendidikan vokasi memiliki peran utama dalam merespons kebutuhan industri secara cepat dengan menghasilkan talenta terampil dan berkualitas. Jika tidak ada suplai tenaga kerja terampil, industri akan mati dan investor enggan berinvestasi.
“Perguruan tinggi vokasi paling utama perannya untuk merespon pasar kerja,” ungkapnya.
Kunci Masa Depan
Stella memberikan contoh pendidikan vokasi di Tiongkok, yaitu Shenzhen Polytechnic University yang bekerja sama erat dengan industri lokal yang telah mendunia seperti Huawei dan BYD. Pendapatan dari Greater Bay Area (Shenzhen, Hong Kong, Guangzhou) mencapai 2,15 triliun USD, lebih besar dari output ekonomi seluruh Indonesia yang berada di kisaran 1,55 triliun USD.
Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa begitu besarnya peran vokasi. Begitu banyaknya yang dihasilkan oleh sekolah vokasi di daerah Shenzhen, Guangzhou dan Hong Kong untuk industri sehingga menghasilkan perekonomian yang bahkan lebih besar dari yang ada di Hong Kong.
“Inilah mengapa saya sebut vokasi kunci masa depan Indonesia,” tegasnya.
Selain di negara Asia Timur, di negara Eropa seperti Swiss juga memiliki keunggulan pada pendidikan vokasi. Stella memaparkan di Swissi, lulusan sarjana terapan mampu menghasilkan gaji sebesar 102.114 Swiss Franc atau jika dirupiahkan akan mencapai Rp 2 miliar. Di Korea Selatan juga turut memperkuat pendidikan vokasi, karena menyadari perekonomian negara tidak dapat maju karena vokasi.
“Karena mereka tahu perekonomian mereka tidak akan bisa maju tanpa vokasinya yang kuat,” terangnya.
Saat ini, Kemdiktisaintek telah bekerja sama dengan LiuGong, perusahaan produsen alat berat multinasional Tiongkok. Bentuk dari kerja sama ini berupa pemberian beasiswa kepada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) untuk belajar dan magang selama 1 tahun di perusahaan alat berat Liugong, baik di Tiongkok maupun Indonesia.
Mantan Direktur Utama PT Semen Gresik, Muchammad Supriyadi, yang juga hadir berpesan kepada mahasiswa baru Sekolah Vokasi untuk berani mengambil tanggung jawab atas setiap keputusan dan risiko yang diambil, serta tidak melemparkan kesalahan kepada orang lain.
“Jagalah integritas, keyakinan, dan karakter UGM di mana pun berada agar dapat membawa nama almamater terbang lebih tinggi,” pungkasnya.
Bagikan