Kampus
03 Juni, 2026 22:53 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Sejak didirikan pada 2007, Pusat Layanan Difabel (PLD) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta telah menjadi rujukan dalam pengembangan pendidikan inklusif oleh berbagai perguruan tinggi. Dalam hal ini, PLD UIN Sunan Kalijaga menjadi ruang belajar serta pengembangan pusat layanan serupa guna memperkuat layanan pendidikan inklusif di lingkungan masing-masing.
Hal ini disampaikan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi, saat membuka Perayaan dan Penganugerahan Festival Difabel bertajuk ‘Here Together, Grow Forever’, yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-19 PLD UIN Sunan Kalijaga, Rabu (3/6/2026).
“PLD UIN Sunan Kalijaga telah lama menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan pendidikan inklusif di perguruan tinggi,” kata Noorhaidi.
Sejak 2007, sejumlah kampus mulai datang ke UIN Sunan Kalijaga untuk belajar dan mengembangkan pusat layanan serupa guna memperkuat layanan pendidikan inklusif di lingkungan masing-masing.
Menurut Noorhaidi, sejak berdirinya, PLD UIN Sunan Kalijaga terus bergerak melakukan inovasi. Salah satunya melalui Festival Difabel, yaitu sebuah ruang ekspresi yang menunjukkan bahwa bakat, karya, dan prestasi dapat tumbuh dari siapa saja.
Di atas panggung Festival Difabel, mahasiswa difabel menghadirkan berbagai pertunjukan yang menegaskan bahwa kondisi fisik bukan penghalang untuk bernyanyi, bermusik, menari, dan menampilkan potensi terbaik lainnya.
“Jangan pernah patah semangat, teruskan perjuangan kehidupan kalian. Kami mendukung sepenuhnya upaya kalian untuk menjadi sosok yang bisa memberikan sumbangaih penting bagi bangsa dan negara,” tuturnya.
UIN Sunan Kalijaga, seperti ditegaskan Noorhaidi, sejak awal telah membuka ruang bagi berbagai macam perbedaan. Semangat itu diwujudkan melalui pengembangan pendidikan yang terbuka, menghargai keberagaman, serta memberi tempat yang setara bagi seluruh warga kampus.
Merawat Semangat
Noorhaidi menambahkan setelah bertransformasi menjadi UIN Sunan Kalijaga, keberpihakan terhadap pendidikan inklusif ditunjukkan secara lebih nyata melalui pendirian PLD UIN Sunan Kalijaga. Kehadiran PLD UIN Sunan Kalijaga menjadi salah satu penanda penting bahwa kampus tidak hanya membangun keunggulan akademik, tetapi juga memastikan akses pendidikan yang berkeadilan bagi mahasiswa difabel.
Koordinator PLD LPPM UIN Sunan Kalijaga, Asep Jahidin, menegaskan konsep pendidikan inklusi bukan hadiah yang datang tiba-tiba, melainkan sebuah ekosistem yang harus terus dirawat, dibangun, dan dijaga agar tetap tumbuh dalam posisi terbaik
“Sebab, dalam perjalanannya, inklusi bisa bergerak naik dan turun. Kami menjadikan Festival Difabel ini menjadi salah satu ikhtiar untuk merawat semangat tersebut,” terangnya.
Panggung Festival Difabel menjadi ruang ekspresi yang memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk tampil, berkarya, dan mengambil peran. Hal itu terlihat melalui penampilan tari daerah oleh penyandang difabel, tilawah Al-Qur’an yang dilantunkan mahasiswa tunanetra, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne UIN Sunan Kalijaga yang dibawakan oleh Gita Divana, paduan suara di bawah naungan PLD UIN Sunan Kalijaga.
Gita Divana terdiri atas mahasiswa difabel dan relawan, dengan penampilan yang turut menghadirkan bahasa isyarat sebagai bagian dari ekspresi musikal yang inklusif.
Hastu, alumni difabel Tuli dari Program Studi Teknik Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, menceritakan bagaimana layanan inklusif di kampus membantunya menjalani perkuliahan. Kini, ia berkarier sebagai konten kreator sekaligus pegawai BUMN di Pertamina, Jakarta.
Sementara itu, Anes, penyandang tunanetra yang merupakan alumni Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, membagikan kisahnya selama menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga.
Berkat pendampingan PLD yang berjalan secara intensif, Anes mampu menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 5 bulan dan meraih IPK terbaik di program studi yang ditekuninya. Setelah lulus, Anes kini mengabdi sebagai aparatur sipil negara (ASN) dengan posisi sebagai Analis Perkara Peradilan di Pengadilan Agama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Melalui Festival Difabel, UIN Sunan Kalijaga menegaskan kembali bahwa inklusi bukan sekadar program pendampingan, melainkan budaya akademik yang harus terus dirawat. Mahasiswa difabel tidak ditempatkan sebagai objek layanan, tetapi sebagai subjek yang memiliki potensi, suara, karya, dan masa depan yang sama untuk tumbuh sebagai penerus kepemimpinan bangsa.
Bagikan