Tahun 2024, Lewat Empat Jalur Seleksi UGM Bakal Terima 10.372 Mahasiswa Baru

16 Januari, 2024 19:46 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

16012024-UGM Balairung.png
Gedung Pusat UGM (EDUWARA/Dok. UGM)

Eduwara.com, JOGJA – Lewat empat jalur seleksi penerimaan mahasiswa baru, regular maupun program internasional, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bakal menerima sebanyak 10.372 mahasiswa baru pada tahun ini. Jumlah ini dinilai mencerminkan komitmen UGM untuk menciptakan keragaman dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Dilansir pada Selasa (16/1/2024), Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran Wening Udasmoro menerangkan secara umum, UGM membuka dua jenis seleksi, yaitu seleksi nasional dan mandiri.

Seleksi nasional terdiri dari Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Sedangkan untuk seleksi mandiri terbagi menjadi program reguler dan International Undergraduate Program (IUP).

“Jadi, tahun ini yang reguler itu kuotanya 9.362 mahasiswa, yang akan diterima dari jalur SNBP dan SNBT masing-masing 2.821 mahasiswa, dan UM 3.720 mahasiswa. Kemudian, dari program IUP sebanyak 1.010 mahasiswa,” ungkap Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, Gandes Retno Rahayu.

Pada program reguler, jalur seleksi yang bisa diikuti adalah seleksi mandiri berdasarkan prestasi atau disebut Penelusuran Bibit Unggul (PBU) dan berbasis tes atau UM-Computer Based Test (CBT) UGM.

Gandes melanjutkan untuk seleksi melalui jalur UM UGM PBU, ada tiga kategori kriteria yang bisa ditempuh calon mahasiswa. Pertama, bibit unggul karena kompetensinya bagus tapi berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Kedua, karena memiliki prestasi yang unggul, baik dari prestasi bersifat IPTEK ataupun minat dan bakat.

“Selain itu, kita memberi kesempatan pada kandidat unggul yang berasal dari daerah yang perlu diafirmasi, seperti daerah 3T dan daerah di mana UGM memiliki mitra dalam menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Jalur seleksi ini khusus untuk mencari insan-insan berprestasi dari seluruh pelosok negeri,” terangnya.

Keberagaman

Selain jalur reguler, UGM juga membuka kelas internasional atau IUP dalam tiga gelombang. Proses seleksi IUP cukup berbeda dengan reguler, karena setiap fakultas memiliki materinya masing-masing. Calon mahasiswa tidak hanya akan diuji kemampuan bahasa Inggrisnya saja, namun juga kognitif, potensi akademik, menulis essay, dan Leadership Group Discussion.

Total terdapat 26 program studi dari 11 fakultas yang membuka kelas IUP. Saat ini, calon mahasiswa sudah dapat mulai mengikuti proses seleksi nasional, yaitu SNBP hingga Maret mendatang. Kemudian disusul dengan SNBT pada April, dan pelaksanaan UM UGM yang akan segera diinformasikan.

Tak hanya menjelaskan jalur penerimaan mahasiswa baru tahun ini, Gandes juga menampik isu SNBP tentang prioritas putra-putri daerah.

“Kita ingin mencapai keberagaman di UGM, sehingga tidak ada tujuan untuk (memprioritaskan) satu kota saja. Nantinya, nilai-nilai tersebut akan diolah sedemikian rupa kemudian dipotong sesuai kuota yang tersedia,” tegasnya.

Sedangkan secara hitung-hitungan prosentase, penerimaan mahasiswa baru UGM dari program reguler pada 2024, yaitu 30 persen akan diambil dari jalur SNBP, 30 persen dari jalur SNBT, dan 40 persen dari jalur UM (PBU dan CBT).

Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Wening Udasmoro menambahkan UGM juga menawarkan program studi tingkat sarjana dan vokasi dengan kriteria dan kuota tertentu. Sebagaimana pelaksanaan pada tahun sebelumnya, pemilihan program studi tidak bergantung sepenuhnya pada jurusan di sekolah asal masing-masing.

“Sehingga ini menunjukkan komitmen UGM menciptakan keragaman dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan itu akan menjadi lebih bermakna ketika kita memiliki subjek-subjek mahasiswa yang memiliki background budaya yang berbeda,” katanya.

Latar belakang ini, menurut, Wening, bukan hanya orang Jawa, Bali, Sumatera, dan sebagainya tetapi juga dari latar belakang budaya, agama, asal negara dan itu lebih penting untuk memperkaya kualitas pendidikan. Ini sebagai pembelajaran bagaimana mahasiswa UGM bisa berinteraksi dengan masyarakat dari latar belakang berbeda.

Menurut Wening, keberagaman akan mendorong proses belajar yang lebih komprehensif dan tidak terbatas pada ilmu pengetahuan saja, namun juga ilmu sosial dan budaya masyarakat.