Taxleton, Model Pembelajaran Hasil Inovasi Mahasiswa Biologi UKDW

31 Agustus, 2023 22:31 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

31082023-UKDW tim taxleton.JPG
Tim mahasiswa Program Studi (Prodi) Biologi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta Tim yang terdiri dari Miranda Gardha Viorenta, Febirianti Anyuani, Gracia Rolas Sinambela, dan Yoel Vico, berhasil mendapatkan hibah Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Proposal yang diajukan berjudul ‘Inovasi Produk Taxleton sebagai Model Pembelajaran yang Bernilai Ekonomis’. (EDUWARA/Dok. UKDW)

Eduwara.com, JOGJA -- Tim mahasiswa Program Studi (Prodi) Biologi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta berhasil mendapatkan hibah Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Tim yang terdiri dari Miranda Gardha Viorenta, Febirianti Anyuani, Gracia Rolas Sinambela, dan Yoel Vico, mengajukan proposal berjudul ‘Inovasi Produk Taxleton sebagai Model Pembelajaran yang Bernilai Ekonomis’. Proposal ini diajukan beberapa waktu yang lalu.

Miranda Gardha selaku ketua kelompok menyampaikan produk taksidermi dan rangkai skeleton dijadikan pilihan sebagai media pembelajaran yang efektif, mengingat pembelajaran morfologi dan anatomi hewan tidak bisa hanya dilakukan berdasarkan buku teks yang diacu. 

Selain berfungsi sebagai alat peraga terkait kegiatan akademik, hasil taksidermi dan rangkai skeleton juga potensial dikembangkan sebagai bahan kewirausahaan yang mempunyai nilai jual.

“Kami melihat Taxleton bisa menjadi inovasi yang menarik untuk mengajarkan konsep biologi, morfologi dan anatomi. Melalui spesimen taksidermi, siswa dapat memahami keanekaragaman hewan dengan pengamatan langsung, sementara rangkai skeleton membantu mereka memahami struktur dan fungsi sistem musculoskeletal,” tutur Miranda dalam rilis Kamis (31/8/2023). 

Dengan demikian, lanjut Miranda, produk taksidermi dan rangkai skeleton tidak hanya meningkatkan minat siswa dalam ilmu pengetahuan alam, tetapi juga akan membawa pengalaman pembelajaran yang praktis, memadukan seni dan sains secara menarik.

Keseimbangan Ekosistem

Miranda juga menjelaskan jika ide produk Taxleton muncul dari mata kuliah Mikroteknik yang fokus pada teknik preservasi biota, baik hewan atau tumbuhan. Inovasi tersebut juga dirancang untuk mendukung pendidikan yang berkualitas (tujuan ke-4 SDGs) serta industri, inovasi, dan infrastruktur (tujuan ke-9 SDGs). 

“Dengan bimbingan dari dosen kami, Kukuh Madyaningrana, proposal yang kami ajukan bisa mendapatkan hibah P2MW. Kami berharap agar bisnis ini dapat berkembang dan terus berkelanjutan serta dapat dikenal secara luas oleh masyarakat tidak hanya oleh pecinta hewan, kolektor maupun lembaga pendidikan namun bisa menjangkau seluruh masyarakat secara luas,” terangnya.

Miranda menambahkan Taxleton menggunakan bahan dari hewan yang sudah mati atau jasad hewan sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem. 

“Kami berusaha menghasilkan rangkaian skeleton yang akurat, sehingga dapat memberikan sumber daya edukatif yang berharga bagi sekolah, museum, dan para pecinta sains alam. Kami juga berharap Taxleton bisa menjadi usaha yang memiliki kualitas seni dan ilmu pengetahuan yang tinggi, memberi kontribusi terhadap edukasi dan konservasi, serta pertumbuhan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih cerah,” pungkasnya. (*)