Kampus
24 Juni, 2026 22:25 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Berhasil mendapatkan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) resmi menghadirkan program Living Lab di kawasan Sungai Gajah Wong, Kota Yogyakarta.
Bertajuk ‘Bestari Saintek’, Living Lab UAJY didirikan di Taman Gajah Wong, Muja-Muju, Kota Yogyakarta. Program ini bertujuan mengintegrasikan riset ilmiah dengan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga kualitas lingkungan sungai dan mengatasi persoalan sampah.
Dekan Fakultas Teknobiologi UAJY, Ines Septi Arsiningtyas, mengatakan program tersebut merupakan wujud tanggung jawab perguruan tinggi dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, media, dan komunitas.
“Kolaborasi sangat dibutuhkan agar tujuan baik ini dapat tercapai. Kami ingin hasil riset tidak hanya berhenti di kampus, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.
Ines menjelaskan program Living Lab Sungai Jogja menjadi salah satu dari sekitar 120 proposal yang lolos pendanaan nasional dari ribuan proposal yang diajukan. Keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya program dalam menjawab berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Ketua Tim Riset sekaligus dosen Fakultas Teknobiologi UAJY, Monika Ruwaimana, menjelaskan penelitian yang dilakukan menggabungkan pendekatan biologi dan sosial masyarakat. Tim peneliti akan mengkaji kualitas air sungai, dampaknya terhadap organisme perairan, dan keamanan ikan yang dikonsumsi masyarakat.
“Kami akan meneliti apakah ikan di sungai tercemar logam berat atau mikroplastik. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta untuk melihat kondisi kualitas air dan dampaknya terhadap ekosistem sungai,” katanya.
Solusi Nyata
Monika menambahkan pengambilan data lapangan rencananya akan dimulai pada Juli 2026. Selain itu, pihaknya juga menggagas pengolahan sampah organik berbasis masyarakat dengan vermikomposting menggunakan cacing dan pemanfaatan biowash berbasis bakteri asam laktat untuk mempercepat proses pengolahan sampah organik.
Menurut Monika, hasil uji coba pengolahan sampah yang dilakukan bank sampah di Muja-Muju telah menunjukkan metode tersebut mampu mempercepat proses pengomposan sekaligus mengurangi bau.
“Sekitar 60 persen sampah rumah tangga sebenarnya merupakan sampah organik. Jika dapat dikelola sendiri menjadi kompos, beban tempat pembuangan akhir akan berkurang sangat signifikan,” jelasnya.
Dosen Ilmu Komunikasi UAJY yang bergabung dalam tim riset, Ninik Sri Rejeki, menuturkan program ini menggunakan pendekatan komunikasi pembangunan berkelanjutan agar hasil penelitian dapat dipahami dan dimanfaatkan masyarakat. Menurutnya, Living Lab Sungai Jogja mengusung model kolaborasi quadruple helix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan warga setempat.
“Kami ingin temuan-temuan ilmiah tidak berhenti di menara gading, tetapi benar-benar dikomunikasikan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Kota Yogyakarta, Wirawan Hario Yudho, mengapresiasi inisiatif UAJY yang dinilai mampu membumikan gagasan akademik menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Ia menyoroti persoalan sampah plastik yang terus meningkat dan mendorong adanya kajian lebih lanjut terkait tanggung jawab produsen terhadap limbah kemasan yang beredar di masyarakat.
“Kampus harus berada di depan dalam menyuarakan solusi lingkungan. Ide-ide yang lahir dari kampus tidak boleh hanya melayang di udara, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” katanya.
Saat ini, Kelurahan Muja-Muju memiliki 21 bank sampah yang tersebar di setiap Rukun Warga (RW). Lebih dari 1.000 lubang olah sampah organik (losida) telah diterapkan di wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya mengurangi volume sampah yang masuk ke depo dan TPA.
Menurut Wirawan, sungai perlu dilihat tidak hanya dari fungsi ekologis, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi. Program ini diharapkan mampu menghasilkan berbagai inovasi, termasuk peluang green jobs berbasis lingkungan yang dapat dikembangkan masyarakat.
Bagikan