logo

Kampus

Gelar SIE Expo 2026, UMY Dorong Hilirisasi Hasil Riset

Gelar SIE Expo 2026, UMY Dorong Hilirisasi Hasil Riset
Rektor UMY Achmad Nurmandi didampingi Direktur DIH UMY Novi Caroko membuka gelaran SIE Expo 2026, di Gedung Dasron Hamid RIC UMY, Selasa (23//6/2026). Mengusung tema “Integrating Innovation, Science, and Entrepreneurship for a Sustainable Future”, kegiatan yang berlangsung pada Selasa-Rabu (23-24/6/2026) ini menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, industri, pelaku usaha, investor, dan masyarakat. (EDUWARA/Dok. UMY)
Setyono, Kampus23 Juni, 2026 21:38 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus memperkuat perannya sebagai kampus inovatif yang mendorong hilirisasi hasil riset melalui penyelenggaraan Science, Innovation & Entrepreneurship Expo (SIE Expo) 2026.

Mengusung tema “Integrating Innovation, Science, and Entrepreneurship for a Sustainable Future”, kegiatan yang berlangsung pada Selasa-Rabu (23-24/6/2026) di Gedung Dasron Hamid Research and Innovation Center (RIC) UMY ini menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, industri, pelaku usaha, investor, dan masyarakat.

Direktur Direktorat Inovasi dan Hilirisasi (DIH) UMY, Novi Caroko, menjelaskan SIE Expo 2026 merupakan expo inovasi pertama yang diselenggarakan sejak berdirinya DIH UMY. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mempertemukan hasil riset dan inovasi dosen maupun mahasiswa dengan kebutuhan nyata dunia usaha dan industri.

“Ini merupakan kegiatan pertama Direktorat Inovasi dan Hilirisasi. Kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri agar hasil-hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat,” kata Novi, Selasa (23/6/2026).

Menurut Novi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki potensi besar sebagai ekosistem inovasi. Berdasarkan data yang dihimpun DIH UMY, terdapat lebih dari 340 ribu UMKM, 617 industri besar dan menengah, serta 132 perguruan tinggi di DIY. Namun, hingga kini masih terdapat kesenjangan antara hasil penelitian kampus dan kebutuhan dunia usaha.

“Kami melihat ada gap antara produk penelitian dan inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Padahal, jika keduanya dapat berkolaborasi, akan tercipta nilai tambah yang besar bagi perkembangan ekonomi dan inovasi di Yogyakarta,” jelasnya.

Melalui SIE Expo, UMY menghadirkan ruang diskusi dan business matching yang mempertemukan peneliti dengan pelaku usaha. Harapannya, berbagai inovasi yang dihasilkan kampus dapat menemukan pasar yang tepat sekaligus menjawab kebutuhan industri secara nyata.

“Dalam dunia bisnis ada istilah product-market fit. Kami ingin membantu mempertemukan inovator dan pelaku usaha agar produk hasil penelitian benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar,” tambahnya.

Beragam agenda diselenggarakan dalam expo ini, mulai dari pameran produk inovasi, talkshow inovasi dan kewirausahaan, diseminasi hasil riset, business matching, penguatan UMKM, kompetisi inovasi siswa melalui Secondary School Innovation Competition (SINCO), konsultasi kekayaan intelektual dan perjanjian usaha, hingga demonstrasi produk inovasi karya sivitas akademika UMY.

Sebanyak 136 produk inovasi dari berbagai bidang dipamerkan dalam expo ini, ditambah 19 produk dari mitra dunia usaha dan dunia industri. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah seiring hadirnya peserta dan tenant yang belum melakukan registrasi sebelumnya.

Komunikasi dan Kolaborasi

Rektor UMY, Achmad Nurmandi, menegaskan komunikasi dan kolaborasi antara peneliti dan dunia usaha merupakan kunci agar hasil riset kampus dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Forum seperti ini sangat penting agar hasil penelitian dosen tidak hanya menjadi laporan akademik, tetapi dapat dimanfaatkan secara langsung dan bahkan dikomersialisasikan untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ungkapnya.

Nurmandi mencontohkan sejumlah inovasi yang berhasil diterapkan di lingkungan UMY maupun sektor kesehatan. Salah satunya adalah sistem pengelolaan sampah mandiri yang dikembangkan melalui teknologi hasil inovasi kampus.

“Saat ini, UMY mampu menyelesaikan persoalan sampah secara mandiri dengan inovasi yang kami kembangkan sendiri, mulai dari alat pres sampah, insinerator ramah lingkungan, hingga sistem pemilahan sampah yang terintegrasi,” jelasnya.

Selain itu, berbagai hasil penelitian bidang kesehatan dan kedokteran juga mulai dimanfaatkan secara nyata, termasuk material kedokteran gigi yang telah digunakan oleh Rumah Sakit Gigi dan Mulut UMY. Menurutnya, produk-produk tersebut memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus menekan biaya layanan kesehatan.

Dalam kesempatan tersebut, Nurmandi juga memperkenalkan 18 laboratorium bersertifikasi yang dimiliki UMY dan telah melayani berbagai kebutuhan pengujian dari masyarakat, dunia usaha, hingga instansi pemerintah.

“Laboratorium kami melayani berbagai kebutuhan pengujian di bidang sipil, teknik, farmasi, dan sektor lainnya. Seluruh layanan tersebut telah tersertifikasi sehingga dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat maupun industri,” katanya.

Melalui penyelenggaraan SIE Expo 2026, UMY berharap dapat memperkuat ekosistem inovasi yang menghubungkan dunia akademik, industri, dan kewirausahaan. Dengan kolaborasi tersebut, hasil penelitian tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menciptakan solusi, peluang bisnis, dan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Read Next