UGM dan CBM-B3T Inisiasi Riset Biomaritim di Daerah 3T

03 Maret, 2026 06:59 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

03022026-UGM CBM.jpg
Fakultas Biologi UGM bekerja sama dengan CBM-B3T menginisiasi riset biomaritim di daerah 3T. Riset ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat pesisir sekaligus menggali potensi laut Indonesia yang belum terpetakan. (EDUWARA/Dok. UGM)

Eduwara.com, JOGJA - Bekerja sama dengan Center for Biomaritime Studies in Border Area and 3T Region (CBM-B3T), Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menginisiasi riset biomaritim di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Riset ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat pesisir sekaligus menggali potensi laut Indonesia yang belum terpetakan.

Dekan Fakultas Biologi UGM, Budi S Daryono, menjelaskan inisiatif ini memiliki nilai strategis bagi masa depan Indonesia. Menurutnya, meskipun dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, fokus riset nasional selama ini masih terlalu condong ke daratan.

"Masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa dalam memahami dan mengelola potensi kelautan secara berkelanjutan. Ini upaya kami untuk ikut memperkuat menjaga kedaulatan hayati di wilayah perbatasan," ujar Budi, Senin (2/3/2026).

Budi mengungkapkan tantangan besar dalam riset kelautan saat ini, di mana pendataan sumber daya hayati laut Indonesia diperkirakan baru mencapai 20-25 persen, adalah masih banyak misteri yang tersimpan, terutama di wilayah laut tengah dan laut dalam.

Riset kolaboratif ini nantinya tidak hanya sekadar inventarisasi spesies avertebrata dan vertebrata, tetapi juga mengarah pada bioprospeksi dan pengembangan teknologi budidaya. Hal ini krusial untuk mencegah fenomena overfishing.

"Kita ambil contoh tuna sirip biru yang hingga kini masih mengandalkan penangkapan. Sebelum habis, kita harus meneliti bagaimana cara membudidayakannya agar tidak punah," tegasnya.

Inklusif

Budi juga memberikan peringatan keras terhadap eksploitasi ekonomi jangka pendek, seperti penambangan pasir laut yang dapat merusak ekosistem bagi generasi mendatang.

Inisiatif ini mengedepankan pendekatan inklusif dengan melibatkan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) di Kepulauan Riau serta komunitas nelayan setempat. UGM akan memberikan dukungan penuh melalui kepakaran di bidang biomaterial serta pemanfaatan fasilitas Pantai Porok Biomarine Research Station di Gunungkidul.

Ketua CBM-B3T, Agus Salim, menambahkan kunci keberhasilan pengelolaan sumber daya di perbatasan adalah integrasi sains dengan kearifan lokal. Ia mencontohkan bagaimana nelayan tradisional zaman dahulu memiliki prinsip keseimbangan dengan melepaskan kembali ikan yang sedang bertelur.

"Hal-hal kecil di sekitar kita bisa menjadi pusat riset yang luar biasa. Saat ini, kami sedang menyusun proposal riset kolaboratif yang mencakup pengembangan biodiversitas perairan hingga pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat pesisir," katanya.

Melalui langkah ini, Fakultas Biologi UGM dan CBM-B3T berharap sektor maritim menjadi prioritas nasional, meniru kesuksesan negara-negara Eropa Utara yang berhasil meraih kemakmuran melalui pengelolaan laut yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.